Batara Maju Simatupang, Direktur Program MM Indonesia Banking School, Assoc Prof Kepakaran Perbankan(Dok.Pribadi)
PADA 5 Agustus 2026, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan kedua 2026 sebesar 5,29 % (yoy), melambat dari 5,61% pada triwulan pertama. Kelihatannya, ekonomi tetap tangguh, tetapi belum mampu melompat dari kisaran 5%. Pertanyaannya bukan lagi apakah 5% cukup baik, melainkan apakah angka tersebut cukup untuk membawa Indonesia melakukan lompatan menuju negara berpendapatan tinggi.
Di tengah perlambatan global, kinerja mitra dagang utama RI juga beragam. AS, Tiongkok, dan Singapura melambat, masing-masing menjadi 2,1%, 4,3%, dan 5,7%. Sebaliknya, Malaysia dan Vietnam justru meningkat menjadi 5,8% dan 8,4%. Ini merefleksikan bahwa perlambatan global bukan menjadi penjelasan utama. Oleh karenanya, kita perlu mendalami: apakah mesin pertumbuhan Indonesia masih bekerja dengan cara yang sama?
Selama pertumbuhan masih bertumpu pada konsumsi domestik, sementara investasi produktif, industrialisasi, ekspor bernilai tambah, dan produktivitas belum bergerak cukup cepat, maka ekonomi akan kembali ke kisaran 5% stabil, tetapi sulit berakselerasi, apalagi melompat.
Oleh karena itu, tantangannya bukan lagi sekadar menjaga pertumbuhan. Berbagai program prioritas pemerintah sudah mulai berjalan, seperti pangan, energi, MBG, perumahan, hilirisasi, industrialisasi, hingga ekonomi desa. Kini saatnya mengorkestrasikannya menjadi satu mesin pertumbuhan yang mampu menarik investasi, memperbesar kapasitas produksi, meningkatkan ekspor, dan menaikkan produktivitas. Sebab, jika mesinnya sama, jangan berharap kecepatannya berbeda. Pertumbuhan di atas 6% membutuhkan pergeseran dari consumption-driven menuju investment, industry, export dan productivity driven growth.
Angka 5% Membuai Kita?
Pertumbuhan di Q2-2026 yang hanya 5,29 % (yoy), secara makro, angka tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi nasional tetap terjaga. Namun secara strategis, angka itu juga memperlihatkan bahwa Indonesia masih bergerak pada lintasan yang sama, hanya untuk bertahan, tetapi belum cukup membuat pertumbuhan melompat.
Inilah yang beberapa bulan lalu saya sebut sebagai jebakan 5%. Bukan karena 5% adalah angka yang buruk, akan tetapi sebaliknya 5% adalah angka yang nyaman. Angka ini, cukup untuk menjaga stabilitas fiskal, mengendalikan inflasi, mempertahankan kepercayaan investor, bahkan memperoleh pengakuan lembaga internasional. Namun sejarah pembangunan menunjukkan bahwa tidak ada negara yang berhasil keluar dari kelompok negara berpendapatan menengah hanya dengan merasa puas pada stabilitas.
Negara-negara yang berhasil melakukan lompatan, Korea Selatan, Tiongkok, Vietnam hingga Irlandia, tidak pernah menjadikan stabilitas sebagai garis akhir. Mereka menjadikan stabilitas sebagai landasan untuk mentransformasi struktur ekonomi, dan inilah sesungguhnya letak tantangan bagi RI.
Apa Mesin Pertumbuhannya Bermasalah?
Bila kita dalami, data BPS merefleksikan bahwa pertumbuhan digerakkan oleh konsumsi domestik, pembayaran gaji ke-13, peningkatan transaksi digital, konsumsi rumah tangga, aktivitas perdagangan, serta berbagai stimulus pemerintah menjadi penyangga utama ekonomi.
Artinya, mesin ekonomi Indonesia masih bekerja dengan pola lama.Konsumsi memang menjaga ekonomi tetap bergerak. Tetapi konsumsi tidak pernah menjadi mesin yang membawa sebuah bangsa melakukan lompatan produktivitas.
Negara maju dibangun oleh investasi, negara maju dipercepat oleh inovasi, dan negara maju dipertahankan oleh produktivitas. Sepanjang investasi produktif belum tumbuh jauh lebih cepat daripada konsumsi, sepanjang manufaktur belum menjadi lokomotif utama ekspor, dan sepanjang produktivitas tenaga kerja belum meningkat secara signifikan, maka ekonomi Indonesia akan terus berputar di koridor yang sama, kelihatan stabil, tetapi sulit berakselerasi.
Bagaimana dengan Fondasi Transformasi?
