ASEAN-ID Roadshow hadir di Unpad.(Dok. Kemenlu)
KEMENTERIAN Luar Negeri (Kemenlu) menggelar ASEAN-ID Roadshow di Bandung, Jawa Barat, Jumat (31/7), untuk mempromosikan praktik ketahanan bencana berbasis komunitas sekaligus memperkuat peran pemuda dalam membangun ketahanan kawasan ASEAN.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian ASEAN-ID Resilience yang diselenggarakan di sela Pertemuan Komite Penanggulangan Bencana ASEAN (ASEAN Committee on Disaster Management/ACDM) ke-48. Program tersebut menjadi tindak lanjut prakarsa Indonesia saat menjabat Keketuaan ASEAN 2023 yang menempatkan komunitas lokal dan generasi muda sebagai ujung tombak menghadapi perubahan iklim dan risiko bencana.
ASEAN-ID Roadshow dibagi menjadi tiga kegiatan utama. Pertama, ASEAN Goes to Campus di Universitas Padjadjaran (Unpad) yang membahas peran strategis pemuda dalam membangun ketahanan kawasan. Kedua, kunjungan ke Desa Lebak Muncang, Ciwidey, untuk memperkenalkan praktik pemberdayaan masyarakat dan ketahanan berbasis desa kepada para delegasi asing. Ketiga, kunjungan budaya ke Rumah Angklung Jawa Barat sebagai sarana memperkenalkan budaya lokal dan ekonomi kreatif sebagai bagian dari ketahanan masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Perutusan Tetap Negara Anggota ASEAN, negara mitra, kedutaan besar negara sahabat, pelajar SMA, serta mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Bandung dan sekitarnya.
Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Kemenlu, Yuliana Bahar, mengatakan pembangunan ketahanan kawasan harus melibatkan generasi muda, bukan hanya menjadi agenda para pemimpin di tingkat tinggi.
"ASEAN tidak boleh hanya berhenti pada keputusan atau pertemuan para pemimpin di tingkat atas, melainkan harus dimulai dari kalian, para pemuda," kata Yuliana saat berdialog dengan mahasiswa.
Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, menyoroti pentingnya suara generasi muda dalam memperjuangkan keadilan iklim global. Menurut dia, Indonesia dan Pakistan memang menyumbang kurang dari 1% emisi gas rumah kaca dunia, namun keduanya termasuk negara yang paling rentan terdampak perubahan iklim.
"Oleh karena itu, kita memiliki hak untuk bersuara lebih lantang demi pelestarian iklim dan kalian, para pemimpin masa depan, harus berani menyuarakan hal ini," ujarnya.
DARI TINGKAT MASYARAKAT
Sementara itu, Wakil Kepala Perwakilan Jepang untuk ASEAN, Yoshiyasu Iseki, menegaskan bahwa ketahanan kawasan harus dibangun dari tingkat masyarakat melalui kolaborasi berbagai pihak.
"Ketahanan sejatinya berawal dari masyarakat. Tantangan kawasan membutuhkan kemitraan dan kerja sama regional yang inklusif serta aksi nyata dari para pemuda yang akan membentuk fondasi masa depan kawasan ini," katanya.
Kemenlu menyatakan pelaksanaan ASEAN-ID Roadshow yang berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Universitas Padjadjaran menjadi bagian dari diplomasi ketahanan Indonesia yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat lokal.
Melalui pendekatan tersebut, Indonesia mendorong implementasi konsep ketahanan kawasan secara nyata dengan menjadikan desa dan generasi muda sebagai penggerak utama dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana dan dampak perubahan iklim di kawasan ASEAN. (E-2)

















































