Mendagri: Pemulihan Bencana Sumatra tak Cukup Setahun

13 hours ago 6
 Pemulihan Bencana Sumatra tak Cukup Setahun Mendagri Tito Karnavian.(dok.MI)

MENTERI Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan pemulihan dampak bencana besar yang melanda tiga provinsi di Sumatra tidak mungkin dapat dituntaskan hanya dalam waktu satu tahun. Luasnya wilayah terdampak dan besarnya kerusakan membuat proses rehabilitasi membutuhkan waktu lebih panjang.

"Jujur saja ini, luasnya dampak ini memerlukan waktu. Tidak bisa diselesaikan dalam waktu setahun saja. Saya jamin tidak akan bisa. Ini bukan satu hamparan," kata Tito di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (5/8).

Menurut Tito, pemerintah tidak ingin menyederhanakan persoalan karena skala bencana kali ini sangat besar. Bencana tersebut melanda tiga provinsi dengan total 53 kabupaten/kota dan 4.593 desa terdampak.

"Jarang-jarang ada bencana tiga provinsi. Jumlah kabupaten kota terdampak 53. Nah, enggak main-main. Pernahkah 53 kabupaten kota terdampak dalam satu bencana? Kayaknya di zaman modern enggak ada," ujarnya.

Data pemerintah hingga 4 Agustus menunjukkan kerusakan terjadi di berbagai sektor. Sebanyak 4.922 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan ringan hingga berat, disusul 954 fasilitas kesehatan dan 1.593 tempat ibadah.

Di sektor infrastruktur, sebanyak 1.193 jembatan terdampak akibat ambrol, jebol, atau putus. Kerusakan juga terjadi pada 2.495 ruas jalan pusat maupun daerah, serta 1.300 fasilitas umum.

Korban jiwa terus bertambah seiring pembaruan data. Hingga 4 Agustus, jumlah korban meninggal mencapai 1.207 orang, sementara 138 orang masih dinyatakan hilang.

Kerusakan rumah juga sangat besar. Tercatat sebanyak 184.149 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas sekitar 95 ribu rumah rusak ringan, lebih dari 43 ribu rumah rusak sedang, serta 45.222 rumah rusak berat atau hilang akibat longsor maupun hancur.

Tito mengatakan, sepanjang kariernya sebagai anggota Polri hingga menjadi Menteri Dalam Negeri, ia belum pernah menyaksikan bencana dengan cakupan seluas ini.

"Bagi saya sendiri pribadi, sebagai mantan polisi, yang pernah menjadi Kapolres, Kapolda, Kapolri hingga menjadi Menteri Dalam Negeri, saya belum pernah mengalami peristiwa bencana yang seluas ini. Pernah saya mengalami gempa bumi, longsor, tsunami di Palu, pernah di Lombok, tapi tidak seluas ini," katanya.

Ia menjelaskan, penanganan terus dilakukan di seluruh daerah terdampak. Di Sumatra Barat, sebagian besar wilayah sudah kembali normal, namun Kabupaten Agam dan Padang Pariaman masih menjadi perhatian khusus.

Di Sumatra Utara, pemerintah masih memfokuskan penanganan di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara. Sementara di Aceh, tujuh kabupaten masih memerlukan perhatian khusus sehingga pemerintah mengerahkan sekitar 3.000 mahasiswa IPDN untuk membantu percepatan pemulihan.

Menurut Tito, tantangan terbesar berada di wilayah dataran tinggi yang mengalami longsor, perubahan aliran sungai, serta kerusakan jalan dan jembatan. Karena itu, pemerintah akan melanjutkan rehabilitasi secara bertahap hingga seluruh wilayah dapat kembali pulih. (Mir/P-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |