(MI/Seno)
KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah telah meluncurkan dua agenda program nasional penting hampir bersamaan: pembelajaran mendalam (PM) serta koding dan kecerdasan artifisial (KKA). Di banyak sekolah, keduanya kemudian dipahami sebagai dua program yang sederajat. Guru mengikuti pelatihan PM pada satu kesempatan dan pelatihan KKA pada kesempatan lain. Sekolah menyusun program, menunjuk penanggung jawab, lalu melaporkannya melalui jalur yang berbeda. Keduanya berjalan bersama, tetapi seolah-olah tidak saling mengenal.
Inilah miskonsepsi yang harus segera diluruskan. PM dan KKA memang sama-sama mendukung transformasi pendidikan, tetapi kedudukan konseptualnya berbeda. KKA menjawab pertanyaan tentang apa yang dipelajari murid dalam menghadapi dunia digital. PM terutama menjawab bagaimana proses belajar harus berlangsung agar pengetahuan, keterampilan, karakter, dan tanggung jawab murid berkembang secara utuh. Karena itu, PM bukan pesaing ataupun program pendamping KKA. PM merupakan payung pedagogis yang semestinya menaungi pembelajaran KKA.
KEMAMPUAN BERPIKIR
Secara kebijakan, KKA dikembangkan sebagai mata pelajaran pilihan, kegiatan ekstrakurikuler, sejak kelas 5 SD sampai kelas 12 SMA, atau dijadikan materi yang dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran lain sesuai kesiapan sekolah. Adapun PM bukan tambahan jam pelajaran dan bukan mata pelajaran baru tersendiri. PM bekerja di dalam proses pembelajaran mata pelajaran apa pun di sekolah. Perbedaan ini penting untuk diketahui guru dan kepala sekolah karena kesalahan menentukan kedudukan akan melahirkan kesalahan implementasi: sekolah sibuk menjalankan dua label program, tetapi tidak mengubah kualitas pengalaman belajar murid.
KKA diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir komputasional, analisis data, algoritma, pemrograman, literasi digital, dan etika kecerdasan artifisial. Pembelajarannya juga tidak dimaksudkan semata-mata untuk penguasaan teknologi, tetapi demi membangun kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah secara kontekstual. Namun, tujuan tersebut tidak akan tercapai hanya dengan menyediakan komputer, mengenalkan aplikasi, atau mengajarkan bahasa pemrograman. Murid mungkin mampu menyusun kode yang berjalan, tetapi belum tentu memahami masalah yang diselesaikan, alasan memilih solusi, manfaat produknya, ataupun risiko sosial dan etikanya.
BERKESADARAN, BERMAKNA, DAN MENGGEMBIRAKAN
Tanpa PM, pembelajaran KKA mudah terjebak dalam teknosentrisme: teknologi ditempatkan sebagai tujuan, bukan alat untuk memanusiakan, memuliakan, dan memberdayakan murid secara bermartabat. Keberhasilan lalu diukur dari berfungsinya aplikasi, kecanggihan produk, atau banyaknya perintah yang mampu diberikan kepada mesin. Padahal, produk digital yang berfungsi belum tentu bermanfaat; algoritma yang efisien belum tentu adil; dan jawaban yang dihasilkan kecerdasan artifisial belum tentu benar. Sekolah dapat melahirkan pengguna teknologi yang cekatan, tetapi pasif secara intelektual dan lemah secara moral.
PM mencegah reduksi tersebut melalui prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Berkesadaran berarti murid mengetahui tujuan belajarnya, memahami proses berpikirnya, dan menyadari tanggung jawab penggunaan teknologi digital. Dalam pembelajaran kecerdasan artifisial, murid tidak cukup bertanya, "Bagaimana mesin menghasilkan jawaban?" Mereka juga perlu bertanya, "Dari mana datanya, apakah jawabannya dapat dipercaya, siapa yang mungkin dirugikan, dan keputusan apa yang tidak seharusnya diserahkan kepada mesin?"
Bermakna berarti konsep KKA dihubungkan dengan persoalan nyata. Murid dapat menggunakan pemikiran komputasional untuk merancang pengelolaan sampah sekolah, memetakan kebutuhan perpustakaan, membantu promosi produk lokal, atau mengidentifikasi pola informasi palsu. Dengan demikian, koding tidak berhenti sebagai latihan sintaksis. Ia menjadi alat untuk memahami realitas, mengembangkan kreativitas, dan menghasilkan solusi yang berguna.
Menggembirakan bukan berarti pembelajaran harus dipenuhi permainan atau guru terus-menerus melucu. Kegembiraan lahir ketika murid merasa aman untuk mencoba, berani melakukan kesalahan, memperoleh tantangan yang masuk akal, bekerja sama, dan menemukan jalan keluar setelah mengalami kegagalan. Kesalahan kode bukan bahan untuk mempermalukan murid, melainkan pintu masuk bagi penalaran, umpan balik, dan perbaikan.
Pengalaman belajar PM --memahami, mengaplikasi, dan merefleksi-- juga harus tampak dalam KKA. Murid memahami konsep dan logika, mengaplikasikannya untuk menyelesaikan masalah, kemudian merefleksikan proses, kualitas hasil, keamanan data, privasi, bias algoritma, hak cipta, serta dampak sosialnya. Penilaian tidak boleh hanya memeriksa apakah program dapat dijalankan. Guru perlu menilai argumentasi, strategi pemecahan masalah, kolaborasi, kreativitas, kemampuan memperbaiki kesalahan, dan pertimbangan etik murid.
KOMPETENSI TEKNIS DAN PEDAGOGIS
Kepala sekolah, oleh karena itu tidak boleh mengelola PM dan KKA sebagai dua proyek administratif yang terpisah. Pelatihan guru, supervisi akademik, komunitas belajar, dan penyediaan sarana harus mempertemukan kompetensi teknis dengan kompetensi pedagogis. Pertanyaannya bukan hanya apakah KKA telah diajarkan, melainkan apakah pembelajarannya membuat murid berpikir lebih mendalam, bertindak lebih bertanggung jawab, dan mampu merefleksikan penggunaan teknologi.
KKA tanpa PM berisiko menjadi pelatihan teknis yang dangkal. PM tanpa ruang aktual seperti KKA dapat kehilangan kesempatan untuk menghadapkan murid pada persoalan masa depan. Keduanya harus dipertemukan secara tepat: KKA sebagai bidang yang dipelajari, PM sebagai pendekatan yang menuntun proses mempelajarinya. Dengan hubungan itu, sekolah tidak sekadar menghasilkan murid yang cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mengembangkan manusia yang sanggup mengendalikan teknologi dengan nalar, nilai, dan tanggung jawab.
Ralat
Judul artikel halaman 9 edisi 12 Agustus 2026 yang tertulis ‘Pelajaran Mendalam Memerlukan Keseriusan Guru dalam Mengajar’ seharusnya ‘Pembelajaran Mendalam Memerlukan Keseriusan Guru dalam Mengajar’. Redaksi memohon maaf atas kekeliruan tersebut.
















































