ilustrasi(Magnific)
BEROLAHRAGA dan aktif bergerak secara konsisten terbukti membawa dampak positif bagi kesehatan otak. Namun, studi meta-analisis terbaru mengungkapkan bahwa konteks atau alasan di balik aktivitas fisik tersebut memegang peranan kunci.
Dikutip dari Eeating Well, olahraga di waktu senggang dapat menekan risiko demensia hingga 24 persen. Sementara kerja fisik yang memicu beban kerja berat justru berisiko meningkatkan ancaman pikun.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Public Health tersebut diampu oleh tim peneliti dari University of Southern California menganalisis data lebih dari 4,2 juta orang dewasa di 30 negara selama periode pemantauan 10 tahun, riset ini mengevaluasi dampak pergerakan tubuh berdasarkan empat kategori: rekreasi, pekerjaan, aktivitas rumah tangga, dan perjalanan harian (active commuting).
Hasil analisis menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan di waktu senggang (leisure-time physical activity) dikaitkan dengan risiko demensia yang 24 persen lebih rendah. Sebaliknya, aktivitas fisik berbeban berat yang dilakukan di lingkungan kerja (occupational physical activity) justru dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia hingga 20 persen lebih tinggi.
Fenomena 'Paradoks Aktivitas Fisik' pada Otak
Penelitian mencatat perbedaan signifikan pada dampak kesehatan otak bergantung pada jenis aktivitas yang dilakukan:
- Olahraga Rekreasi (Waktu Senggang): Menurunkan risiko demensia sebesar 24%. Aktivitas yang dipilih secara sukarela seperti berjalan santai, berenang, atau menari memberi efek perlindungan kognitif optimal.
- Kerja Fisik di Tempat Kerja (Occupational): Meningkatkan risiko demensia hingga 20%. Gerakan berulang di bawah tekanan pekerjaan tanpa waktu pemulihan memadai tidak memberi dampak terapeutik bagi otak.
- Aktivitas Rumah Tangga & Perjalanan: Gerakan rumah tangga seperti berkebun menurunkan risiko hingga 15%, sedangkan jalan kaki atau bersepeda jarak jauh untuk komuter berisiko meningkatkan angka kejadian hingga 10%.
Para ahli menjelaskan kondisi ini melalui fenomena Physical Activity Paradox. Berbeda dengan olahraga rekreasi yang memicu pelepasan hormon kebahagiaan dan relaksasi, kerja fisik berat di tempat kerja kerap disertai stres kronis, otonomi tubuh yang rendah, fatigue, serta kurangnya waktu istirahat yang efektif.
Untuk menjaga ketajaman ingatan dan fungsi kognitif hingga usia lanjut, pakar kesehatan menyarankan masyarakat untuk meluangkan waktu khusus untuk olahraga rekreasi yang menyenangkan. Aktivitas sederhana seperti jalan cepat selama 20–30 menit setelah bekerja, berolahraga kelompok, hingga berkebun di akhir pekan terbukti menjadi investasi jangka panjang yang ampuh dalam meredakan risiko Alzheimer dan demensia vaskular.
(Eatingwell/P-4)


















































