Kemarau, Penurunan Muka Air Waduk Jatiluhur masih Terkendali

11 hours ago 1
Kemarau, Penurunan Muka Air Waduk Jatiluhur masih Terkendali Kondisi Waduk Jatiluhur wilayah Ubrug yang mulai menyusut akibat kekeringan(MI/REZA SUNARYA)

MENGANTISIPASI dampak musim kemarau Tahun 2026, Perum Jasa Tirta II (PJT II) terus memperkuat pengelolaan sumber daya air melalui berbagai langkah strategis yang terintegrasi bersama para pemangku kepentingan.

Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga keandalan pasokan air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum sehingga kebutuhan masyarakat, irigasi, industri, pembangkit listrik, serta sektor strategis lainnya tetap dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta II, Imam Santoso, mengatakan pengelolaan sumber daya air terus dilakukan secara adaptif bersama berbagai pemangku kepentingan agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi.

Di sisi lain, penurunan muka air Waduk Jatiluhur masih berada dalam kondisi yang terkendali meski musim kemarau masih berlangsung.

“Menghadapi musim kemarau diperlukan pengelolaan sumber daya air yang adaptif dan terintegrasi. Melalui sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, kami berupaya memastikan ketersediaan air di DAS Citarum tetap terjaga sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, irigasi, industri, serta berbagai sektor strategis lainnya,” ungkapnya, Rabu (5/8).

Berdasarkan data PJT II, tinggi muka air Waduk Jatiluhur yang mencapai elevasi +106,79 meter di atas permukaan laut (mdpl) pada 8 Juni 2026, turun menjadi +99,37 mdpl per 5 Agustus 2026. Dalam kurun waktu 58 hari, permukaan air mengalami penurunan sekitar 7,42 meter.

Meski mengalami penurunan, volume efektif waduk masih mencapai 857,10 juta meter kubik. PJT II memperkirakan ketersediaan air hingga akhir Desember 2026 masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat melalui pengelolaan operasi waduk yang optimal.


MODIFIKASI CUACA


Untuk memperkuat cadangan air selama musim kemarau, PJT II bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, PT PLN Indonesia Power UBP Saguling, serta PT PLN Nusantara Power UP Cirata melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 30 Juli 2026.

Sementara itu, Direktur Operasi dan Pemeliharaan PJT II, Anton Mardiyono, mengatakan operasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan debit air yang masuk ke Waduk Kaskade Citarum sehingga volume tampungan tetap terjaga.

“Melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca, kami berharap inflow ke Waduk Kaskade Citarum dapat terus meningkat sehingga volume tampungan air tetap terjaga. Dengan demikian, pola operasi waduk dapat berjalan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, irigasi, industri, sekaligus mendukung ketahanan air, pangan, dan energi nasional selama musim kemarau,” tandasnya.

Selain itu, PJT II juga menerapkan sistem gilir-giring, yakni distribusi air secara bergilir berdasarkan Rencana Tata Tanam Global (RTTG), agar pasokan air irigasi tetap tersalurkan secara merata pada saat debit air terbatas.

“Musim kemarau menuntut pengelolaan air yang semakin cermat. Melalui penerapan sistem gilir-giring dan pengaturan penyaluran berdasarkan Rencana Tata Tanam Global, kami berupaya memastikan air tetap terdistribusi secara efektif dan adil sehingga kebutuhan pertanian maupun sektor lainnya dapat terus terpenuhi,” ujar Anton.

Di samping itu, PJT II juga melakukan penguatan tanggul, perbaikan titik rawan kebocoran, serta pembenahan bangunan air sebagai bagian dari mitigasi dampak musim kemarau agar distribusi air tetap berjalan optimal.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |