Presiden FIFA Gianni Infantino.(AFP)
HINGGA pertengahan Juli lalu, Gianni Infantino tampaknya bakal dengan mudah terpilih kembali sebagai Presiden FIFA untuk periode keempat. Namun, peta politik sepak bola dunia mendadak berubah drastis hanya dalam hitungan pekan!
Penyebabnya adalah rencana kontroversial Infantino yang ingin menjual sebagian saham kompetisi elit FIFA, termasuk Piala Dunia, kepada pihak swasta. Sontak, rencana ini memicu kemarahan dari berbagai konfederasi sepak bola di seluruh dunia.
Laporan terbaru dari BBC Sport menunjukkan bahwa peta kekuatan pemilik suara FIFA kini terbelah tajam. Sebanyak 124 negara terang-terangan menolak Infantino, sementara yang masih mendukungnya tersisa 73 negara. Tiga raksasa konfederasi, Eropa (UEFA), Amerika Utara (Concacaf), dan Asia (AFC), bahkan sudah bersatu melayangkan mosi tidak percaya.
Kendati demikian, suara di internal konfederasi penentang tidak sepenuhnya bulat. Di tubuh AFC, sedikitnya 11 negara anggota membelot dan secara terbuka menyatakan tetap setia mendukung mantan Sekretaris Jenderal UEFA tersebut.
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menjadi federasi Asia pertama yang secara terbuka memasang badan untuk Infantino, yang dinilai berjasa besar bagi perkembangan sepak bola nasional. Langkah PSSI kemudian disusul oleh Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Sri Lanka, Lebanon, Bhutan, Mongolia, Filipina, Bangladesh, dan Timor Leste.
Sementara itu, Arab Saudi, yang telah ditetapkan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034 belum menentukan posisi resminya. Hasil pemilihan kepemimpinan sepak bola internal Arab Saudi pada Agustus mendatang diprediksi bakal memengaruhi arah politik negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Perpecahan di Concacaf
Dinamika serupa terjadi di kawasan Concacaf. Meksiko memilih membelot dari garis kebijakan konfederasinya dengan menyatakan dukungan penuh kepada Infantino. Sementara Amerika Serikat dan Kanada memilih mendukung pernyataan resmi Concacaf, meski belum secara eksplisit menyatakan penolakan terhadap kepemimpinan Infantino.
Di sisi lain, Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) memilih bersikap netral sejak polemik ini mengemuka. OFC dijadwalkan baru akan merilis pernyataan resmi organisasi usai menggelar rapat internal pada Kamis mendatang.
Meski diterjang gelombang penolakan, posisi Infantino belum sepenuhnya guncang. Ia masih memegang basis dukungan kuat di kawasan Afrika (CAF) dan Amerika Selatan (CONMEBOL), yang disokong oleh kucuran dana bantuan program FIFA Forward bernilai miliaran dolar.
ingga saat ini, Infantino tidak menunjukkan indikasi akan mengundurkan diri. Namun, masa jabatannya berpotensi berakhir lebih cepat pada musim gugur ini jika Dewan FIFA menggelar rapat darurat. Berdasarkan regulasi, rapat darurat wajib dilaksanakan dalam kurun waktu dua minggu apabila diajukan oleh minimal 19 dari total 37 anggota Dewan FIFA.
Struktur Dewan FIFA sendiri saat ini diisi oleh sembilan perwakilan UEFA, tujuh dari AFC, enam dari CAF, lima dari Concacaf, lima dari CONMEBOL, tiga dari Oseania, serta Infantino dan Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom. Melihat komposisi tersebut, skema pemakzulan lewat jalur rapat darurat dinilai cukup sulit terealisasi.
Kini publik sepak bola menantikan sosok penantang yang berani maju dalam bursa pemilihan Maret mendatang. Nama Presiden Concacaf, Victor Montagliani, digadang-gadang jadi kandidat terkuat untuk menumbangkan dominasi Infantino. (AFP/P-4)

















































