Menlu AS Marco Rubio membela serangan udara terhadap kapal kartel narkoba di Amerika Latin. Ia menyebut kelompok kriminal ini dapat "memakan negara hidup-hidup."(AFP)
MENTERI Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, membela kebijakan kontroversial terkait serangan udara terhadap kapal-kapal yang dicurigai terlibat dalam penyelundupan narkoba. Hal tersebut disampaikan Rubio dalam kunjungannya ke Ekuador pada Rabu waktu setempat.
Rubio menilai kartel-kartel narkoba di Amerika Latin akan "memakan negara-negara ini hidup-hidup" jika dibiarkan tanpa tindakan tegas. Mengapresiasi lahirnya generasi baru pemimpin konservatif di kawasan yang bersekutu dengan Presiden Donald Trump, Rubio menyebut Washington telah menemukan mitra yang bersedia bertindak "sangat agresif" melawan kelompok kriminal.
Sejak Trump kembali memegang tampuk kekuasaan, AS mengadopsi kebijakan serangan udara terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur penyelundupan utama di Karibia dan Pasifik timur. Data Pentagon mencatat operasi militer tersebut telah menewaskan lebih dari 200 orang.
Meski demikian, kampanye militer ini menuai kritikan dari kelompok hak asasi manusia, para nelayan, dan keluarga korban. Mereka mempertanyakan dasar penargetan kapal yang dinilai minim bukti keterkaitan dengan jaringan narkoba. Sejumlah pakar juga meragukan efektivitas operasi ini dalam menekan arus masuk kokain dan obat-obatan terlarang ke AS.
Usai menggelar pertemuan dengan Presiden Ekuador Daniel Noboa di Quito, Rubio menegaskan operasi penyerangan kapal akan terus berlanjut.
"Jika Anda tidak mengonfrontasi kelompok-kelompok ini, mereka akan memakan negara-negara ini hidup-hidup," ujar Rubio memberikan peringatan. "Ini seperti kanker yang terus tumbuh sampai Anda benar-benar tidak memiliki negara lagi."
Ia menambahkan apresiasinya terhadap para pemimpin di kawasan tersebut.
"Saya senang kita memiliki pemimpin-pemimpin di kawasan ini yang serius menindak kelompok-kelompok tersebut, karena jika tidak, kita akan mendapati negara gagal demi negara gagal," tegasnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, terdapat indikasi perubahan taktik di lapangan. Patroli bersama antara AS dan Ekuador tercatat mulai mengevakuasi awak kapal dari setidaknya enam perahu sebelum menenggelamkan armada tersebut. Rubio menjelaskan keputusan di lapangan diambil kasus per kasus bergantung pada tingkat ancaman, lokasi perairan, serta hukum lokal.
"Ketika Anda melakukan operasi bersama di wilayah perairan teritorial, Anda harus mencapai pemahaman mengenai bagaimana operasi tersebut akan dilaksanakan," jelas Rubio.
Saat ditanya mengenai potensi penghancuran kapal di masa depan, Rubio memberikan tanggapannya. "Yah, sekali lagi, itu tergantung, dan kami masih meledakkan kapal-kapal," jawabnya.
Ia menegaskan bahwa fokus utama berada pada penumpasan jalur penyelundupan, bukan pada metode penindakannya. Di Ekuador saja, lebih dari 25.000 orang tewas terbunuh dalam tiga tahun terakhir akibat persaingan antargeng narkoba untuk menguasai jalur distribusi.
"Kita sedang berbicara tentang teroris yang, dalam banyak kasus, memiliki senjata dan peralatan yang menyerupai tentara nasional negara-negara tertentu," tambah Rubio.
Selama di Quito, Rubio juga mengumumkan penetapan geng Los Tiguerones sebagai "organisasi teroris" serta menjatuhkan sanksi terhadap tujuh mantan pejabat Ekuador. Kelompok Los Tiguerones sempat menjadi sorotan internasional pada awal tahun 2024 setelah anggotanya yang berpenutup wajah menyerbu studio TV saat siaran langsung.
Kunjungan Rubio ke Kolombia dan Ekuador merupakan bagian dari rangkaian tur kawasan sebelum bertolak ke Peru untuk menemui Presiden Keiko Fujimori. Di Peru, Rubio dijadwalkan bakal mendorong inisiatif kemitraan keamanan bernama "Shield of the Americas" guna memperkuat pengaruh AS di Amerika Latin. (AFP/Z-2)


















































