Pemakaman warga Gaza.(Al Jazeera)
RATUSAN warga Palestina menggelar pemakaman massal bagi 112 korban yang baru berhasil dievakuasi dari reruntuhan bangunan di Kota Gaza pada Selasa (4/8) waktu setempat. Prosesi ini menjadi salah satu pemakaman terbesar sejak perang meletus hampir tiga tahun lalu, sekaligus mengakhiri penantian panjang keluarga yang selama ini belum mengetahui nasib kerabat mereka.
Suasana duka menyelimuti lahan kosong yang dikelilingi bangunan-bangunan rata akibat serangan udara. Puluhan tandu disusun berjajar, masing-masing ditutupi bendera Palestina. Pengeras suara mengalunkan musik duka saat ratusan pelayat memadati lokasi untuk memberikan penghormatan terakhir.
Badan Pertahanan Sipil Gaza menyatakan bahwa seluruh korban tewas dalam serangan Israel pada akhir 2023. Jenazah mereka baru ditemukan setelah proses pencarian intensif di bawah timbunan puing yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Kepastian bagi Keluarga Korban
Ahmed Abu Sharia, anggota keluarga besar para korban, mengungkapkan bahwa pemakaman ini akhirnya memberikan kepastian bagi keluarga yang selama ini menunggu dalam ketidakpastian. Ia menegaskan bahwa tragedi ini merupakan luka mendalam bagi seluruh rakyat Palestina.
"Kami datang untuk berkabung atas para syuhada kami; anak-anak, perempuan, dan para lansia. Ini adalah pemakaman bagi rakyat Palestina karena mereka adalah korban. Banyak orang masih berada di bawah reruntuhan. Mereka tidak berperang dan tidak mengangkat senjata," ujar Ahmed.
Direktur Operasi Pertahanan Sipil Gaza, Mohammad Al-Mughayyir, menjelaskan bahwa tim penyelamat membutuhkan waktu 17 hari kerja tanpa henti untuk mengevakuasi seluruh jenazah. Proses pencarian berlangsung sangat berat karena minimnya alat berat di wilayah tersebut.
"Dalam banyak kesempatan, kami harus menggali beton dan baja yang melintir dengan tangan kosong. Dalam beberapa kasus, kerangka korban masih utuh dan hanya pakaian yang menyatukan tulang-belulang mereka," tutur Al-Mughayyir.
Ribuan Jenazah masih Tertimbun
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Bassal, mengungkapkan fakta memilukan bahwa 44 dari 112 jenazah yang ditemukan merupakan anak-anak. Seluruh korban tersebut diketahui berasal dari satu keluarga besar yang sama.
Bassal juga memperkirakan masih ada lebih dari 8.000 jenazah lain yang tertimbun puing-puing bangunan di berbagai wilayah Jalur Gaza. Upaya evakuasi kali ini sedikit terbantu oleh dua ekskavator yang disediakan oleh Komite Internasional Palang Merah (ICRC).
Juru bicara ICRC di Jerusalem, Pat Griffiths, membenarkan bahwa pihaknya menyewa alat berat dari sektor swasta untuk mendukung operasi evakuasi. Namun, ia mengakui bahwa infrastruktur yang hancur membuat ketersediaan alat berat sangat terbatas.
Konteks Krisis Gaza:
- Sekitar 68 juta ton puing bangunan berserakan di seluruh Jalur Gaza.
- Lebih dari 60% penduduk Gaza kehilangan tempat tinggal.
- Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 73.000 orang tewas sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023.
Situasi Keamanan Pascagencatan Senjata
Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober tahun lalu, situasi keamanan di Gaza belum sepenuhnya pulih. Serangan udara dan tembakan artileri masih dilaporkan terjadi hampir setiap hari. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut sedikitnya 1.252 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata diberlakukan, sementara pasukan Israel kini menguasai hampir 70% wilayah Gaza.
Pada upacara pemakaman tersebut, para pelayat berdiri berbaris di atas hamparan pasir untuk menunaikan salat jenazah. Beberapa tandu tampak dilengkapi dengan foto korban yang berhasil diidentifikasi, menjadi pengingat nyata atas skala kehilangan yang dialami warga Gaza. (AFP/I-2)

















































