Kreator Konten Koko Gembul Bagikan Strategi Bangun Personal Branding Jadi Reviewer Makanan

4 days ago 2
Kreator Konten Koko Gembul Bagikan Strategi Bangun Personal Branding Jadi Reviewer Makanan Ilustrasi(Dok Istimewa)

MENJADI reviewer makanan di tengah semakin banyaknya kreator kuliner bukan perkara mudah. Selain harus mampu menemukan makanan yang menarik untuk dibahas, seorang kreator juga perlu membangun karakter agar kontennya mudah dikenali dan memiliki alasan kuat untuk diikuti.

Hal tersebut turut menjadi bagian dari perjalanan Chiho atau yang lebih dikenal dengan nama Koko Gembul. Berawal dari hobi kulineran dan kebiasaan membagikan foto makanan, Koko Gembul kini aktif sebagai kreator konten kuliner dengan ratusan ribu pengikut di media sosial.

Akun Instagram @KokoGembul kini memiliki sekitar 189 ribu pengikut, sedangkan akun TikTok @KokoGembul telah diikuti sekitar 224,1 ribu pengguna. Ia juga aktif melalui kanal YouTube KokoGembul.

Kontennya mencakup berbagai jenis kuliner, mulai dari restoran modern, street food, kuliner legendaris hingga tempat makan yang sedang viral. Jangkauannya pun meliputi Jabodetabek, Cirebon, Bandung, Semarang hingga Yogyakarta.

Dari pengalamannya membangun akun tersebut, Koko Gembul membagikan sejumlah strategi yang dapat menjadi gambaran bagi kreator yang ingin membangun personal branding sebagai reviewer makanan.

1.    Berawal dari Hobi yang Benar-Benar Disukai

Menurut Koko Gembul, perjalanan sebagai kreator kuliner justru berawal dari sesuatu yang sederhana, yakni kebiasaan makan di luar.
Sebelum menjadi food vlogger, ia sempat membuka restoran pada 2018. Dari sana, ia sering mengundang food vlogger untuk datang ke restorannya. Interaksi tersebut membuatnya mulai mengenal dunia review makanan dari sisi seorang kreator.

Ketika kesibukan pekerjaan dan aktivitas sang istri membuat mereka lebih sering makan di luar, Koko Gembul kemudian memanfaatkan kebiasaan tersebut untuk membuat konten.

“Karena saya sibuk kerja dan istri juga kerja, jadi kami sering makan di luar. Iseng-iseng bikin akun Instagram @KokoGembul. Tiap kali makan, makanannya difoto dan diposting,” ujarnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa personal branding lebih mudah dibangun ketika topik yang dibawa memang sesuai dengan ketertarikan pribadi.

2.    Mulai dari Konten Sederhana, Tidak Harus Langsung Sempurna

Koko Gembul tidak langsung memulai dengan produksi video yang kompleks. Pada awalnya, ia hanya memotret makanan yang sedang disantap dan mengunggahnya ke Instagram.
Saat itu, konten foto masih menjadi format utama. Ia tidak menunggu memiliki peralatan khusus atau konsep produksi yang rumit untuk mulai membuat konten.

Dari unggahan sederhana tersebut, akun Koko Gembul perlahan mendapatkan pengikut. Hal ini menjadi pelajaran bahwa konsistensi membuat konten dapat menjadi lebih penting daripada menunggu semuanya sempurna.

“Lama-lama follower bertambah, kemudian ada yang mau kirim makanan dan minta diposting. Senang banget waktu itu,” katanya.

3.    Temukan Ciri Khas dari Kuliner yang Dibahas

Sebagai reviewer makanan, Koko Gembul tidak hanya fokus pada restoran modern. Ia juga mengeksplorasi street food, kuliner legendaris dan tempat makan yang sedang viral.

Ragam tersebut menjadi bagian dari karakter kontennya. Dengan menjangkau berbagai jenis kuliner, audiens mendapatkan variasi rekomendasi sekaligus mengetahui bahwa eksplorasi Koko Gembul tidak terbatas pada satu jenis tempat makan.

Jangkauan wilayahnya pun cukup luas, mulai dari Jabodetabek hingga Cirebon, Bandung, Semarang dan Yogyakarta.

4.    Berani Beradaptasi dengan Perubahan Tren

Salah satu tantangan terbesar yang pernah dialami Koko Gembul adalah ketika konten kuliner mulai mengalami peralihan dari foto ke video.

Perubahan tersebut sempat membuatnya ingin berhenti. Ia mengaku tidak percaya diri harus memperlihatkan wajah di depan kamera.

“Sempat mau berhenti waktu peralihan dari foto ke video karena malu keluar muka di video,” ungkapnya.

Namun, ia akhirnya memilih mengikuti perubahan tersebut setelah mendapatkan dukungan dari teman-temannya.

“Teman-teman menyemangati untuk coba video dan jangan berhenti. Akhirnya coba juga. Dari awalnya malu, lama-lama jadi kebiasaan,” ujarnya.

5.    Jangan Takut Menampilkan Kepribadian

Personal branding bukan hanya soal makanan yang direview, tetapi juga tentang sosok di balik konten tersebut.

Ketika beralih ke video, Koko Gembul mulai berani menampilkan dirinya di depan kamera. Rasa malu yang sebelumnya menjadi hambatan perlahan berubah menjadi kebiasaan.

Bagi kreator, keberanian menunjukkan kepribadian dapat membuat konten terasa lebih personal. Audiens tidak hanya datang untuk melihat makanan, tetapi juga mengenali karakter kreatornya.

6.    Perhatikan Momentum Kuliner yang Sedang Viral

Selain kuliner legendaris dan street food, Koko Gembul juga aktif mengangkat tempat makan yang sedang viral.

Konten mengenai sesuatu yang tengah menjadi perhatian publik dapat membantu kreator menjangkau audiens yang lebih luas. Namun, viral bukan berarti satu-satunya fokus. Kreator tetap dapat mengombinasikannya dengan konten kuliner yang sudah memiliki daya tarik tersendiri.

Dengan pendekatan tersebut, konten bisa tetap mengikuti tren tanpa kehilangan identitas sebagai reviewer kuliner.

7.    Bangun Relasi dengan Pelaku Usaha

Perjalanan Koko Gembul juga berkembang ketika pelaku usaha mulai menghubunginya untuk mengirimkan makanan dan meminta konten.

Dari sana, komunikasi dengan pelaku usaha menjadi bagian dari perkembangan kariernya. Bahkan, ketika mulai ada pihak yang bertanya mengenai rate card, Koko Gembul kemudian membuat rate card untuk mengatur kerja sama secara lebih profesional.

“Lama-lama ada yang nanya rate card, bikin rate card, jalan deh sampai sekarang,” tuturnya.

Relasi yang baik dengan restoran dan pelaku usaha dapat menjadi salah satu pintu bagi kreator untuk mendapatkan kesempatan kolaborasi.

8.    Konsisten Mengeksplorasi Lokasi Baru

Sebagai reviewer makanan, Koko Gembul memperluas eksplorasinya ke sejumlah wilayah. Mulai dari Jabodetabek, Cirebon, Bandung, Semarang hingga Yogyakarta.

Strategi tersebut memberikan variasi pada konten sekaligus membuka peluang untuk menjangkau audiens dari daerah berbeda. Bagi kreator kuliner, eksplorasi juga dapat menjadi cara untuk menghindari konten yang terasa monoton. Setiap daerah memiliki karakter makanan dan cerita tersendiri yang bisa diangkat.

9.    Manfaatkan Berbagai Platform

Koko Gembul tidak hanya mengandalkan satu platform. Ia aktif di Instagram, TikTok dan YouTube.

Instagram menjadi salah satu platform awal yang membantunya membangun audiens. Sementara itu, format video kemudian berkembang dan dimanfaatkan melalui TikTok. Saat ini akun TikTok @KokoGembul telah memiliki sekitar 224,1 ribu pengikut. Kehadiran di beberapa platform membuat konten dapat menjangkau karakter audiens yang berbeda.

10.    Kembangkan Personal Branding Menjadi Peluang Bisnis

Strategi terakhir adalah tidak berhenti hanya sebagai pembuat konten. Setelah membangun audiens, Koko Gembul juga mengembangkan aktivitasnya di ekosistem digital. (H-2)


.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |