Naik Kelas, Standar Hijau Masuk ke Segmen Rumah Subsidi

2 weeks ago 5
Naik Kelas, Standar Hijau Masuk ke Segmen Rumah Subsidi Direktur Utama Infiniti Land sekaligus Bendahara Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Samuel S. Huang.(Dok. MI)

RUMAH subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) mulai memasuki fase baru dengan penerapan standar bangunan berkelanjutan. Meski membutuhkan biaya pembangunan lebih tinggi, sejumlah pengembang mulai menghadirkan hunian dengan konsep ramah lingkungan tanpa mengubah harga jual yang telah ditetapkan pemerintah.

Direktur Utama Infiniti Land sekaligus Bendahara Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Samuel S. Huang mengatakan, penerapan standar Bangunan Gedung Hijau (BGH) menjadi bentuk komitmen pengembang dalam menghadirkan rumah subsidi yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga berkualitas dan nyaman bagi masyarakat.

“Komitmen kami adalah membangun dengan hati. Ada perjuangan yang harus dijalankan sungguh-sungguh untuk meraih sertifikat Bangunan Gedung Hijau, mengingat biaya produksi untuk membangun rumah bersertifikat BGH predikat utama itu lebih tinggi 8-12% dari membangun rumah biasa,” kata Samuel dalam diskusi bertajuk “Punya Rumah, Punya Karir, Masih Mungkinkah?” yang digelar Universitas Indonesia (UI) dan IQI Malaysia di Kampus UI Salemba, Jakarta, belum lama ini.

Samuel menjelaskan, Perumahan Mulia Gading Kencana (MGK) Serang menjadi salah satu contoh penerapan konsep hunian hijau pada segmen rumah subsidi. Proyek tersebut berhasil memperoleh sertifikat Bangunan Gedung Hijau (BGH) Predikat Utama dari Kementerian PUPR, sekaligus menjadi perumahan subsidi pertama yang mendapatkan predikat tersebut.

Menurutnya, pencapaian itu diperoleh melalui proses seleksi, survei, dan kajian panjang yang dilakukan pemerintah. Terdapat tujuh aspek utama yang harus dipenuhi, mulai dari pengelolaan tapak, efisiensi energi, efisiensi air, kualitas udara dalam ruang, penggunaan material ramah lingkungan, pengelolaan sampah, hingga pengelolaan limbah.

Salah satu penerapan konsep hijau tersebut dilakukan melalui penyediaan infrastruktur pengelolaan air. Di MGK Serang, pengembang menyiapkan lebih dari dua hektare lahan untuk kolam retensi yang berfungsi menampung air hujan dan limbah rumah tangga sebelum dialirkan sesuai standar.

“Kami siapkan lebih dari 2 hektar lahan untuk menampung air hujan dan limbah air rumah tangga, sebelum berproses dan sesuai standar untuk disalurkan ke sungai,” ujar Samuel.

Selain pengelolaan air, konsep efisiensi energi juga diterapkan melalui desain bangunan yang memaksimalkan pencahayaan dan sirkulasi udara alami. Rumah tersebut menggunakan lampu LED serta rancangan ruang dengan tinggi plafon yang lebih optimal agar suhu dalam rumah tetap nyaman.

“Untuk sirkulasi udara dan pencahayaan di dalam rumah, plafon ruang tamu kami buat setinggi 3,5 meter dan ceiling kamar setinggi 2,8 meter. Hal ini membuat udara sejuk di dalam ruangan dan tidak perlu pakai AC. Tapi jika memang perlu pasang AC, kapasitasnya cukup 1/2 PK,” jelasnya.

Samuel menilai penerapan standar bangunan hijau pada rumah subsidi menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri properti. Pasalnya, pengembang harus menjaga kualitas bangunan di tengah harga jual rumah subsidi yang telah ditentukan pemerintah.

“Untuk perumahan subsidi, syarat itu tidak mudah karena harga jual rumah subsidi sudah dipatok pemerintah. Namun kami menjalankan syarat tersebut sepenuh hati agar masyarakat yang membeli rumah pertama mereka bisa menikmati hunian berkualitas dengan ruang terbuka hijau yang memadai,” katanya.

Selain aspek bangunan, pengembang juga mulai menyesuaikan strategi pemasaran dengan perkembangan teknologi. Samuel menyebut kanal digital kini menjadi salah satu sumber utama penjualan properti.

“Mau tidak mau, kita harus mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Bisa kami sampaikan bahwa 80 persen penjualan kami saat ini adalah dari sosial media, bukan lagi hanya bagi-bagi brosur,” ujarnya.

Menurut Samuel, transformasi digital dan penerapan konsep hunian berkelanjutan menjadi bagian dari perubahan industri properti dalam menjawab kebutuhan generasi muda yang semakin memperhatikan kualitas tempat tinggal.

Di tengah tantangan kenaikan harga material dan biaya logistik, ia menilai pengembang perlu terus melakukan inovasi agar pembangunan rumah subsidi tetap berjalan tanpa mengurangi kualitas.

“Pengembang harus bisa kreatif dan mencari jalan keluar. Efisiensi penggunaan material dan pengawasan harus dilakukan dengan ketat agar tidak ada material yang terbuang,” pungkasnya. (Z-10)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |