Walaa Volidis.(BBC)
DI tengah reruntuhan dan ketidakpastian yang menyelimuti Jalur Gaza, Palestina, perlawanan sunyi muncul dari balik layar laptop. Walaa Volidis, seorang insinyur perangkat lunak Palestina berusia 24 tahun, ialah salah satu dari ribuan pemuda yang kini menggantungkan hidup pada ekonomi digital sebagai jalur penyelamat (digital lifeline).
"Saya sempat berada di titik terendah, tenggelam dalam ketidakpastian," ujar Walaa saat melakukan panggilan video dengan mentornya di Silicon Valley, California. "Namun jauh di dalam hati, saya memutuskan: ini bukan akhir, tidak peduli seberapa sulit keadaannya. Saya akan terus memperjuangkan impian saya."
Walaa kini tinggal di sebuah tenda di Gaza tengah, menyokong orangtua dan empat adiknya yang mengungsi. Perang telah merenggut segalanya--pekerjaan, universitas, hingga anggota keluarga. Namun, di ruang kerja bersama (co-working space) di Deir al-Balah, ia memprioritaskan pencarian kerja untuk bertahan hidup.
Ekonomi Digital sebagai Jalur Penyelamat
Data PBB menunjukkan tingkat pengangguran di Gaza melampaui 80%, melonjak drastis dari 22% sebelum perang pecah pada Oktober 2023. Dengan mayoritas dari dua juta penduduk yang bergantung pada bantuan kemanusiaan, kerja daring menjadi salah satu cara langka untuk mendapatkan penghasilan yang layak.
"Kami menyebutnya sebagai jalur penyelamat digital. Idenya adalah jika Anda memiliki laptop dan koneksi internet, Anda bisa bekerja dan memiliki penghasilan," kata Nicole Hark dari organisasi kemanusiaan AS, Mercy Corps. Organisasi ini mendukung ruang kerja bersama yang menggunakan generator dan panel surya untuk mengatasi runtuhnya sistem kelistrikan Gaza.
Sebelum perang, Gaza memiliki sektor teknologi yang berkembang. Lembaga seperti Gaza Sky Geeks, yang didirikan oleh Google dan Mercy Corps pada 2012, menjadi pusat pelatihan coding dan akses pasar internasional. Meski dua dari tiga pusatnya hancur akibat perang, semangat para teknisi tetap menyala.
Tantangan Infrastruktur dan Pembayaran
Tarik Zaeem, 44, mantan Chief Technology Officer di suatu firma lokal, kini harus memulai dari nol sebagai pemrogram lepas di Gaza City. Ia baru saja menyelesaikan aplikasi pemesanan untuk salon dan aplikasi parkir valet untuk klien di Arab Saudi.
Namun, bekerja di zona perang membawa risiko nyawa. Tarik menceritakan serangan udara di luar ruang kerjanya pada Juni lalu menewaskan seorang mahasiswa.
Selain itu, masalah finansial menjadi hambatan besar. Kurangnya uang tunai dan pembatasan perbankan internasional membuat para pekerja teknologi informasi (TI) sering kali harus menggunakan jasa broker dengan biaya tinggi, yang terkadang memotong hingga setengah dari pendapatan mereka.
Kendala Teknis: Selain ancaman fisik, Israel mengklasifikasikan komputer dan suku cadangnya sebagai barang kegunaan ganda (dual use), yang mengakibatkan larangan impor dan memaksa teknisi lokal melakukan perbaikan dengan suku cadang kanibal dari perangkat rusak lain.
Harapan di Tengah Perang
Meski situasi keamanan tetap genting dengan pengeboman yang terus berlanjut, keberhasilan kecil mulai terlihat. Walaa Volidis baru-baru ini mendapatkan pekerjaan penuh waktu di perusahaan yang berbasis di Dubai berkat bantuan LSM Palestina-Belanda, TAP.
Penghasilannya kini ia tujukan untuk memperbaiki taraf hidup keluarganya dan mencari pengobatan bagi adiknya yang menderita lymphoedema akibat cedera trauma. Bagi Walaa, Tarik, dan Mahran Bayed--pekerja TI lain yang bekerja dari tenda dekat reruntuhan RS al-Shifa--teknologi bukan sekadar pekerjaan, melainkan pelarian dan harapan akan masa depan yang lebih cerah di tengah kebuntuan pemulihan Gaza secara luas. (BBC/I-2)

















