Di sinilah sisi yang sering luput dari perdebatan publik. Diskusi ekonomi kita kerap terjebak pada pertanyaan sederhana: pemerintah berhasil atau gagal? Padahal, transformasi ekonomi bukan pekerjaan sekali jadi. Ia adalah proses membangun fondasi, lalu mengorkestrasikan berbagai kebijakan agar menghasilkan efek yang saling memperkuat.
Pemerintahan Presiden Prabowo mulai membangun fondasi tersebut melalui delapan klaster Program Prioritas Nasional, dengan produktivitas, investasi, dan industrialisasi sebagai arah utama. Makan Bergizi Gratis bukan sekadar program sosial, tetapi investasi pada kualitas manusia Indonesia dalam lima hingga 10 tahun ke depan. Pada saat yang sama, program ini menciptakan permintaan bagi petani, peternak, UMKM pangan, hingga sektor logistik.
Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar kelembagaan desa, tetapi instrumen untuk memperpendek rantai distribusi dan menekan biaya ekonomi. Program tiga juta rumah bukan hanya membangun rumah, tetapi juga menggerakkan industri semen, baja, keramik, furnitur, konstruksi, dan tenaga kerja.
Begitu pula hilirisasi. Ia bukan sekadar membangun smelter, tetapi pintu masuk menuju industrialisasi dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Dengan demikian, arah kebijakan mulai bergerak ke jalur yang benar. Tantangannya kini bukan lagi sekadar menentukan arah, melainkan mempercepat orkestrasi agar seluruh program tersebut benar-benar menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.
Kurangnya Efek Pengganda
Inilah persoalan sesungguhnya. Program pemerintah sudah banyak, dengan anggaran tidak sedikit. Namun, yang belum sepenuhnya terbentuk adalah multiplier effect antarpogram.
Makan Bergizi Gratis harus terkoneksi dengan pertanian modern; pertanian dengan industri pangan; industri pangan dengan ekspor; ekspor dengan investasi baru; dan investasi dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja. Tanpa rantai nilai tersebut, setiap program memang menghasilkan manfaatnya sendiri-sendiri, tetapi belum membentuk mesin pertumbuhan nasional.
Oleh karena itu, saya selalu mengatakan: negara tidak harus menjadi operator seluruh proyek ekonomi. Negara harus menjadi dirijen yang memastikan seluruh instrumen ekonomi memainkan simfoni yang sama. Negara adalah orkestrator, bukan operator.
Pertumbuhan 6%: Titik Balik Sejarah
Perdebatan publik sering berhenti pada pertanyaan apakah pertumbuhan 5% sudah cukup baik. Seharusnya pertanyaannya lebih mendasar: berapa tingkat pertumbuhan yang dibutuhkan Indonesia untuk keluar dari perangkap pendapatan menengah sebelum bonus demografi berakhir?
Jawabannya bukan sekadar 5%. Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang konsisten di atas 6%, ditopang oleh investasi produktif, industrialisasi, inovasi, dan peningkatan produktivitas. Angka 6% bukan sekadar angka. Ia adalah batas psikologis bahwa ekonomi Indonesia mulai bergerak lebih cepat dari kapasitas historisnya. Di titik itulah stabilitas mulai berubah menjadi transformasi.
Penutup
Kembali kepada rilis BPS Q2-2026, pertumbuhan 5,29% bukan sekadar cerita tentang keberhasilan mempertahankan pertumbuhan 5%. Capaian ini justru menjadi pengingat bahwa fondasi perubahan mulai dibangun, tetapi rumah besar Indonesia belum selesai didirikan.
Ironisnya, kita seperti kembali dihadapkan pada semangat awal Republik: “Merdeka atau Mati.” Bukan dalam pengertian perjuangan fisik, tetapi dalam makna bahwa kemerdekaan menuntut kemampuan kita membangun rumah besar yang mampu menaungi cita-cita kemerdekaan.
Lihatlah berbagai program prioritas pemerintah telah bergerak. Arah kebijakan semakin menekankan produktivitas, investasi, dan industrialisasi. Tantangannya kini bukan lagi merancang semakin banyak agenda baru, tetapi memastikan seluruh kebijakan saling terhubung dan menghasilkan daya ungkit ekonomi jauh lebih besar.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa lama Indonesia mampu bertahan pada pertumbuhan 5%. Sejarah akan mencatat apakah generasi ini memiliki keberanian politik untuk mengubah stabilitas menjadi lompatan pembangunan. Jadi, pertumbuhan di atas 6% bukan hadiah dari keadaan. Ia harus menjadi hasil dari keberanian mengubah arah. (H-4)















































