Embung di Kabupaten Blora yang mulai mengering(MI/Akhmad Safuan)
Dampak kemarau panjang di Jawa Tengah kini mulai memasuki fase mengkhawatirkan. Fenomena alam ini tidak hanya mengancam ribuan hektare lahan pertanian, tetapi juga menyebabkan puluhan bendungan dan embung di berbagai daerah mengering. Kondisi kritis ini memaksa warga di beberapa wilayah menyaring air sungai demi memenuhi kebutuhan konsumsi harian.
Berdasarkan pemantauan pada Rabu (5/8), kekeringan ini telah mengakibatkan ratusan ribu jiwa di Jawa Tengah kesulitan mendapatkan akses air bersih. Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak, di mana ribuan hektare sawah terancam tidak dapat ditanami, bahkan banyak yang berada di ambang gagal panen (puso).
Petani Terbebani Biaya Operasional Tinggi
Menyusutnya sumber air dari sungai, irigasi, hingga bendungan membuat para petani harus bekerja ekstra keras. Makruf (60), seorang petani di Kangkung, Kendal, mengaku harus menambah modal usaha hingga jutaan rupiah untuk membuat sumur bor dan mengoperasikan mesin pompa air.
"Kami terpaksa menambah modal untuk menyirami tanaman agar tetap hidup," ujarnya. Hal senada disampaikan Sanusi, petani di Toroh, Grobogan. Ia merasa ironis karena meski wilayahnya dekat dengan Waduk Kedungombo, krisis air tetap terjadi akibat saluran irigasi yang mengering.
Krisis Air Bersih di Kota Semarang
Di wilayah perkotaan seperti Jabungan, Banyumanik, Kota Semarang, warga kini hanya mengandalkan bantuan air bersih. Patmi, salah seorang warga, mengungkapkan bahwa sumur dan mata air di lingkungannya telah kering total. "Jika tidak ada bantuan, kami terpaksa menyaring air sungai untuk konsumsi," tuturnya.
Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Shofiah, mencatat sebanyak 2.134 hektare lahan persawahan di wilayahnya dalam kondisi kritis. Pihaknya kini berupaya mengoptimalkan sumber air yang tersisa untuk menyelamatkan tanaman pangan dari ancaman puso.
Sementara itu, di Kabupaten Kendal, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Pandu Rapriat Rogojati menyebut ada sekitar 200 hektare sawah yang berpotensi terdampak. Sesuai instruksi Dirjen Kementan, pihaknya tengah melakukan inventarisasi kebutuhan pompa air dan perpipaan untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian.
Kondisi Kritis Embung di Blora
Kabupaten Blora menjadi salah satu daerah terdampak paling parah. Sekitar 50 persen dari total 78 embung di daerah tersebut dilaporkan telah mengering. Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Blora, Surat, menyatakan bahwa penurunan volume air ini terjadi menjelang puncak kemarau yang diprediksi BMKG jatuh pada Agustus ini.
Upaya Penanganan:
- Prioritas penggunaan sisa air embung untuk menjaga kestabilan konstruksi.
- Koordinasi dengan BBWS Pemali Juana untuk pengerukan sedimentasi pada embung yang mengering.
- Optimalisasi bantuan air bersih untuk konsumsi warga.
Surat menambahkan, embung yang sudah kering kini hanya bisa bergantung pada curah hujan. Selain faktor cuaca, pendangkalan akibat sedimentasi yang tinggi memperburuk kondisi embung, sehingga diperlukan penanganan serius melalui pengerukan oleh pihak terkait.

















































