Kolaborasi dan Teknologi Medis Dibutuhkan Atasi Kesenjangan Akses Pelayanan Kesehatan

2 weeks ago 5
Kolaborasi dan Teknologi Medis Dibutuhkan Atasi Kesenjangan Akses Pelayanan Kesehatan Ilustrasi(Dok istimewa )

RMIT University asal Australia bersama Mandaya Hospital Group mempertemukan para peneliti, klinisi, dan pemimpin sektor kesehatan dalam forum bertajuk Healthier Futures, Sooner: How Technology Closes the Gap in Care di Jakarta. Kolaborasi strategis ini berfokus pada pemanfaatan riset, teknologi medis (MedTech), dan pendekatan klinis guna mengatasi kesenjangan kualitas serta akses pelayanan kesehatan di Indonesia. Forum tersebut menyoroti tantangan transformasi sistem kesehatan nasional yang masih diwarnai ketimpangan geografis dan tingginya beban penyakit kronis.

Proyeksi Kementerian Kesehatan menunjukkan tenaga medis masih menumpuk di kawasan perkotaan dan Pulau Jawa, sementara wilayah timur Indonesia mengalami krisis tenaga kesehatan secara signifikan.

Dalam konteks tersebut, integrasi antara keahlian riset MedTech RMIT University dan pengalaman klinis Mandaya dinilai mampu menghadirkan solusi konkret untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan hingga ke luar kota-kota besar.

"Prioritas layanan kesehatan Indonesia membutuhkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan realitas yang dihadapi pasien dan tenaga kesehatan di Indonesia. Dengan menghubungkan kemampuan riset global RMIT dengan mitra seperti Mandaya, kami ingin menghadirkan dampak nyata sesuai kebutuhan lokal," ujar Direktur RMIT Indonesia, Tantia Dian Permata Indah, dalam keterangannya, Kamis (3/9).

Dalam forum tersebut, para pakar mendalami implementasi telehealth, pemantauan jarak jauh (remote monitoring), kecerdasan buatan (AI), sensor wearable, biomarker, serta sistem integrasi data kesehatan digital seperti platform SATUSEHAT. Teknologi ini dirancang untuk mendampingi keahlian klinis dalam mempercepat diagnosis dini dan perancangan perawatan yang presisi.

Perwakilan RMIT University, Prof. Ross Vlahos, menegaskan bahwa riset teknologi medis baru memberikan nilai optimal jika hasilnya dapat diterapkan secara langsung pada pasien dan meningkatkan kualitas praktik medis harian.

"Para peneliti, klinisi, dan organisasi layanan kesehatan perlu bekerja bersama sejak awal agar gagasan baru dapat diterapkan secara aman dan efektif dalam layanan kesehatan," tutur Prof. Vlahos.

Hal senada disampaikan Pendiri Bersama sekaligus Presiden Direktur Mandaya Hospital Group, Dr. Ben Widaja. Menurutnya, perpaduan riset global dan wawasan klinis lokal menjadi kunci untuk mendeteksi solusi kesehatan yang bertanggung jawab.

"Menggabungkan keahlian riset RMIT dengan pengetahuan klinis lokal Mandaya dapat membantu kami mengidentifikasi solusi yang relevan bagi Indonesia dan menjajaki bagaimana solusi tersebut dapat diterapkan secara bertanggung jawab dalam layanan kesehatan nyata," kata Dr. Ben Widaja.

Melalui forum ini, RMIT University dan Mandaya Hospital Group bersepakat memperdalam kolaborasi jangka panjang. Bentuk kerja sama yang akan dikembangkan meliputi riset bersama, penerapan hasil penelitian ke dalam praktik medis, pengembangan kapasitas tenaga kesehatan, serta uji coba teknologi medis terbaru untuk menjawab tantangan kesehatan nasional. (E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |