Pakar UGM: Enam Gunung yang Meletus Bersamaan tidak dalam Satu Sistem

1 week ago 23
 Enam Gunung yang Meletus Bersamaan tidak dalam Satu Sistem Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Indranova Suhendro, S.T., M.Sc(Dok UGM)

FENOMENA enam gunung berapi yang meletus dalam waktu hampir bersamaan, Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ile Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung tersebut tergolong tidak biasa karena kejadian serupa jarang ditemukan dalam beberapa dekade terakhir.

Aktivitas erupsi pada enam gunung api tersebut tidak menunjukkan semuanya berada dalam satu sistem vulkanik yang sama. Hal itu disampaikan dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Indranova Suhendro, S.T., M.Sc di kampus setempat, Selasa. Ia menjelaskan bahwa setiap gunung api memiliki karakteristik dan siklus aktivitasnya masing-masing. Kesamaan waktu erupsi, ujarnya lebih tepat dilihat sebagai pertemuan siklus aktivitas yang berbeda.

Ada gunung api yang memang memiliki frekuensi erupsi tinggi, seperti Semeru dan Anak Krakatau, sementara gunung lainnya memiliki periode istirahat yang lebih panjang sebelum kembali aktif. Ketika siklus-siklus tersebut beririsan pada satu periode, sejumlah gunung api dapat terlihat aktif secara bersamaan.

“Menurut saya ini lebih ke masalah timing”, ujarnya.

Menurut dia, kesamaan jalur subduksi di Indonesia juga tidak kemudian secara otomatis menunjukan adanya hubungan langsung antar sistem magma. Dikatakan setiap gunung memiliki sistem magma yang bekerja secara lokal sehingga erupsi di satu gunung tidak serta merta menjadi pemicu bagi gunung lainnya.

Ditegaskan kemungkinan keterkaitan dapat lebih terbuka pada gunung-gunung yang lokasinya berdekatan, tetapi kondisi tersebut berbeda dengan enam gunung yang saat ini tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Selat Sunda, Nusa Tenggara, dan Maluku. 

"Saat ini gunung-gunung yang mengalami erupsi berada pada posisi yang sangat jauh antar yang satu dengan yang lain, sehingga untuk membangkitkan satu sama lain itu nyaris tidak mungkin,” jelas Indranova.

Perbedaan sistem tersebut kemudian tercermin pada mekanisme erupsi masing-masing gunung. Pada Sinabung, Ibu, dan Semeru, Indranova menjelaskan adanya mekanisme ketika panas dari magma di bawah gunung memanaskan air yang tersimpan di tubuh gunung, sehingga tekanan dapat meningkat dan memicu erupsi freatik tanpa selalu disertai tanda kenaikan aktivitas kegempaan vulkanik yang jelas. Mekanisme semacam ini berbeda dengan erupsi magmatik pada Anak Krakatau yang berkaitan dengan magma dengan kandungan gas tinggi.

“Layaknya minuman bersoda, erupsi magmatik bersifat eksplosif disebabkan karena adanya nukleasi gas secara masif akibat proses dekompresi yang intens,” katanya. 

Jika sebagian aktivitas tersebut berlangsung melalui proses internal masing-masing gunung, faktor dari luar sistem gunung api dapat berperan pada kondisi tertentu.

Salah satu contoh yang disampaikan Indranova adalah peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik pada Lewotobi Laki-laki dan Ile Lewotolok setelah gempa di Flores, yang kemudian diikuti aktivitas erupsi. Ia mengaitkan kemungkinan tersebut dengan pengaruh guncangan gempa terhadap gas yang terlarut dalam magma, tetapi menegaskan bahwa mekanisme tersebut belum dapat dipastikan berlaku pada seluruh gunung api. 

 “Bukti bahwa gejala aktivitas kegempaan vulkanik pada Gunung Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki meningkat drastis pascagempa menjadi penanda kuat bahwa mereka dibangunkan oleh aktivitas kegempaan Flores, mirip seperti pada kasus erupsi Gunung Ruang tahun 2024 yang dibangunkan oleh gempa berkekuatan 6.5 M di sekitar Halmahera,” ungkapnya. 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah memang sedang berlangsung, tetapi masyarakat perlu melihatnya berdasarkan kondisi setiap gunung. Tingkat status gunung api menjadi salah satu indikator penting untuk memahami tingkat kewaspadaan, sementara karakter erupsi menentukan jenis bahaya yang perlu diantisipasi. 

Pada Semeru, misalnya, awan panas dapat bergerak mengikuti lereng dengan suhu dan kecepatan tinggi, sedangkan gunung seperti Sinabung, Ibu, dan Anak Krakatau dapat menghasilkan material jatuhan yang penyebarannya dipengaruhi angin. 

"Setiap gunung itu punya karakteristik erupsi masing-masing,” tutur Indranova.

Perbedaan karakter tersebut membuat dampak erupsi tidak berhenti pada kawasan di sekitar kawah. Abu vulkanik yang terbawa angin dapat mencapai wilayah yang lebih jauh dan mengganggu kualitas udara serta kesehatan, sementara gangguan terhadap penerbangan dapat merembet pada sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat perlu dibangun berdasarkan pemahaman mengenai jenis bahaya yang mungkin muncul di wilayahnya, bukan semata-mata berdasarkan informasi bahwa sebuah gunung sedang erupsi. 

“Kita harus sangat intens mengedukasi masyarakat untuk memberitahu bahwa ada bahaya yang jenisnya berbeda, ada yang jatuhan, ada yang aliran, supaya masyarakat lebih aware dan tidak panik,” katanya.

Untuk mendukung kesiapsiagaan tersebut, masyarakat dapat memanfaatkan MAGMA Indonesia, platform informasi yang menyediakan informasi aktivitas gunung api, termasuk status gunung dan peta kawasan rawan bencana. Melalui informasi tersebut, masyarakat dapat mengetahui perkembangan status gunung sekaligus melihat zonasi kawasan rawan bencana sebagai dasar untuk menentukan tindakan ketika aktivitas meningkat.

Penyediaan informasi perlu berjalan bersama dengan edukasi dan koordinasi antara pemerintah, akademisi, serta masyarakat agar pengetahuan kebencanaan dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang tepat. 

“Kalau kita memang mau menciptakan mitigasi yang baik, kita harus bisa mengombinasikan semua elemen itu antara pemerintah, kemudian akademisi, dan juga masyarakat,” ujarnya. (AU/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |