Mengapa Manusia Baru Panik Saat Alam Membalas?

2 hours ago 2

Oleh: Suryanto, Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kita sering menyebut banjir, longsor, panas ekstrem, dan rusaknya pangan sebagai bencana alam. Padahal, bencana itu kerap lahir jauh sebelum hujan turun atau suhu melonjak. Ia bermula ketika lereng dikeruk, kawasan lindung diserobot, sungai dikotori, dan hutan diperlakukan sekadar sebagai persediaan yang boleh dihabiskan. Di Merapi, tambang pasir ilegal mencederai kawasan taman nasional.

Di Sumatra Utara, kawasan lindung harus dibersihkan dari sawit ilegal. Di Kalimantan Timur, lubang bekas tambang batubara menjadi sorotan dari Samboja hingga Samarinda. Polanya sama: manusia mengambil dari bumi tanpa jeda, lalu gemetar ketika bumi mengembalikan akibatnya.

Hari Bumi yang diperingati pada 22 April 2026 dengan tema Our Power, Our Planet semestinya tidak berhenti sebagai slogan hijau tahunan. Ia mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman: mengapa manusia begitu giat merusak, tetapi begitu lambat memperbaiki?

Padahal psikologi lingkungan juga mengajarkan hal sebaliknya: manusia cenderung menjaga apa yang ia rasa dekat dan ia cintai. Konsep place attachment menjelaskan bahwa ikatan batin dengan tempat—dengan kampung, sungai, sawah, hutan, dan ruang hidup—dapat menumbuhkan tanggung jawab untuk merawat. Orang yang merasa bumi hanya sebagai komoditas akan mudah mengeksploitasinya. Tetapi orang yang merasa bumi adalah rumah akan lebih rela menahan diri. Karena itu, krisis lingkungan sesungguhnya juga krisis relasi: manusia kehilangan kedekatan emosional dengan alam, lalu memperlakukannya hanya sebagai objek untung-rugi.

Lalu bagaimana nasib bumi ke depan? Jika manusia terus berjalan di jalur yang sama, masa depan akan menjadi lebih panas, lebih rapuh, dan lebih tidak adil. Cuaca ekstrem akan lebih sering, tekanan pada pangan dan air akan membesar, dan kelompok rentan akan menanggung beban yang makin berat. Bumi memang tidak kiamat besok pagi, tetapi kerakusan hari ini sedang menyiapkan masa depan yang jauh lebih keras bagi generasi mendatang.

Dalam perspektif Islam, sikap seperti itu sesungguhnya telah lama diingatkan. Al-Qur’an menegaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena ulah tangan manusia, agar mereka merasakan akibat perbuatannya lalu kembali ke jalan yang benar. Al-Qur’an juga melarang manusia membuat kerusakan di bumi setelah Allah menatanya dengan baik. Rasulullah mengingatkan bahwa dunia ini hijau dan indah, dan manusia ditempatkan di dalamnya untuk dilihat bagaimana ia bertindak. Karena itu, isu lingkungan dalam Islam tidak berhenti pada tata kelola, tetapi masuk ke jantung akhlak: apakah manusia hadir sebagai penjaga amanah atau sebagai perusak yang pandai berkilah.

Masalahnya, manusia modern sesungguhnya tidak miskin pengetahuan. Kita tahu tentang emisi, polusi, deforestasi, krisis air, dan sampah plastik. Namun pengetahuan itu kerap kalah oleh kebiasaan dan kenyamanan. Orang dapat mengutuk kerusakan lingkungan, tetapi tetap hidup boros energi, konsumtif, dan abai terhadap sampahnya sendiri. Kita fasih berbicara tentang keberlanjutan, (sustainability) tetapi tetap hidup dalam budaya penghabisan.

Yang lebih berbahaya, manusia mudah menormalisasi kerusakan. Sungai keruh dianggap biasa. Udara panas kota diterima sebagai nasib. Bukit gundul tak lagi mengejutkan. Yang semula terasa salah berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Di titik itulah nurani ekologis mulai tumpul.

Padahal tanda-tanda bahwa bumi sedang sakit sudah terlalu terang untuk diabaikan. WMO mencatat periode 2015–2025 sebagai sebelas tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern. Tahun 2025 sendiri menjadi salah satu yang terpanas, dengan suhu global sekitar 1,43 derajat Celsius di atas rata-rata era praindustri. Ini menegaskan bahwa bumi sedang didorong keluar dari keseimbangannya oleh cara hidup manusia yang rakus.

Akibatnya tidak berhenti pada grafik ilmiah. Gelombang panas ekstrem mengancam sistem pangan global, merusak tanaman, mengganggu ternak dan perikanan, melemahkan hutan, menurunkan hasil panen, serta memperparah kekeringan. Namun beban terberat justru dipikul oleh mereka yang paling kecil andilnya dalam merusak bumi: petani kecil, nelayan, buruh harian, anak-anak, dan keluarga miskin.

Indonesia sendiri masih dianugerahi kekayaan ekologis yang besar. Namun hutan yang luas tidak otomatis aman bila cara pandang kita tetap eksploitatif. Tambang ilegal di kawasan konservasi, sawit ilegal di wilayah suaka, dan berbagai pelanggaran di kawasan hutan menunjukkan bahwa ancaman terhadap bumi itu nyata, dekat, dan sering dilakukan secara sadar.

Padahal manusia cenderung menjaga apa yang ia rasa dekat dan ia cintai. Ketika bumi hanya dilihat sebagai komoditas, ia mudah dieksploitasi. Tetapi ketika bumi dirasakan sebagai rumah, manusia akan lebih rela menahan diri. Karena itu, krisis lingkungan juga krisis relasi: manusia kehilangan kedekatan emosional dengan alam, lalu memperlakukannya hanya sebagai objek untung-rugi.

Jika manusia terus berada di jalur yang sama, masa depan akan menjadi lebih panas, lebih rapuh, dan lebih tidak adil. Cuaca ekstrem akan lebih sering, tekanan pada pangan dan air akan membesar, dan kelompok rentan akan menanggung beban yang makin berat. Bumi memang tidak kiamat besok pagi, tetapi kerakusan hari ini sedang menyiapkan masa depan yang jauh lebih keras bagi generasi mendatang.

Karena itu, setelah 22 April berlalu, yang dibutuhkan bukan tambahan seremoni, melainkan pertobatan ekologis. Dalam Islam, menjaga bumi bukan aksesori kesalehan, melainkan bagian dari amanah kekhalifahan. Lawan dari fasad bukan hanya tidak merusak, tetapi juga ishlah: memulihkan, merawat, menahan diri, dan meninggalkan bumi dalam keadaan lebih baik. Nabi bahkan mengajarkan bahwa bila hari kiamat datang sementara di tangan seseorang masih ada tunas tanaman, maka bila mampu ia tetap diminta menanamnya.

Maka pertanyaan terbesar setelah Hari Bumi bukanlah apakah alam sedang marah, melainkan apakah manusia masih mau belajar. Sebab bumi sesungguhnya tidak pernah meminta dipuja. Ia hanya meminta diperlakukan dengan adil. Dan bila kita terus menolak pelajaran itu, anak-cucu kita mungkin tidak lagi mewarisi bumi yang ramah, melainkan bumi yang letih. Di situlah iman diuji. Apakah kita akan tetap menjadi generasi yang pandai mengambil, atau berani menjadi generasi yang mulai memperbaiki.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |