Venus, seperti yang terlihat oleh wahana antariksa Akatsuki Jepang pada 30 Maret 2018.(JAXA/Tim Proyek PLANET-C)
PELUNCURAN misi eksplorasi luar angkasa berbujet swasta pertama ke Planet Venus dipastikan masih harus tertunda. Penundaan ini terjadi karena tim peneliti masih menunggu kesiapan roket peluncur utama, yaitu roket Neutron buatan perusahaan kedirgantaraan Rocket Lab.
Profesor ilmu planet dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Sara Seager, mengonfirmasi bahwa proyek penelitian bernama Morning Star Missions to Venus tersebut telah dialihkan pengangkutannya ke roket berkapasitas lebih besar tersebut.
"Kami menyebut diri kami Morning Star Missions to Venus. Misi Rocket Lab adalah misi pertama dalam seri ini. Rocket Lab memindahkan proyek ini ke roket Neutron, dan kami sedang menunggu kesiapan Neutron," ujar Sara Seager.
Roket Neutron awalnya dijadwalkan melakukan debut penerbangannya pada 2024. Penerbangan perdana roket ini rencananya dilaksanakan dari Launch Complex 3 milik Rocket Lab di Wallops Island, Virginia, setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pengujian kualifikasi dan program penerimaan kendaraan.
Meski jadwal peluncuran terhambat oleh kesiapan roket pengangkut, persiapan teknis pada komponen wahana penjelajah Venus menunjukkan kemajuan yang signifikan. Rocket Lab menyediakan rangka luar untuk pelindung wahana (entry probe), sementara Pusat Penelitian Ames milik NASA mengembangkan perisai panas khusus yang disebut Heatshield for Extreme Entry Environment Technology (HEEET).
Perisai berbahan kain tenun khusus tersebut dirancang mampu melindungi instrumen sains dari paparan suhu ekstrem hingga 2.500 derajat Celsius saat memasuki atmosfer Venus. NASA telah menyerahkan perisai panas tersebut kepada Rocket Lab pada Maret 2025, dan saat ini wahana penjelajah tersebut disimpan di kantor pusat Rocket Lab di Long Beach. Selain itu, tabung bertekanan (pressure vessel) untuk wahana tersebut juga telah siap digunakan.
Dalam misi ini, Rocket Lab bertindak sebagai penyedia kendaraan peluncur, kendaraan jelajah (cruise vehicle), sekaligus wahana penjelajah yang membawa instrumen buatan tim pimpinan Seager. Tim peneliti juga tengah menyiapkan misi lanjutan untuk mengidentifikasi keberadaan molekul organik kompleks di atmosfer Venus.
"Setelah misi Rocket Lab, kami bertujuan untuk mengirimkan muatan ke Venus untuk mengidentifikasi molekul organik kompleks. Meskipun tujuan ini tidak akan menentukan apakah ada kehidupan, ini akan memastikan bahwa bahan-bahan untuk kehidupan atau molekul yang berpotensi digunakan oleh kehidupan memang ada," jelas Seager.
Untuk misi masa depan tersebut, tim Seager sedang mengembangkan dua jenis muatan utama. Pertama adalah laser desorption mass spectrometer bernama ORIGIN yang dibangun di Bern, Swis, serta balon udara selebar 5 meter yang dirancang mampu melayang di atmosfer Venus selama satu minggu waktu Bumi.
"Saya terus memiliki harapan besar untuk misi ini, dan untuk perannya dalam menunjukkan peran perusahaan swasta dalam eksplorasi ruang angkasa," pungkas Seager. (Space/Z-2)


















































