Ilustrasi(Dok BPBD Banyumas)
DAMPAK musim kemarau mulai dirasakan masyarakat di Banyumas, Jawa Tengah. BPBD Banyumas mencatat lebih dari 20 ribu warga kini mengalami krisis air bersih akibat kekeringan yang meluas di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) per 2 Agustus 2026, kekeringan telah melanda 27 desa dan kelurahan yang tersebar di 13 kecamatan.
Kepala Pelaksana BPBD Banyumas Dwi Irawan Sukma mengatakan, hingga saat ini sebanyak 6.416 kepala keluarga (KK) atau 20.835 jiwa terdampak kekeringan. Selain permukiman warga, sedikitnya tujuh fasilitas umum juga mengalami gangguan akibat terbatasnya pasokan air bersih. "Wilayah terdampak terus kami pantau. Hingga saat ini kekeringan telah meluas ke 27 desa atau kelurahan di 13 kecamatan," kata Dwi pada Minggu (2/8).
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD Banyumas terus menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah-wilayah yang mengalami krisis. Hingga awal Agustus, distribusi telah dilakukan sebanyak 147 ritase menggunakan mobil tangki. "Total air bersih yang telah kami distribusikan mencapai 708 ribu liter. Tim di lapangan terus bergerak agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi," ujarnya.
Selain kekeringan, musim kemarau juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. BPBD mencatat sedikitnya 9,3 hektare lahan terbakar di lima lokasi berbeda.
Peristiwa tersebut terjadi di Kelurahan Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara seluas 0,3 hektare, Desa Pamijen, Kecamatan Sokaraja seluas 2 hektare, Desa Karangtalun Kidul, Kecamatan Purwojati seluas 1 hektare, Kelurahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan seluas 2 hektare, serta Desa Sawangan, Kecamatan Ajibarang seluas 4 hektare.
Dwi mengatakan, penanganan dampak kekeringan maupun kebakaran lahan dilakukan secara kolaboratif bersama berbagai pihak. BPBD mendapat dukungan dari Palang Merah Indonesia (PMI), Dompet Dhuafa, Perumda Air Minum Tirta Satria, serta sejumlah relawan dalam mendistribusikan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak.
Ia mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau serta menghindari aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran. "Kami mengajak masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar karena kondisi vegetasi saat ini sangat kering dan mudah terbakar," pungkasnya. (H-2)

















































