Ilustrasi.(Magnific)
DALAM ajaran Islam, mengenal Allah SWT (ma'rifatullah) merupakan fondasi utama keimanan. Salah satu pilar penting dalam teologi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), baik yang mengikuti mazhab Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari maupun Imam Abu Mansur al-Maturidi, ialah pemahaman mengenai sifat-sifat wajib bagi Allah.
Di antara dua puluh sifat wajib yang sering dipelajari, sifat Mukhalafatu Lilhawaditsi menempati posisi sentral dalam menjaga kemurnian tauhid dari paham penyerupaan Tuhan dengan makhluk (tasybih).
Pengertian Mukhalafatu Lilhawaditsi
Secara bahasa (etimologi), Mukhalafatu Lilhawaditsi berasal dari dua kata dalam bahasa Arab: Mukhalafah yang berarti berbeda atau bersalahan, dan al-Hawadits yang merupakan bentuk jamak dari hadits, artinya sesuatu yang baru atau makhluk yang diciptakan.
Secara istilah (terminologi) akidah, Mukhalafatu Lilhawaditsi berarti Allah SWT berbeda dengan segala sesuatu yang baru (makhluk). Sifat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun unsur, sifat, atau keadaan makhluk yang melekat pada zat Allah SWT. Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dalam hal zat, sifat, maupun perbuatan (af'al).
Dalil utama sifat ini merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Asy-Syura ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat."
Pandangan Ulama Asy'ariyah dan Maturidiyah
Ulama Aswaja, baik dari kalangan Asy'ariyah maupun Maturidiyah, sepakat bahwa sifat ini termasuk dalam kategori Sifat Salbiyah. Sifat Salbiyah ialah sifat yang berfungsi untuk meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah SWT.
1. Perspektif Asy'ariyah
Imam al-Asy’ari dan para pengikutnya menekankan bahwa Allah SWT bukan merupakan jirm (materi/tubuh) dan tidak menempati ruang (tahayyuz). Menurut pandangan ini, Mukhalafatu Lilhawaditsi mencakup peniadaan empat hal utama pada zat Allah:
- Allah bukan jauhar (partikel terkecil yang mengisi ruang).
- Allah bukan aradh (sifat yang menempel pada materi, seperti warna atau rasa).
- Allah tidak dibatasi oleh arah (depan, belakang, atas, bawah, kanan, kiri).
- Allah tidak terikat oleh waktu, karena waktu merupakan makhluk.
Baca juga: Memahami Sifat Wajib Allah Baqa Makna, Dalil, Penjelasan Ulama
2. Perspektif Maturidiyah
Imam al-Maturidi memiliki pandangan yang sejalan dengan Asy'ariyah dalam hal esensi. Namun, Maturidiyah sering kali menekankan pada penggunaan akal sehat untuk membuktikan bahwa Sang Pencipta (Khaliq) secara logika harus berbeda dengan yang diciptakan (Makhluq).
Jika Pencipta memiliki sifat yang sama dengan yang diciptakan, Pencipta tersebut juga akan membutuhkan pencipta lain. Hal ini akan menyebabkan tasalsul (rantai tanpa akhir) yang mustahil secara logika.
Baca juga: Mengenal 20 Sifat Wajib Allah serta Arti, Dalil, dan Lagunya
Cakupan Perbedaan Allah dengan Makhluk
Untuk memahami sifat ini secara komprehensif, para ulama membaginya ke dalam tiga aspek utama:
| Zat | Zat Allah bukan berupa materi, tidak tersusun dari organ tubuh, dan tidak membutuhkan ruang. |
| Sifat | Sifat Allah bersifat qadim (tanpa awal), sedangkan sifat makhluk bersifat baru dan terbatas. Contoh: Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, ilmu makhluk sangat terbatas. |
| Perbuatan (Af'al) | Allah menciptakan sesuatu dari ketiadaan tanpa alat dan tanpa bantuan, sedangkan makhluk hanya bisa mengubah bentuk dengan izin Allah. |
Baca juga: 20 Sifat Mustahil bagi Allah, Arti dan Penjelasannya
Konsekuensi Logis dan Keimanan
Memahami Mukhalafatu Lilhawaditsi memberikan dampak besar bagi seorang mukmin, di antaranya:
- Terhindar dari Tasybih dan Tajsim: Mencegah seseorang membayangkan Allah seperti manusia atau benda (antropomorfisme).
- Kemurnian Ibadah: Menyadari bahwa Allah tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya (seperti tempat tinggal atau sesaji), sehingga ibadah dilakukan murni karena ketaatan.
- Ketenangan Hati: Mengetahui bahwa Allah tidak memiliki kelemahan seperti makhluk (lelah, tidur, lupa) memberikan rasa aman bahwa alam semesta diatur oleh Zat yang Maha Sempurna.
Baca juga: 99 Asmaul Husna Arab, Latin, dan Artinya
Catatan Penting: Jika dalam Al-Qur'an atau Hadits ditemukan ayat-ayat Mutasyabihat (seperti penyebutan yad Allah atau Allah istiwa atas Arsy), ulama Aswaja menggunakan dua metode: Tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah dengan tetap meyakini Allah tidak serupa dengan makhluk) atau Ta'wil (mengartikannya secara majazi yang layak bagi keagungan Allah, misal yad (tangan) diartikan sebagai kekuasaan).
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Mukhalafatu Lilhawaditsi
- Apakah Allah berada di mana-mana? Menurut akidah Aswaja, Allah ada tanpa tempat. Mengatakan Allah di mana-mana secara fisik bisa menjerumuskan pada pemahaman bahwa Allah menyatu dengan makhluk (hulul) yang bertentangan dengan Mukhalafatu Lilhawaditsi.
- Apa lawan dari sifat Mukhalafatu Lilhawaditsi? Lawannya adalah Mumatsalatu Lilhawaditsi yang artinya menyerupai makhluk. Sifat ini mustahil bagi Allah.
- Mengapa Allah tidak boleh serupa dengan makhluk? Karena jika Allah serupa dengan makhluk, Allah akan memiliki kekurangan, membutuhkan ruang, dan mengalami perubahan, yang semua mustahil bagi Zat yang Maha Kuasa.
- Bagaimana cara membayangkan Allah? Kita dilarang membayangkan zat Allah. Kaidah ulama menyebutkan, "Kulla ma khatara bi balika, fallahu khilafu dzalik" (Apa pun yang terlintas dalam pikiranmu tentang Allah, pasti Allah berbeda dengan hal tersebut).
- Apakah sifat ini disepakati seluruh umat Islam? Sifat ini adalah konsensus (ijma) ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, meski terdapat perbedaan teknis dalam penafsiran ayat-ayat sifat dengan kelompok lain di luar Aswaja.
Baca juga: Asmaul Husna As-Sami Maha Mendengar Semua Suara tanpa Telinga
Kesimpulan
Sifat Mukhalafatu Lilhawaditsi adalah benteng akidah yang memisahkan antara Sang Khaliq yang Maha Sempurna dengan makhluk yang penuh kekurangan. Dengan meyakini bahwa Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru, seorang Muslim telah menjaga kemurnian tauhidnya dari pemahaman yang keliru dan menyesatkan. (I-2)


















































