Notre Dame College.(Youtube Notre Dame)
KETIKA suami meninggal dunia akibat kanker setelah 20 tahun pernikahan, Natalie Strouse memutuskan untuk menghormati kenangannya dengan membuat program beasiswa. Sebagai pengajar akuntansi di Notre Dame College, sekolah Katolik kecil di pinggiran Cleveland, ia menyisihkan dana abadi sebesar US$30.000 (sekitar Rp480 juta) yang secara khusus ditujukan untuk membantu mahasiswa atlet jurusan akuntansi.
Namun, pada tahun 2024, Notre Dame College resmi ditutup. Saat Strouse berniat memindahkan dana beasiswa tersebut ke institusi lain, ia menerima jawaban mengejutkan dari pihak administrator: uang tersebut sudah habis.
"Dia memberi tahu saya bahwa mereka menggunakannya untuk membayar tagihan," ujar Strouse. "Saya menganggapnya sebagai pencurian."
Tren Mengkhawatirkan di Pendidikan Tinggi AS
Kasus Strouse hanyalah satu bagian dari dampak kerusakan yang lebih luas di sektor pendidikan tinggi Amerika Serikat. Banyak pemimpin perguruan tinggi kini memangkas program, merumahkan staf, dan dalam kasus ekstrem, mengambil dana abadi (endowment) yang dibatasi oleh donor untuk menutupi biaya operasional sehari-hari tanpa persetujuan pemilik dana.
Berdasarkan data dari Perspective Data Science, hampir 200 perguruan tinggi swasta meminjam dari dana abadi yang dibatasi pada tahun 2025, melonjak dari 131 sekolah pada tahun 2021. Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk pengeluaran rutin demi menjaga operasional kampus tetap berjalan.
Statistik Krisis Keuangan Kampus:
- Persentase kampus swasta yang menarik dana abadi lebih dari 7% (tanda ketidakstabilan) meningkat dua kali lipat menjadi 19,3% pada 2025.
- Lebih dari 440 perguruan tinggi berisiko tutup atau merger dalam dekade mendatang menurut Huron Consulting Group.
- Pendaftaran mahasiswa diproyeksikan turun 13% pada 2041 akibat penurunan angka kelahiran (demographic cliff).
Gugatan Hukum dan Pelanggaran Fidusia
Di Ohio, Jaksa Agung tahun lalu mengajukan gugatan terhadap 14 wali amanat (trustees) dan pejabat Notre Dame College. Mereka dituduh menyalahgunakan lebih dari US$2 juta (sekitar Rp32 miliar) dana abadi yang dibatasi untuk tujuan di luar keinginan donor. Para terdakwa membantah tuduhan tersebut dan mengeklaim telah menjalankan tugas pengawasan dengan benar.
Praktik menggali dolar dari dana donor ini sering kali menjadi upaya terakhir bagi sekolah yang terancam bangkrut. Doug Moore, pendiri Highland Group, menjelaskan pola yang biasa terjadi: pertama, wali amanat menghabiskan dana yang tidak dibatasi, kemudian meminta donor yang masih hidup untuk melepas batasan dana, dan terakhir mencari celah hukum pada dana dari donor yang sudah meninggal.
Kasus Serupa di Berbagai Institusi
Notre Dame College bukan satu-satunya yang terjerat masalah ini:
| Quincy University (Illinois) | Meminjam US$6 juta dari dana abadi untuk kebutuhan arus kas tanpa izin Jaksa Agung. |
| Baldwin Wallace University (Ohio) | Mengklasifikasi ulang US$20 juta dari dana terbatas menjadi tidak terbatas tanpa otorisasi dewan. |
| Averett University (Virginia) | Menghabiskan sebagian besar dana terbatas setelah CFO diduga menyembunyikan defisit anggaran. |
Akhir dari Satu Era
Notre Dame College, yang didirikan pada 1922, akhirnya menyerah pada beban utang dan penurunan pendaftaran. Pada Mei 2024, kampus seluas 48 hektare tersebut dijual ke rumah sakit seharga US$8 juta (Rp128 miliar). Barang-barang milik sekolah, mulai dari peralatan sains hingga perlengkapan atletik, dilelang untuk umum.
Bagi donor seperti Natalie Strouse, hilangnya dana tersebut bukan sekadar masalah angka, melainkan pengkhianatan terhadap niat tulus untuk membantu generasi mendatang. "Bahkan jumlah yang sedikit pun bisa sangat membantu mahasiswa," pungkasnya dengan kecewa. (The Wall Street Journal/I-2)

















































