Ketika Mata tak Lagi Bisa Dipercaya

4 hours ago 1

Oleh : Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut. Dalam dua tulisan sebelumnya di kolom Lentera ini, telah disinggung bagaimana konflik itu mengajarkan tentang pentingnya ketahanan bangsa yang bertumpu pada ilmu pengetahuan, dan betapa mahalnya harga sebuah sekolah yang dijadikan sasaran rudal. Kini, perang yang memasuki pekan ketiga menghadirkan medan pertempuran yang merambah layar-layar gawai milyaran manusia di seluruh penjuru dunia.

Pertengahan Maret 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunggah sebuah video pendek di platform X yang tampak santai menikmati kopi di sebuah kafe. Video diunggah untuk menepis rumor kematiannya yang beredar luas di media sosial. Namun alih-alih meredakan situasi, video itu justru memantik gelombang kontroversi baru. Banyak pengguna media sosial bahkan chatbot berbasis AI melabeli video tersebut sebagai deepfake dengan adanya sejumlah anomali visual. Jutaan penonton terpolarisasi, sebagian percaya Netanyahu sudah tewas, sebagian lain mempertahankan pendapatnya mengenai keaslian video itu.

Kasus Netanyahu hanyalah satu titik dalam banjir besar konten palsu yang mengiringi perang ini. Berbagai konten diproduksi, baik dari sisi pendukung Iran maupun sebaliknya. Di sisi lain beberapa video animasi juga dibuat dan disebarkan sebagai media untuk memberikan dan membentuk dukungan dari pengguna internet. Secara umum kedua pihak, dengan teknologi yang sama, memainkan permainan yang sama, membentuk persepsi publik global melalui gambar dan video dengan berbasiskan teknologi AI.

Propaganda tentu bukanlah hal baru dalam suatu perang, narasi selalu menjadi senjata pendamping yang penting dalam jalannya perang. Namun Generative AI tidak dimungkiri telah mengubah skala dan kecepatan propaganda secara fundamental. Yang dulu memerlukan studio produksi, anggaran besar, dan waktu berbulan-bulan bahkan tahun, kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit dengan biaya nyaris nol. Wajah seseorang dapat diletakkan di tubuh orang lain, kota yang utuh dapat diperlihatkan sebagai puing-puing, pemimpin yang masih hidup dapat ditampilkan sebagai korban, atau hasil video animasi berbasis lego yang menarik laksana hasil studio di Hollywood.

Yang paling mengkhawatirkan adalah semakin canggih model AI yang digunakan, semakin sulit mata manusia bisa membedakan yang asli dari yang palsu. Hal ini tentu menjadi tantangan yang sesungguhnya hadir bagi masyarakat kita. Dalam kolom Lentera ini, saya pernah menulis tentang alarm keamanan data di era AI, tentang pentingnya berinovasi dengan bijaksana, dan tentang bagaimana teknologi dapat membelah masyarakat ketika literasi digital tidak merata. Perang antara Iran melawan AS dan Israel kini menghadirkan ujian paling konkret dari semua peringatan itu.

Literasi terhadap AI, termasuk kemampuan mengenali konten sintetis, memahami cara kerja deepfake, dan membiasakan diri untuk memverifikasi sebelum menyebarkan, menjadi kebutuhan dasar di era ini. Pertanyaannya adalah, dari mana kita belajar membangun kesadaran itu?

Menariknya, negara yang menjadi salah satu pemain utama dalam perang disinformasi ini justru memiliki catatan yang layak direnungkan di bidang pendidikan tinggi. Dari lebih dari 12.000 mahasiswa Iran yang belajar di Amerika Serikat pada tahun akademik 2023-2024, sebanyak 82 persen terdaftar di jenjang pascasarjana menurut data Institute of International Education. Angka itu memperlihatkan orientasi yang kuat pada pendidikan lanjutan, sebuah investasi yang terbukti melahirkan sumber daya manusia yang mampu menciptakan teknologi canggih secara mandiri, bahkan di bawah embargo.

Sebagai akademisi di Universitas Amikom Yogyakarta, hal tersebut terasa sangat relevan di mana kampus ini telah memiliki program studi jenjang D3 hingga S3, khususnya berbasis Informatika. Di era di mana konten sintetis dapat menjatuhkan reputasi seorang pemimpin negara dalam hitungan jam, kemampuan untuk memahami, menganalisis, bahkan mendeteksi produk-produk Generative AI menjadi salah satu bentuk pertahanan intelektual.

Mahasiswa yang hari ini mendalami Natural Language Processing, Computer Vision, atau Digital Security di ruang-ruang laboratorium adalah mereka yang kelak dapat menjadi garis pertahanan bangsa di medan yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Perang di Asia Barat itu jauh secara geografis, namun dampak dari teknologi yang digunakannya sudah ada di genggaman tangan kita, dalam setiap video yang kita tonton, dalam setiap gambar yang kita percaya, dalam setiap berita yang kita sebarkan tanpa bertanya. Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6). Wallāhu a'lam.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |