MI/Seno(Dok. Pribadi)
WAFATNYA John Esposito (JE, 1940-2026), ilmuwan sosial dan ahli Islam ternama dari Georgetown University, merupakan ‘awan kelam’ bagi sebagian akademisi, sarjana, dan praktisi di bidang relasi Kristen-Islam, serta bagi kajian keislaman maupun masyarakat muslim, khususnya di Amerika dan Barat pada umumnya. JE yang lahir di Brooklyn, New York, dari keluarga Katolik Italia-Amerika merupakan salah satu akademisi-praktisi nonmuslim di Amerika yang gigih membela Islam dan masyarakat muslim dari serbuan orang-orang Barat (baik elite maupun awam, pemerintah maupun rakyat, komunitas akademik maupun non-akademik) yang tidak simpatik terhadap Islam dan muslim.
Sebagian masyarakat Amerika sudah lama mengidap ‘penyakit’ islamofobia maupun ketidaksukaan terhadap Islam dan kaum muslim. Hal itu, misalnya, ditunjukkan oleh sikap (sebagian) orientalis yang banyak ‘menguliti’ Islam atau masyarakat muslim. Dalam bukunya, Good Muslim, Bad Muslim: America, the Cold War and the Roots of Terror, Mahmud Mamdani, antropolog Uganda, pengajar di Columbia University, dan ayah dari Wali Kota New York (Zohran Mamdani), menyebut kelompok ini sebagai ‘unfriendly orientalists’ (orientalis yang tidak ramah atau tidak bersahabat terhadap Islam/muslim), sebagai lawan dari ‘friendly orientalists (orientalis yang ramah atau bersahabat dengan Islam/muslim).
Namun, puncak ketidaksukaan atau antipati masyarakat Barat terhadap agama Islam dan masyarakat muslim terjadi pasca-tragedi teroris 9/11 pada 2001 di New York dan Washington DC, yang menewaskan nyaris 3.000 orang dan melukai ribuan lainnya. Tragedi terorisme terbesar dalam sejarah manusia ini dilakukan oleh komplotan teroris pembajak pesawat atas perintah Osama bin Laden yang sebagian besar dari mereka (17 dari 19 orang) berkebangsaan Saudi.
Sejak peristiwa tragis tersebut, wajah agama Islam dan umat muslim di Amerika betul-betul ‘bopeng’. Banyak masyarakat Amerika menganggap Islam sebagai ‘agama teroris’ yang mengajarkan kekerasan dan permusuhan terhadap umat nonmuslim, sementara umat Islam dianggap sebagai ‘teroris’ dan pelaku kejahatan, seperti Osama bin Laden.
Beberapa tahun setelah tragedi teroris itu, saya berada di Amerika (tepatnya di Virginia dan Boston) untuk melanjutkan studi S-2 dan S-3, dan memang merasakan aura islamofobia serta ketidaktahuan warga Amerika terhadap Islam dan muslim. Misalnya, ketika berdiskusi di kampus maupun gereja, banyak audiens yang menanyakan keterkaitan Islam dengan terorisme, kekerasan, dan kejahatan kemanusiaan lainnya, serta isu-isu terkait hubungan Islam dengan gender, demokrasi, kebebasan beragama, toleransi, pluralisme agama, dan sebagainya.
PEMBELA ISLAM/MUSLIM DI BARAT
Di tengah (sebagian) publik Barat yang bersikap ‘miring’ terhadap Islam dan muslim pasca-tragedi 9/11, JE tampil di garda depan sebagai pembela gigih agama Islam dan muslim, baik melalui forum-forum akademik (seminar, kuliah, konferensi) maupun melalui berbagai tulisan (buku, jurnal, kolom media, dan lain-lain). JE juga gigih mendekati pemerintah, elite politik, policymaker, stakeholder, dan lembaga think tank untuk membuat kebijakan yang tidak bias dan tidak diskriminatif terhadap umat Islam.
Melalui buku-bukunya, JE mencoba menjelaskan bahwa Islam dan masyarakat muslim tidak seburuk yang disangka dan dipersepsikan oleh sebagian masyarakat Barat. Selama hidupnya, JE telah menulis lebih dari 50 buku akademik (baik sebagai penulis tunggal, co-author, maupun editor). Di antara karya-karyanya tentang Islam/muslim yang populer ialah Islam: The Straight Path; Who Speaks for Islam? What a Billion Muslims Really Think (ditulis bersama Dalia Mogahed); What Everyone Needs to Know About Islam; Unholy War: Terror in the Name of Islam; dan The Islamic Threat: Myth or Reality. Selain buku-buku ini, JE juga menjadi editor-in-chief sejumlah karya referensi akademis tentang Islam/muslim yang diterbitkan oleh Oxford, seperti The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, The Oxford History of Islam, The Oxford Dictionary of Islam, The Oxford Encyclopedia of the Islamic World (6 jilid), dan Oxford Islamic Studies Online.
Penting untuk dicatat, JE bukan ahli Islam dadakan. Reputasinya dalam studi Islam tergolong panjang. Pada akhir 1960-an, ketika animo masyarakat Amerika, khususnya para akademisi, untuk mempelajari Islam masih langka, JE sudah mempelajarinya. Kala itu, ia mengambil program doktor dalam bidang studi Islam dan perbandingan agama di Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat.
Kelak, disertasi JE ditulis di bawah bimbingan sarjana muslim ternama, Ismail Raji’ al-Faruqi (1921-1986), seorang filsuf Palestina-Amerika yang berpengaruh serta penulis produktif yang menghasilkan banyak karya ilmiah. Al-Faruqi juga sarjana perbandingan agama yang mumpuni serta aktivis-praktisi yang getol memperjuangkan ‘interfaith trialogue’, sebuah model hubungan antaragama konstruktif yang melibatkan tiga rumpun agama Semit: Yahudi, Kristen, dan Islam.
Dalam banyak hal, apa yang dilakukan oleh JE merupakan ‘cermin’ atau kelanjutan dari apa yang diprakarsai dan dilakukan oleh al-Faruqi. Setelah lulus doktor pada awal 1970-an, JE menjadi dosen pengampu mata kuliah Islam. Karena itu, tidak mengherankan jika ia tercatat sebagai salah satu sarjana Barat nonmuslim pertama yang mengajar tentang Islam di perguruan tinggi di Amerika.
Bukan hanya menjadi salah satu pionir di bidang kajian Islam di dunia Barat, khususnya Amerika, JE juga menjadi salah satu pemrakarsa studi dan dialog hubungan Kristen-Islam yang hingga kini masih sangat minim di Amerika dan Barat pada umumnya, tidak sebanding dengan kajian kekristenan dan/atau keislaman yang menjamur di berbagai perguruan tinggi di Amerika/Barat.
Komitmennya di bidang kajian dan pembangunan dialog Kristen-Islam dibuktikan dengan adanya Center for Muslim-Christian Understanding yang didirikannya di Georgetown University pada awal 1990-an (kelak, pasca-tragedi 9/11, lembaga ini berganti nama menjadi Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding setelah Pangeran Alwaleed bin Talal dari Arab Saudi mendonasikan US$20 juta). Kini, lembaga yang didirikan JE tersebut telah menjelma menjadi pusat studi sejarah relasi Kristen-Islam yang disegani serta pusat untuk membangun hubungan Kristen-Islam yang konstruktif melalui dialog maupun aktivitas akademik dan non-akademik lainnya.
Pendirian lembaga Kristen-Islam tersebut mungkin saja didasari oleh pertimbangan bahwa kedua komunitas agama ini, jika dibandingkan dengan pengikut agama lain, merupakan yang terbanyak dan tersebar nyaris merata di berbagai wilayah dan negara. Pertimbangan lain mungkin karena dinamika relasi Kristen-Islam sudah eksis sejak awal perkembangan Islam pada abad ke-7 Masehi. Ketegangan Kristen-Islam dan bahkan kekerasan yang kerap terjadi di berbagai negara juga bisa menjadi pertimbangan penting dalam pendirian lembaga tersebut.
Antusiasme JE dalam studi Kristen-Islam itu juga diwujudkan dalam menawarkan berbagai mata kuliah tentang topik ini, baik melalui lembaganya maupun universitas tempat ia bekerja. Ia juga mendukung gagasan program (akademik maupun non-akademik) atau pendirian institusi yang bergerak di bidang Kristen-Islam, seperti yang ia lakukan pada lembaga yang saya dan sejumlah teman dirikan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Center for the Study of Religion and Christian-Muslim Relations (CSR-CMR), di mana JE menjadi anggota dewan penasihat. JE juga turut menyemangati pendirian CSR-CMR. Setelah sukses mendirikan lembaga Kristen-Islam, JE kemudian mendirikan The Bridge Initiative untuk mempromosikan pluralisme dan melawan islamofobia.
TANTANGAN BAGI SARJANA MUSLIM
Apa yang dilakukan oleh JE merupakan pelajaran berharga bagi para sarjana muslim, termasuk di Indonesia. Mampukah mereka mengambil peran seperti yang dilakukan JE di Amerika? Misalnya, JE sudah berani pasang badan dan membela mati-matian hak-hak minoritas muslim di Amerika, termasuk pendirian tempat ibadah bagi mereka serta memelopori dan mendukung adanya ‘Muslim Chaplaincy’ di Georgetown University untuk melayani umat Islam di kampus tersebut, di mana Yahya Hendi dipilih sebagai imamnya. Apakah para sarjana muslim di Indonesia berani pasang badan dan membela hak-hak minoritas Kristen yang masih menghadapi sejumlah praktik diskriminasi di berbagai wilayah Tanah Air?
Dengan pembelaan itu, JE menanggung banyak risiko, termasuk dimusuhi oleh kelompoknya sendiri (umat Kristen dan ‘kulit putih’ Amerika) yang tidak menyukai wajah atau sisi positif Islam/muslim. Tidak jarang, JE dituding sebagai ‘sarjana apologis’ yang hanya menampilkan sisi baik atau sisi manis Islam dan/atau muslim, sementara mengabaikan ‘sisi gelap’ keduanya. Beranikah sarjana muslim menanggung risiko seperti ini: dimusuhi oleh kelompoknya sendiri (umat Islam dan bangsa Indonesia) lantaran membela umat Kristen?
Selanjutnya, JE berani berjibaku memerangi islamofobia di Amerika. Apakah para sarjana muslim juga berani memerangi ‘christianophobia’ (kristenfobia) di Indonesia? Seperti islamofobia di Amerika, kristenofobia juga marak di sejumlah lingkaran umat Islam di Indonesia yang tidak henti-hentinya mencaci-maki dan memusuhi umat kristiani, bahkan berusaha menyangkal atau menegasikan eksistensi serta kontribusi mereka di Tanah Air.
Terakhir, JE juga berani melakukan terobosan langka di Amerika: menjembatani ‘deadlock’ relasi Kristen-Islam dengan membentuk sebuah institusi untuk mengkaji sejarah hubungan Kristen-Islam dari sudut pandang akademik-ilmiah dan perspektif positif-konstruktif yang kritis, sekaligus dengan respek terhadap masing-masing tradisi keagamaan. Bukan hanya sebagai tempat studi, lembaga yang dibangun JE juga berfungsi sebagai jembatan untuk membangun dialog dan hubungan yang sehat, produktif, serta saling menghargai antara umat Islam dan Kristen. Apakah para sarjana muslim di Tanah Air juga berani melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan JE?
Apa artinya para sarjana dan tokoh muslim yang memuja-muji sepak terjang JE di Amerika, jika pada saat yang sama mereka tidak bernyali melakukan apa yang JE lakukan di lingkungan, komunitas, masyarakat, dan negara mereka, termasuk di Indonesia. Rest in peace, John. Jasadmu bisa tiada, lenyap ditelan bumi, tapi spirit, semangat, dan perjuanganmu harus tetap ada sepanjang masa.

















































