Kehamilan remaja di bawah 20 tahun berisiko.(Dok. Magnific)
KEHAMILAN pada usia remaja di bawah 20 tahun menjadi perhatian serius dalam dunia kesehatan global karena membawa risiko medis yang signifikan bagi ibu maupun bayi. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sekitar 21 juta kehamilan terjadi setiap tahun pada remaja usia 15-19 tahun di negara berpendapatan rendah dan menengah, dengan hampir separuhnya merupakan kehamilan tidak direncanakan.
Secara statistik, ibu berusia 10-19 tahun menghadapi ancaman kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan berusia 20-24 tahun. Beberapa komplikasi serius yang mengintai antara lain preeklamsia, eklamsia, endometritis setelah melahirkan, hingga infeksi sistemik.
Preeklamsia, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi setelah usia kehamilan 20 minggu, dapat berkembang menjadi eklamsia jika tidak ditangani. Eklamsia merupakan kondisi fatal berupa kejang yang mengancam nyawa ibu dan janin, sehingga memerlukan penanganan medis darurat segera.
Selain itu, risiko endometritis atau peradangan pada lapisan dalam rahim juga menghantui ibu muda pascapersalinan. Gejala seperti demam dan nyeri perut bawah harus diwaspadai agar infeksi tidak menyebar ke seluruh tubuh.
Dampak kesehatan ini juga meluas pada bayi yang dilahirkan. Bayi dari ibu remaja memiliki risiko lebih tinggi mengalami berat badan lahir rendah (BBLR), kondisi neonatal berat, hingga kelahiran prematur (lahir sebelum 37 minggu). Data tahun 2020 mencatat sekitar 13,4 juta bayi lahir prematur di seluruh dunia.
Mayo Clinic mengategorikan kehamilan di bawah usia 20 tahun sebagai kehamilan berisiko tinggi. Oleh karena itu, pemeriksaan antenatal secara rutin sangat krusial untuk memantau perkembangan janin dan mendeteksi komplikasi sedini mungkin tanpa adanya stigma sosial.
WHO menekankan bahwa persoalan ini tidak hanya bersifat medis, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sistemik seperti kemiskinan, perkawinan anak, serta terbatasnya akses terhadap informasi kesehatan reproduksi. Dukungan medis dan pendidikan menjadi kunci utama dalam menekan angka risiko kehamilan remaja secara global. (HealthyChildren/National Health Service (NHS)/Z-10)


















































