REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Keterbatasan tenaga dokter di berbagai wilayah Indonesia, khususnya daerah terpencil, mendorong lahirnya inisiatif pendidikan berbasis pesantren yang menargetkan santri sebagai calon tenaga medis masa depan.
Universitas Islam Bogor (UIB), yang diresmikan pada Sabtu (11/4/2026), membawa misi tersebut dengan rencana jangka panjang mendirikan Fakultas Kedokteran guna mencetak dokter dari kalangan santri.
Rektor UIB, KH Syamsul Rizal, mengatakan gagasan ini berangkat dari kegelisahan pendiri Pesantren Modern Ummul Quro Al Islami, KH Helmi Abdul Mubin, yang melihat langsung ketimpangan akses tenaga medis di daerah.
“Beliau pernah berada di sebuah pulau, dan di sana tidak ada dokter dari kalangan santri. Dari situ muncul gagasan bahwa santri juga harus bisa menjadi dokter dan tersebar ke pelosok,” ujar Syamsul saat peresmian.
Menurutnya, banyak santri memiliki kapasitas akademik yang memadai untuk menempuh pendidikan kedokteran, namun terbentur keterbatasan biaya dan akses pendidikan tinggi.
Karena itu, UIB menargetkan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan dapat membuka Fakultas Kedokteran sekaligus membangun rumah sakit pendidikan sebagai ekosistem pendukung.
Sebagai tahap awal, UIB telah membuka Program Studi Administrasi Kesehatan dan mengembangkan fasilitas klinik yang akan menjadi embrio penguatan sektor kesehatan di kampus tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari transformasi lembaga yang berawal dari Pesantren Modern Ummul Quro Al Islami, yang kini berkembang menjadi universitas dengan total program studi yang mencakup bidang keislaman dan umum berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).
Pimpinan pesantren, KH Saiful Falah, menekankan bahwa pendekatan ini tidak hanya menjawab kebutuhan tenaga medis, tetapi juga membangun model pendidikan yang mengintegrasikan ilmu agama dan sains. “Santri harus bisa hadir di semua sektor, termasuk kesehatan. Karena itu, keseimbangan antara wahyu dan akal menjadi penting,” ujarnya.
Data internal kampus menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap pendidikan berbasis pesantren yang terintegrasi dengan ilmu umum. Sebelumnya, saat masih berbentuk institut, jumlah mahasiswa telah mendekati 2.000 orang.
Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi, menilai kehadiran UIB dapat memperkuat investasi sumber daya manusia di daerah, sekaligus membuka akses pendidikan tinggi yang lebih luas bagi masyarakat Bogor Barat. “Kita butuh lebih banyak anak-anak daerah yang bisa melanjutkan pendidikan tinggi, termasuk di sektor-sektor strategis seperti kesehatan,” ujarnya.

9 hours ago
5













































