REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bank Syariah Indonesia (BSI) mendorong perluasan basis investor emas ritel dengan nominal terjangkau. Strategi ini menyasar generasi muda yang dinilai memiliki potensi besar namun masih terbatas akses dan literasi investasi.
Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho mengatakan, pendekatan investasi emas perlu dibuat sederhana agar mudah diakses. Hal tersebut disampaikan Ade dalam kuliah umum di Universitas Indonesia.
“Anak-anak muda Indonesia harus didorong untuk mulai melek investasi syariah dengan cara yang mudah, aman, dan memiliki prospek yang baik, salah satunya melalui emas. Untuk itu, kami terus memperluas layanan bank emas dengan menghadirkan akses yang semakin mudah, sehingga dapat dimiliki oleh semua kalangan dengan biaya yang murah dan terjangkau,” ujarnya dalam siaran pers, Ahad (12/4/2026).
Cahyo menjelaskan, pendekatan literasi dilakukan langsung ke kampus dan komunitas dengan metode yang lebih relevan bagi anak muda. Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah investasi emas dengan nominal setara satu cangkir kopi untuk menekan hambatan awal investasi.
BSI menyediakan layanan bank emas melalui aplikasi BYOND by BSI yang memungkinkan pembelian mulai Rp50 ribu. Nasabah dapat membeli, mentransfer, hingga mencetak emas fisik sesuai kebutuhan dengan harga mengikuti pasar harian.
“Emas merupakan ekosistem yang unik di BSI. Selain dapat ditabung sebagai instrumen investasi, emas tersebut juga bisa dicetak dalam bentuk fisik. Jika ada kebutuhan mendesak, emas dapat digadaikan, dan bagi nasabah yang ingin memiliki emas dalam jumlah gramasi besar, tersedia pula fasilitas cicilan melalui pembiayaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan layanan ini ditujukan untuk memperluas inklusi investasi emas dengan nominal kecil. “Kami ingin memperluas segmen pasar investasi emas agar semakin banyak masyarakat yang mengenal dan mulai berinvestasi emas dengan mudah, bahkan dengan nominal kecil, mulai dari Rp50ribu. Harapannya, BYOND by BSI dapat menjadi toko emas terbesar di Indonesia yang tersedia 24 jam dan bersifat real-time,” ujarnya.
BSI mencatat bisnis emas menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru. Hingga Februari 2026, perseroan mengelola 22,5 ton emas dengan jumlah nasabah meningkat hingga 400 persen dalam satu tahun sejak layanan bullion diluncurkan pada Februari 2025.
Cahyo menilai, tren ini menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai aset lindung nilai sekaligus instrumen likuid. BSI juga terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah melalui kerja sama dengan otoritas dan institusi pendidikan untuk memperluas penetrasi pasar.

3 hours ago
5







































