Upaya memperkenalkan kembali tradisi lulur kepada generasi muda dilakukan Purbasari melalui kegiatan bertajuk A Touch of Royal Beauty di halaman Candi Tirta Raharjo, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.(Dok. Purbasari)
TRADISI perawatan tubuh menggunakan lulur berbahan alami telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Jawa, termasuk lingkungan Keraton Yogyakarta. Racikan berbahan rempah, bunga, daun, hingga akar tanaman tidak hanya digunakan untuk merawat kulit, tetapi juga menjadi bagian dari ritual yang mengedepankan keseimbangan tubuh dan pikiran.
Di tengah perkembangan industri kecantikan yang semakin lekat dengan berbagai bahan aktif dan teknologi perawatan modern, tradisi tersebut kembali mendapatkan perhatian. Lulur tidak lagi sekadar dipandang sebagai ritual kecantikan masa lalu, tetapi dapat diterjemahkan menjadi bentuk perawatan tubuh yang lebih praktis dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Upaya mengenalkan kembali tradisi tersebut kepada generasi muda salah satunya dilakukan melalui inovasi produk perawatan tubuh yang mengambil inspirasi dari ritual kecantikan Keraton Yogyakarta. Salah satunya melalui Purbasari Lulur Mandi Teh Keraton.
Produk ini memadukan konsep perawatan tubuh tradisional dengan formulasi modern. Purbasari mengangkat kembali esensi lulur sebagai bagian dari ritual mandi, sekaligus menghadirkannya dalam format yang dapat digunakan sehari-hari di rumah.
Memadukan tradisi dan formulasi modern
Purbasari Lulur Mandi Teh Keraton diperkaya sejumlah bahan yang diklaim memiliki manfaat untuk perawatan kulit. Salah satunya chamomilla recutita extract atau ekstrak chamomile yang dikenal memiliki sifat menenangkan kulit dan membantu meredakan iritasi.
Produk tersebut juga mengandung camellia sinensis leaf extract atau ekstrak green tea yang kaya antioksidan. Kandungan ini digunakan untuk membantu melawan tanda-tanda penuaan dini sekaligus menjaga elastisitas kulit.
Sementara itu, jasminum officinale oil atau jasmine oil memberikan kelembapan sekaligus menghadirkan aroma melati yang identik dengan nuansa perawatan tradisional.
Kandungan niacinamide melengkapi formulasi dengan fungsi membantu memperbaiki tampilan kulit kusam sehingga kulit terlihat lebih cerah dan sehat.
Tekstur lulur yang lembut dirancang untuk membersihkan kulit secara menyeluruh sekaligus tetap mempertahankan kelembapan alami. Perpaduan tekstur tersebut dengan aroma teh melati juga dihadirkan untuk memberikan pengalaman mandi yang lebih relaks.
Dengan konsep tersebut, ritual mandi tidak hanya ditempatkan sebagai aktivitas untuk membersihkan tubuh, tetapi juga sebagai waktu untuk merawat diri dan memberikan ruang untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.
Mengajak Gen Z mengenal lulur keraton
Upaya memperkenalkan kembali tradisi lulur kepada generasi muda turut dilakukan Purbasari melalui kegiatan bertajuk A Touch of Royal Beauty di halaman Candi Tirta Raharjo, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Dalam kegiatan tersebut, belasan perempuan dari generasi Z diajak merasakan langsung pengalaman meracik ramuan lulur kecantikan yang terinspirasi dari tradisi Keraton Yogyakarta.
Aktivitas tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk tidak hanya mengenal lulur sebagai produk perawatan tubuh, tetapi juga memahami proses dan nilai yang melekat pada tradisi perawatan tubuh Nusantara.
Brand Executive Purbasari, Carensca, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda.
Menurut dia, tradisi kecantikan Nusantara memiliki potensi untuk terus dikembangkan melalui inovasi, sehingga tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
"Kami ingin melestarikan budaya Nusantara dan memberikan wawasan tentang kekayaan lokal yang tak kalah dengan produk luar negeri. Lulur Teh Keraton menjadi salah satu yang kami hadirkan agar masyarakat bisa merasakan perawatan ala keraton di rumah," ujar Carensca.
Melalui pendekatan tersebut, pengenalan tradisi tidak berhenti pada aspek historis, tetapi juga diarahkan pada pengalaman langsung. Generasi muda diajak melihat bahwa warisan budaya dapat hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Perawatan tubuh sebagai bentuk relaksasi
Konsep yang diangkat Purbasari juga menempatkan aktivitas merawat tubuh sebagai bagian dari kebutuhan untuk beristirahat dan memberikan perhatian kepada diri sendiri.
Aroma teh melati yang khas, tekstur lulur yang lembut, serta kandungan perawatan kulit dipadukan untuk menghadirkan sensasi mandi yang lebih menenangkan. Konsep tersebut mengambil inspirasi dari ritual perawatan tubuh tradisional yang tidak hanya berorientasi pada kecantikan kulit, tetapi juga kenyamanan tubuh dan pikiran.
Pada akhirnya, inovasi lulur berbasis tradisi menunjukkan bahwa warisan kecantikan Nusantara masih memiliki ruang untuk berkembang di tengah perubahan tren beauty. Tradisi yang diwariskan turun-temurun dapat dikemas kembali melalui pendekatan formulasi dan penggunaan yang lebih modern, tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas asalnya. Melalui Purbasari Lulur Mandi Teh Keraton, Purbasari mengajak perempuan Indonesia mengenal kembali ritual perawatan tubuh yang terinspirasi dari tradisi keraton sekaligus menjadikannya bagian dari rutinitas perawatan di rumah.
Perpaduan tradisi dan inovasi tersebut pada akhirnya tidak hanya menawarkan pengalaman perawatan kulit, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk menjaga agar kekayaan budaya Nusantara tetap dikenal dan relevan bagi generasi berikutnya. (Put/E-1)

















































