Sebuah bola kecil berwarna abu-abu meledak saat menabrak bola yang lebih besar berwarna coklat kemerahan(Robert Lea (dibuat oleh Canva))
VENUS sering kali dijuluki sebagai kembaran Bumi karena memiliki ukuran, massa, komposisi batuan, dan jarak ke Matahari yang mirip. Namun, salah satu perbedaan paling mencolok di antara keduanya adalah keberadaan satelit alami. Jika Bumi didampingi oleh Bulan, Venus justru tidak memiliki bulan sama sekali.
Di antara seluruh planet di Tata Surya, hanya Venus dan Merkurius yang tidak didampingi oleh bulan. Para ilmuwan pun telah lama mempertanyakan apakah Venus sejak awal memang tidak pernah memiliki bulan, atau sempat memilikinya lalu kehilangan satelit tersebut dalam perjalanan sejarahnya.
Kini, sebuah tim peneliti yang dipimpin Stephen R. Kane dari Universitas California, Riverside, berhasil menemukan potensi jawaban atas teka-teki tersebut melalui simulasi komputer.
"Saya selalu terpesona dengan pembentukan dan evolusi bulan di tata surya, khususnya Venus karena penelitian saya berpusat pada evolusi dan potensi huni masa lalunya," kata Kane kepada Space.com.
Tarikan Gravitasi yang Berakhir Fatal
Untuk menguji hipotesis mereka, Kane dan timnya membangun simulasi fisik dari awal guna memodelkan 'tarik tambang' gravitasi antara Venus, hipotetis bulannya, dan Matahari selama miliaran tahun.
Hasil pemodelan menunjukkan bahwa orbit bulan di sekitar Venus tidak akan bergeser semakin menjauh secara aman seperti halnya Bulan yang perlahan menjauhi Bumi. Sebaliknya, jalur orbit bulan Venus kemungkinan besar akan berbalik arah dan spiral mendekat ke dalam planet. Akibatnya, gravitasi Venus yang sangat kuat akan mencabik-cabik dan menghancurkan satelit tersebut.
Ukuran bulan yang besar pun tidak menjamin keselamatannya dari kehancuran ini.
"Aspek yang menarik adalah bahwa bulan yang lebih berat justru hancur lebih cepat, karena bulan yang masif akan menguras rotasi Venus dengan sangat efisien sehingga mempercepat kehancurannya sendiri," ujar Kane.
Syarat Sempit untuk Bertahan Hidup
Berdasarkan simulasi tersebut, sebuah bulan hanya bisa bertahan hidup di sekitar Venus di bawah kondisi yang sangat spesifik dan sempit.
"Kelangsungan hidup bermuara pada dua hal utama: Venus harus berotasi cepat saat bulan terbentuk, dengan durasi hari kurang dari sekitar 12 jam, dan ukuran bulannya tidak boleh terlalu masif, maksimal mendekati massa Bulan kita," jelas Kane.
Namun, kondisi ideal ini dipandang tidak sesuai dengan perkiraan kondisi Venus pada masa awal pembentukannya.
Mencari bukti langsung atas peristiwa yang terjadi miliaran tahun lalu ini memang sangat sulit melalui pengamatan teleskop saat ini. Meski begitu, para peneliti berharap bukti tidak langsung berupa 'jejak kimiawi' dari puing-puing bulan yang jatuh dapat terdeteksi di atmosfer Venus.
Eksplorasi masa depan, seperti misi DAVINCI (Deep Atmosphere Venus Investigation of Noble gases, Chemistry, and Imaging) milik NASA, diharapkan mampu mengukur komposisi atmosfer Venus secara terperinci untuk menguji teori ini lebih lanjut. Penelitian ilmiah ini telah diunggah sebagai makalah pra-cetak di repositori arXiv. (Space/Z-2)


















































