ilustrasi(Antara)
Gas bumi semestinya tidak hanya dipandang sebagai komoditas energi untuk diperjualbelikan lalu dibakar. Di balik molekul gas itu sendiri, tersimpan nilai ekonomi yang jauh lebih besar karena gas dapat berfungsi sebagai bahan baku berbagai industri sekaligus penggerak roda perekonomian nasional.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Sampe Purba, mantan Kepala Divisi Monetisasi Gas SKK Migas. Menurutnya, gas memiliki karakteristik yang unik; manfaatnya dapat menjangkau berbagai sektor apabila tersedia dalam volume yang memadai dan dengan harga yang kompetitif.
"Gas itu unik. Gas bukan sekadar komoditas untuk dijual, melainkan juga bahan baku ekonomi," ujar Sampe dikutip Rabu (9/9).
Di berbagai belahan dunia, pasar gas telah membuktikan tumbuhnya industri hilir dan industri pemanfaat gas yang memberikan nilai tambah saat gas bumi tersedia di wilayah tersebut. Sampe memaparkan bahwa setidaknya ada tiga sektor utama yang dapat memetik manfaat strategis dari gas bumi.
Tiga Sektor Strategis Pemanfaat Gas
Pertama, gas berperan dalam memperluas akses energi bagi masyarakat. Di sektor rumah tangga, gas digunakan untuk kebutuhan memasak melalui jaringan gas kota (jargas), maupun sebagai bahan bakar transportasi melalui pemanfaatan gas alam terkompresi (compressed natural gas/CNG) pada kendaraan komersial.
Manfaat yang jauh lebih besar terlihat nyata di sektor industri. Gas merupakan komponen krusial dalam berbagai aktivitas manufaktur, mulai dari industri pupuk, petrokimia, keramik, kaca, baja, pengolahan makanan, tekstil, pulp dan kertas, hingga pembangkit listrik mandiri (captive power).
Oleh karena itu, ketersediaan gas dengan harga yang terjangkau dinilai sangat vital demi keberlanjutan dan penguatan daya saing industri nasional.
"Gas tidak boleh hanya dilihat sebagai bahan bakar turbin atau boiler. Gas juga dapat berfungsi sebagai bahan baku (feedstock) yang mengolah bahan mentah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi," tutur Sampe.
Peran dalam Transisi Energi
Peran strategis gas tidak berhenti di sektor industri. Dalam sistem kelistrikan, gas berfungsi sebagai sumber energi yang fleksibel untuk menjaga stabilitas sistem saat pasokan listrik dari pembangkit energi terbarukan mengalami fluktuasi akibat faktor cuaca.
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, kapasitas pembangkit listrik tenaga gas diproyeksikan mencapai sekitar 10,3 GW. Sampe meyakini posisi ini menjadikan gas memegang peran penting dalam mendukung transisi energi, terutama sebagai pelengkap bagi pembangkit energi terbarukan yang produksinya bergantung pada kondisi alam.
Kendati demikian, Sampe mengingatkan agar tidak memandang gas sebagai solusi tanpa batas. Kebijakan gas nasional tetap harus mempertimbangkan keekonomian proyek, penetapan harga, kesiapan infrastruktur, serta agenda transisi energi.
Tiga Syarat Optimalisasi Manfaat Gas:
- Volume yang memadai.
- Ketersediaan infrastruktur yang tepat.
- Harga yang kompetitif.
“Manfaat bagi masyarakat akan terwujud apabila gas tersedia di bawah tiga kondisi tersebut. Jika salah satu saja tidak terpenuhi, manfaat gas tidak akan optimal," tegasnya.
Potensi South Andaman
Lebih lanjut, Sampe menyampaikan bahwa optimalisasi sumber daya gas Indonesia membutuhkan konsep pengembangan terbaik yang mampu menjawab kebutuhan daerah, sekaligus menyeimbangkan kelayakan teknis, kebijakan, keekonomian, hingga manfaat sosial-ekonomi.
Dalam konteks ini, pengembangan gas South Andaman oleh Mubadala Energy dinilai dapat menciptakan nilai jangka panjang bagi Aceh dan Indonesia. Hal ini mencakup dukungan terhadap ketahanan energi, pertumbuhan industri, penciptaan lapangan kerja, hingga peningkatan pendapatan negara.
"Proyek gas strategis seharusnya tidak hanya diukur dari volume produksinya semata, tetapi juga dari kemampuannya menghasilkan nilai yang berkelanjutan bagi masyarakat dan perekonomian secara luas," pungkasnya. (E-3)


















































