Seorang warga Iran memegang poster pemimpin tertinggi baru Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei di Teheran, Iran, 11 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, telah mengklaim “kemenangan pamungkas” dalam perang dengan Israel dan Amerika Serikat. Khamenei mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Kamis bahwa, selama perang, Iran telah “mencengangkan dunia”.
Menandai 40 hari sejak ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang syahid dalam serangan AS-Israel pada hari pertama perang, Khamenei menegaskan tuntutan Iran selepas gencatan senjata.
Khamenei (58 tahun) yang belum terlihat atau terdengar kabarnya sejak perang dimulai, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di televisi bahwa Teheran tidak bermaksud berperang tetapi memperjuangkan hak-haknya yang sah.
“Kami tentu saja tidak akan membiarkan pelaku kriminal yang menyerang negara kami tanpa hukuman,” katanya, seraya menambahkan bahwa Iran akan “menuntut kompensasi atas semua kerusakan, serta darah para syuhada dan korban luka”.
Mengenai Selat Hormuz, yang secara efektif diblokade oleh Iran sejak perang pecah pada tanggal 28 Februari dan telah menjadi titik penting dalam proposal AS-Iran untuk mengakhiri perang, Khamenei mengatakan bahwa negaranya akan bergerak menuju “fase baru” tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Pada Rabu, AS dan Iran menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dalam kesepakatan yang dimediasi oleh Pakistan untuk memungkinkan negosiasi dilakukan, setelah serangan terhadap negara-negara Teluk dan penutupan Selat Hormuz telah menimbulkan kekhawatiran akan konflik yang lebih panjang yang dampaknya akan terasa lama setelah konflik tersebut berakhir.
Sebagai bagian dari gencatan senjata, Iran setuju untuk mengizinkan pengiriman barang melewati jalur perairan penting tersebut, dan terdapat laporan bahwa Teheran akan mengenakan biaya pada kapal yang transit di selat tersebut untuk mendanai upaya rekonstruksi negara tersebut.

3 hours ago
2















































