Jared Kushner (dua dari kiri).(Al Jazeera)
MENANTU Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjalankan kesepakatan perdamaian Jalur Gaza, Palestina, dan memastikan proses rekonstruksi tidak akan dimulai sebelum Hamas melucuti senjata.
Kushner, yang ditunjuk sebagai utusan khusus Timur Tengah dan Gaza di Dewan Perdamaian (BoP), menilai kesepakatan tersebut justru memberikan keuntungan besar bagi Israel, terutama dari sisi keamanan.
"Bagi Israel, kami pikir ini situasi yang menguntungkan semua pihak, karena jika Hamas benar-benar menyerahkan senjata dan terowongan secara sukarela dalam 60 hingga 90 hari ke depan, itu jelas akan menghilangkan ancaman keamanan yang sangat besar bagi Israel, pencapaian yang hampir tak terbayangkan," kata Kushner dalam wawancara dengan Fox News dilansir Al Jazeera, Selasa (18/8).
Kushner sebelumnya bertemu Netanyahu pada Senin (17/8). Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan kemajuan berarti karena Netanyahu masih menolak sejumlah poin dalam kesepakatan Gaza.
Kushner memperingatkan Israel agar tidak mengabaikan komitmen yang disepakati. "Jika mereka tidak menindaklanjuti komitmen mereka sekarang, semua orang akan melihat bahwa mereka tidak tulus dalam hal perdamaian," jelasnya.
Menurut Kushner, apabila Israel menunjukkan kesungguhan dalam menjalankan proses perdamaian, Amerika Serikat bersama negara-negara lain dapat melanjutkan pekerjaan untuk menyelesaikan berbagai persoalan terkait masa depan Gaza.
Namun, Washington juga menetapkan syarat bagi proses rekonstruksi wilayah tersebut. Kushner menilai pemerintahan Trump tidak akan mengizinkan pembangunan kembali Gaza sebelum Hamas benar-benar melucuti persenjataannya.
"Kami punya rencana membangun kembali Gaza, tetapi kami tak akan mengizinkan Gaza kembali sampai demiliterisasi terjadi," sebut Kushner.
Hamas sebelumnya menyatakan kesediaannya untuk melucuti senjata sebagai bagian dari implementasi kesepakatan perdamaian Gaza.
Namun, kelompok tersebut menegaskan proses itu tidak akan dilakukan selama pasukan Israel masih berada di Gaza dan serangan terhadap wilayah tersebut terus berlangsung.
Sejak kesepakatan pertama kali diumumkan, pemerintah Israel menolak sejumlah poin di dalamnya. Amerika Serikat juga berulang kali memberikan tekanan kepada Tel Aviv agar menjalankan kesepakatan, tetapi belum terlihat perubahan signifikan.
Di sisi lain, Washington juga mengakomodasi tuntutan Israel dengan menyatakan bahwa pasukan Israel tidak akan ditarik sepenuhnya sebelum Hamas dilucuti.
"Kami juga tak akan membatasi hak Israel untuk membela diri jika ada ancaman yang akan segera terjadi." ujar Kushner.
"Oleh karena itu, kami harus mengklarifikasi apa artinya itu," tambahnya.
Israel dilaporkan terus melakukan serangan di Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan pada November tahun lalu. Serangkaian serangan tersebut disebut telah menewaskan 1.265 orang.
Serangan Israel juga terus berlangsung setelah BoP mengumumkan kesepakatan mengenai pelucutan senjata Hamas.
Dalam keseluruhan agresi Israel di Palestina, lebih dari 73.000 warga dilaporkan tewas.
Ratusan ribu rumah dan fasilitas publik mengalami kerusakan atau kehancuran, sementara jutaan warga Gaza terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat perang. (I-2)














































