Fire blanket atau selimut api, perlengkapan untuk menangani kebakaran pada tahap awal, terutama pada sumber api seperti kompor rumah tangga hingga kendaraan, sesuai ukurannya. Terbuat dari serat fiberglass yang tahan api, cara kerjanya mirip karung goni at(MI/Iis Zatnika)
Kabar dan foto Azka Corbuzier yang membantu memadamkan sepeda motor milik pengemudi ojol di depan restoran yang dikelolanya menjadi perhatian di media sosial pada akhir Agustus lalu. Azka, figur publik yang dikenal dengan konten olahraganya itu, cekatan memberikan pertolongan pertama menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) untuk membantu memadamkan api.
Perhatian terhadap insiden yang dialami Azka itu seakan menjadi bagian dari kabar kebakaran yang susul-menyusul merebut perhatian publik, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada lebih dari 10 juta orang di sejumlah provinsi, dari Sumatra sampai Kalimantan.
Namun, insiden kebakaran juga terjadi di lingkup domestik. Data Nasional Pemadam Kebakaran Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri pada 2024 menyebutkan, terjadi 20.427 kasus kebakaran di seluruh Indonesia. Data itu juga menampilkan tantangan lain, yaitu keterbatasan jumlah personel damkar yang hanya mencapai 50.417 orang.
Jadi, mari lebih awas terhadap risiko kebakaran di sekitar kita dengan menyiapkan langkah pencegahan dan peranti penanganan ketika insiden terjadi, sehingga dapat cepat ditangani dan tidak menimbulkan dampak yang luas.
Ternyata, selain APAR yang identik dengan biaya dan upaya ekstra karena harus dicek kedaluwarsanya serta dipelajari teknik penggunaannya, ada pula alat yang disarankan tersedia di rumah, terutama di dapur, bahkan juga untuk kendaraan listrik.
Peranti itu bernama fire blanket atau selimut api, perlengkapan untuk menangani kebakaran pada tahap awal, terutama pada sumber api seperti kompor rumah tangga hingga kendaraan, sesuai ukurannya. Terbuat dari serat fiberglass yang tahan api, cara kerjanya mirip karung goni atau kain tebal yang biasa digunakan dalam simulasi kebakaran dan dibasahi terlebih dahulu sebelum ditempatkan di sumber api. Perangkat tersebut bekerja dengan menutup sumber api sehingga suplai oksigen terhenti dan api dapat padam.
“Karena api membutuhkan oksigen untuk menyala, sehingga ketika ditutup dengan kain, oksigennya tidak ada, api pun akan padam,” kata Sales & Marketing Director PT Wahana Safety Indonesia Fransiscus B. Hermanto ketika ditemui dalam GIFA Indonesia, pameran industri logam yang menjadi bagian dari Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series–Engineering Week 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta, Rabu (9/9).
Fransiscus mengatakan, fire blanket memiliki fungsi yang berbeda dengan alat pemadam api ringan (APAR), tetapi keduanya dapat digunakan secara saling melengkapi.
Menurut dia, fire blanket relatif praktis digunakan untuk menangani api kecil, termasuk api pada kompor dengan satu atau dua tungku. Pengguna cukup menutup sumber api dengan fire blanket dan membiarkannya hingga api benar-benar padam. Namun, pihaknya juga sedang dalam proses menyediakan produk untuk mobil listrik sebagai pertolongan pertama jika kendaraan mengalami percikan api.
“Karena prinsipnya harus menutup agar oksigen tidak masuk, maka harus menutupi objeknya. Ukuran untuk kendaraan listrik harus sesuai dengan besaran mobilnya, minimal 6 x 8 meter. Yang saat ini kami sediakan untuk keperluan rumah tangga dan industri, di antaranya 1,2 x 1,8 meter dan 1,8 x 1,8 meter, dengan harga mulai Rp150 ribu,” kata Fransiscus.
Berbeda dengan APAR yang memiliki peruntukan berbeda untuk masing-masing sumber api, sesuai media atau bahan yang digunakan, seperti serbuk kimia kering, karbon dioksida (CO2), foam, clean agent, maupun air, fire blanket dapat digunakan untuk berbagai insiden yang melibatkan api sesuai spesifikasi produknya.
“Namun, harus diingat, penggunaan fire blanket, bahkan APAR pun harus disesuaikan dengan jenisnya. Untuk yang berkaitan dengan listrik, misalnya, sumber listrik tetap harus diputus terlebih dahulu untuk menghentikan potensi percikan.”
Fransiscus juga mengingatkan, selain insiden di rumah tangga, kewaspadaan terhadap kebakaran dan risiko lainnya di kalangan industri juga harus makin dikuatkan. Data BPJS Ketenagakerjaan yang disampaikan Menteri Ketenagakerjaan mencatat 319.224 klaim kecelakaan kerja sepanjang 2025, dengan 9.834 kasus di antaranya tercatat sebagai fatality.
Angka tersebut menunjukkan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja (K3) masih menjadi tantangan serius, khususnya bagi sektor dengan tingkat risiko tinggi seperti pertambangan, minyak dan gas, konstruksi, manufaktur, dan energi. Sebagai solusinya, lanjut Fransiscus, pihaknya menyediakan solusi keselamatan dari kepala hingga kaki, mulai head protection, respiratory protection, eye and face protection, hand protection, protective apparel, safety footwear, fall protection, gas detection, serta tentunya fire safety.
Terkait fire blanket, Fransiscus juga mengingatkan, penggunaannya tidak meninggalkan residu dan mudah digunakan. Perangkat tersebut juga tidak perlu dicelupkan ke air terlebih dahulu. Setelah digunakan, jika kondisi fire blanket masih baik, perangkat dapat dimasukkan kembali ke dalam kemasannya dan digunakan kembali.(X-6)


















































