Kelompok usaha Roemah Kopi mendapat pendampingan dari Unper Tasikmalaya dan Unsoed, sehingga mampu menghasilkan kopi panggang dengan standar mutu konsisten grade A, medium roast, yang siap jual.(MI/KRISTIADI)
KELOMPOK Peternak Kambing Perah Balebat Farm berhasil mengolah limbah kotoran ternak menjadi pupuk organik berkualitas. Di sisi lain Kelompok Tani Roemah Kopi telah menghasilkan kopi panggang dengan standar mutu konsisten grade A, medium roast, yang siap jual.
Keduanya berada di Desa Kalijaya, Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten Ciamis.
Adalah Program Pemberdayaan Berbasis Inovasi Teknologi Tepat Guna kolaborasi Universitas Perjuangan (Unper) Tasikmalaya dan Universitas Jenderal Soedirman yang melakukan pengabdian masyarakat di Desa Kalijaya.
Kolaborasi kedua perguruan tinggi itu mendapat dukungan hibah dari Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) 2026 melalui skema hibah Pengabdian kepada Masyarakat Pemberdayaan Desa Binaan.
Ketua Kelompok Balebat Farm, Dendi Mulyana, mengatakan selama ini limbah kotoran kambing tersedia melimpah setiap hari tetapi terbuang tanpa nilai. Hal ini terjadi karena tahun lalu Balebat Farm hanya bergantung pada satu sumber pendapatan penjualan susu kambing segar ke pengepul lokal dengan harga tak stabil.
Kelompok ini menyadari limbah kotoran tersebut punya potensi, tapi mereka tidak memahami tiga hal penting, yakni bagaimana prosesnya, berapa harga jual yang tepat, dan siapa pembeli potensialnya.
"Limbah ini banyak sekali, tapi kami tidak tahu cara mengolahnya menjadi produk, berapa seharusnya dijual, dan bagaimana memasarkannya," tambahnya, Rabu (5/8).
Kondisi nyaris serupa juga terjadi di Kelompok Roemah Kopi. Seperti dituturkan ketuanya, Dana, petani hanya menjual biji kopi kering hasil pengeringan tanpa memisahkan standar grade A maupun B. Semua tercampur dengan harga yang sama.
Selain itu, proses penyangraian masih manual dengan tingkat kematangan tidak terkontrol. Akibatnya, produk mereka kalah bersaing di pasar kopi, karena tanpa nilai tambah.
"Kami tidak tahu standar mana yang paling bagus, cara roasting yang benar, atau harga pasaran untuk produk dengan kualitas berbeda," papar Dana.
SENTUHAN UNPER DAN UNSOED
Kondisi Kedua kelompok adalah cermin realitas usaha pedesaan. Potensi lokal besar, tetapi tertahan oleh keterbatasan teknologi, pengetahuan teknis, dan informasi pasar.
Kini, dengan pendampingan Universitas Perjuangan Tasikmalaya dan Universitas Jenderal Soedirman, perluasan pasar menjadi fokus kedua kelompok dengan strategi berbeda.
Roemah Kopi menargetkan kedai kopi, UMKM lokal, dan saluran online, sedangkan Balebat Farm fokus memasok pupuk organik ke petani dan perkebunan lokal.
"Kami hanya butuh kanal yang tepat, bukan menunggu pembeli datang," ujar Dana.
Roemah Kopi menerima tiga perangkat utama mesin huller mandiri, mesin grading (memisahkan Grade A dan B), serta mesin roasting terkontrol. Inovasi tercanggih adalah aplikasi roasting level berbasis smartphone dengan teknologi AI yang mendeteksi tingkat penyangraian otomatis.
Setiap produksi tercatat di database, mulai dari tanggal, level, hingga stok untuk dokumentasi proses yang baik.
Sementara itu, Teknologi IoT yang memantau proses fermentasi real-time akan memastikan Balebat Farm mampu konsisten menjaga mutu pupuk untuk kepuasan pembeli jangka panjang.
Balebat farm dilengkapi mesin fermentasi, penghalus, dan pencetak pelet, ditambah sensor IoT (suhu, pH, kelembaban) yang memantau proses real-time via smartphone.
Ketua Pelaksana Laras Pratiwi dari UNPER menekankan program yang digelar di Desa Kalijaya, bukan hanya memberi alat. Pihaknya juga terus melakukan pendampingan.
"Teknologi ini sederhana, tapi mengubah segalanya. Petani tidak perlu menjadi engineer cukup ikuti SOP dan catat data. Smartphone membantu mereka membuat keputusan harga dan pemasaran yang tepat," ujarnya.
Program juga mencakup pendampingan pencatatan keuangan dan strategi pemasaran digital. Target kedua kelompok ialah bisa mandiri dan berkelanjutan hingga akhir 2026.
Sejak alat dioperasikan, perubahan nyata sudah terlihat. Balebat farm kini memproduksi dua varian pupuk bubuk dan pelet dengan target 1 batch per bulan atau sekitar 400 kg.
Yang signifikan ada omzet pendapatan baru dari pupuk dari sebelumnya tidak ada.
Produk sudah dikemas rapi, berlabel "Pupuk Organik Balebat Farm" siap dipasarkan.
Di sisi lain, Roemah Kopi menghasilkan green bean terklasifikasi (Grade A dan B) dan kopi panggang tiga level light, medium, dark yang konsisten. Database mencatat 30+ batch terdokumentasi lengkap.
DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI
Kepala Desa Kalijaya, Yosep Kurniawan menyambut positif inovasi ini. Langkah pendampingan ini membuatnya desanya bukan hanya tempat produksi bahan mentah tapi bisa prosesing, standarisasi dan jual dengan harga lebih tinggi.
Jika program berlanjut, tambahnya, dampak ekonomi sosial akan makin terasa. Mulai dari pengolahan pupuk dan kopi hingga menciptakan lapangan kerja tambahan bagi anggota kelompok.
Diversifikasi produk mengurangi risiko fluktuasi ketika harga susu atau biji kopi jatuh. Adanya pendapatan dari produk olahan dan teknologi ini dapat ditiru oleh kelompok lain.
Kedua kelompok tidak lagi tergantung pada pengepul yang bisa menentukan harga. Strategi pemasaran bisa dilakukan sendiri berdasar data, bukan sekadar feeling.
"Pemerintah Desa Kalijaya, Unper dan Unsoed berkomitmen mendampingi hingga 2027 pada fase hilirisasi lanjutan, perluasan produk sebagai bukti nyata pemberdayaan desa dan bukan slogan, serta aksi konkret yang didukung investasi dalam perubahan ekonomi lokal berkelanjutan. Transformasi di Desa Kalijaya membuktikan teknologi tepat guna, intensif dan manajemen mampu melakukan perubahan nyata. Desa bukan lagi hanya penyuplai bahan mentah tapi bisa menjadi penghasil produk bernilai tambah, memperkaya masyarakat sekaligusmeningkatkan harkat pedesaan," tandas Yosep.

















































