Ilustrasi.(Magnific)
RAKSASA minyak dunia, Saudi Aramco, melaporkan lonjakan laba bersih pada kuartal kedua tahun 2026. Pencapaian ini diraih di tengah gangguan pasokan yang parah di Selat Hormuz akibat meluasnya konflik di Timur Tengah.
Perusahaan minyak terbesar di dunia tersebut membukukan laba bersih yang disesuaikan sebesar 125,2 miliar riyal Saudi atau setara US$33,4 miliar (sekitar Rp541 triliun) untuk periode April hingga Juni. Angka ini meningkat 33% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year) dan melampaui ekspektasi analis yang memproyeksikan angka US$31,59 miliar.
Kenaikan laba ini sejalan dengan tren perusahaan minyak raksasa (supermajors) lainnya yang melaporkan keuntungan besar. Hal ini dipicu oleh tingginya harga bahan bakar fosil di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama lebih dari lima bulan.
Strategi Jalur Alternatif
Menghadapi gangguan di Selat Hormuz, Aramco merespons dengan memanfaatkan pipa transmisi Timur-Barat sepanjang 1.200 kilometer menuju Laut Merah. Langkah strategis ini memungkinkan perusahaan melewati titik rawan konflik dan mempertahankan kapasitas ekspor maksimal hingga 7 juta barel per hari.
Presiden dan CEO Aramco, Amin H. Nasser, menyatakan bahwa infrastruktur strategis ini menjadi kunci keberlanjutan bisnis perusahaan. "Meskipun terjadi gangguan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya melalui Selat Hormuz, kami terus menunjukkan kemampuan untuk menjaga kontinuitas bisnis dengan memanfaatkan basis aset yang beragam dan perencanaan multidekade," ujarnya.
Berikut poin-poin utama kinerja Aramco pada Q2:
- Arus kas dari aktivitas operasi mencapai US$25,4 miliar.
- Rasio gearing berada di angka 6,2% pada akhir Juni, naik dari 4,8% pada akhir kuartal pertama.
- Dividen dasar kuartal kedua sebesar US$21,9 miliar akan dibayarkan dalam tiga bulan ke depan.
Dampak Krisis Geopolitik Global
Nasser memperingatkan bahwa krisis geopolitik yang sedang berlangsung terus memperburuk pasokan terbesar dalam sejarah. Dunia diperkirakan kehilangan lebih dari 2,6 miliar barel minyak yang seharusnya dialokasikan untuk sektor pertanian, semikonduktor, otomotif, hingga manufaktur.
Meski penggunaan pipa Timur-Barat dan inventaris global membantu mengurangi dampak tersebut menjadi kerugian bersih sekitar 1,8 miliar barel, pemulihan diprediksi memakan waktu lama. Nasser memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz dibuka kembali hari ini, dibutuhkan waktu hingga 18 bulan untuk mengganti inventaris yang terkuras.
Kritik Donald Trump terhadap Perusahaan Minyak AS
Di sisi lain, lonjakan laba industri minyak ini memicu reaksi keras dari Presiden AS Donald Trump. Ia mengkritik perusahaan minyak besar AS seperti Exxon Mobil dan Chevron yang dianggap meraup keuntungan terlalu besar dari kenaikan harga bahan bakar akibat perang Iran.
"Mereka menghasilkan terlalu banyak uang berdasarkan kelangkaan. Saya tidak menyukainya," tegas Trump di Gedung Putih, seraya menuntut penurunan harga BBM di tingkat konsumen.
Sebagai informasi, laba Exxon pada kuartal kedua melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$14,5 miliar, sementara laba Chevron melonjak hampir 400% menjadi US$12 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (CNBC/I-2)

















































