Ilustrasi(Magnific)
FASE menopause kerap diidentikkan dengan keluhan fisik seperti gelombang panas (hot flashes) hingga gangguan tidur. Namun, perubahan hormon di masa transisi ini rupanya juga berdampak langsung pada kemampuan kognitif otak, mulai dari penurunan daya fokus, kesulitan membuat perencanaan, hingga tantangan saat berganti tugas.
Kabar baiknya, sebuah analisis terbaru mengungkapkan solusi sederhana namun efektif untuk mengatasi persoalan tersebut. Olahraga aerobik yang dilakukan secara teratur terbukti mampu meningkatkan fungsi eksekutif otak, dengan dampak positif paling signifikan terlihat pada perempuan yang telah memasuki masa pasca-menopause.
Fungsi eksekutif sendiri merupakan serangkaian keterampilan mental yang krusial untuk mengorganisasi kehidupan sehari-hari, mengambil keputusan, serta mempertahankan kemandirian seiring bertambahnya usia. Keterampilan ini rawan melemah akibat faktor penuaan dan penurunan kadar hormon estrogen. Mengingat perempuan memiliki risiko terkena demensia dua kali lebih tinggi dibandingkan pria, para peneliti ingin mengetahui apakah respons otak terhadap olahraga ikut berubah seiring fase menopause.
Metode Penelitian dan Program Latihan
Penelitian ini dipimpin Sharon Sanz Simon, Asisten Profesor Psikiatri di Rutgers New Jersey Medical School. Analisis tersebut melibatkannya pada 93 perempuan sehat berusia 20 hingga 67 tahun yang memiliki tingkat kebugaran aerobik di bawah rata-rata serta tidak rutin berolahraga.
"Semua peserta memulai studi dengan tingkat kebugaran kardiorespirasi di bawah rata-rata dan tidak berolahraga secara teratur. Hal ini membuat hasilnya relevan secara langsung bagi perempuan usia paruh baya dan lanjut usia pada umumnya, bukan hanya mereka yang sudah aktif berolahraga," ujar Sanz Simon.
Dalam riset ini, peserta dibagi menjadi dua kelompok:
- Kelompok Aerobik (47 perempuan): Melakukan latihan menggunakan treadmill, sepeda statis, atau mesin elliptical. Sesi latihan terdiri dari 10–15 menit pemanasan dan pendinginan, serta 45 menit latihan aerobik utama dengan intensitas hingga 75 persen dari detak jantung maksimal.
- Kelompok Pembanding (46 perempuan): Melakukan latihan peregangan, kelenturan, serta olahraga intensitas rendah untuk otot perut, punggung, dan panggul.
Kedua kelompok menjalani latihan sebanyak empat kali seminggu selama enam bulan dengan pendampingan rutin.
Peningkatan Kognitif Terlihat Jelas
Para peneliti menguji berbagai fungsi kognitif, termasuk kecepatan pemrosesan, ingatan, dan fungsi eksekutif, sebelum program dimulai, pada bulan ketiga, dan pada bulan keenam. Selain itu, tes darah juga dilakukan untuk mengukur kadar estradiol (salah satu bentuk utama estrogen).
Hasilnya menunjukkan peningkatan paling tajam pada fungsi eksekutif perempuan pasca-menopause yang menjalani latihan aerobik. Capaian ini melampaui kelompok perempuan pasca-menopause yang hanya melakukan peregangan, sekaligus lebih tinggi dibandingkan kelompok perempuan pra-menopause yang menjalani program aerobik serupa.
"Perempuan pasca-menopause yang menyelesaikan latihan aerobik menunjukkan peningkatan fungsi eksekutif yang lebih besar, kemampuan mental yang kita gunakan untuk fokus, merencanakan, dan beralih di antara beberapa tugas, dibandingkan mereka yang berada dalam kelompok peregangan atau kelompok perempuan pra-menopause," kata Sanz Simon.
Temuan ini menegaskan bahwa penurunan fungsi kognitif pasca-menopause bukanlah hal yang mutlak. Dengan rutin berolahraga aerobik, perempuan dapat menjaga ketajaman pikiran dan kesehatan otak secara optimal di masa tua. (Earth/Z-2)


















































