Talkshow Pembinaan Catur(Percasi)
Pembinaan pecatur muda tidak bisa mengandalkan bakat semata. Dukungan dunia usaha, pendidikan, keluarga, pelatih, kompetisi, hingga kesempatan bertanding di level internasional menjadi bagian penting untuk menjaga regenerasi catur Indonesia. Hal itu mengemuka dalam diskusi mengenai pembinaan catur yang digelar di sela Japfa Chess Festival 2026 di Jakarta, Jumat (4/9).
Dewan Pembina PB Percasi Eka Putra Wirya menilai ekosistem yang saat ini terbangun harus terus berkelanjutan dan diperkuat. Eka meyakini Indonesia memiliki modal talenta untuk melahirkan juara dunia jika pembinaan dilakukan secara konsisten.
Keterlibatan Japfa selama bertahun-tahun, kata Eka, telah membantu membangun ekosistem catur nasional mulai dari pembinaan atlet muda hingga level internasional. Eka menyebut kerja sama tersebut telah berlangsung sejak era GM Utut Adianto. Kala itu, Japfa ikut menghadirkan turnamen dengan pemain-pemain papan atas dunia. Dukungan tersebut kemudian berlanjut dalam pembinaan generasi berikutnya, termasuk GM Susanto Megaranto, WGM Irene Kharisma Sukandar, WGM Medina Warda Aulia, dan sejumlah pecatur lainnya.
Menurut Eka, potensi pecatur muda di berbagai daerah sebenarnya cukup besar. Prestasi Indonesia pada kejuaraan kelompok umur tingkat ASEAN menjadi salah satu indikator munculnya regenerasi atlet.
"Talenta saja sangat tidak cukup. Kita harus berkoordinasi, mulai dari dunia usaha, pendidikan, hingga peran orang tua. Perkembangan catur di Indonesia sebenarnya sangat baik. Tanda-tandanya selalu muncul generasi baru. Di kejuaraan ASEAN kelompok umur, kita selalu muncul sebagai juara," kata Eka.
Sementara itu, VP-Head of Social Investment Japfa, R Artsanti Alif, mengatakan pembinaan pecatur muda membutuhkan proses panjang dan terstruktur. Melalui program Japfa for Kids, pihaknya melakukan penjaringan bakat dari sekolah-sekolah di sejumlah daerah berkoordinasi dengan Percasi.
"Tahun ini total murid yang mengikuti program mencapai 17 ribu dari 10 lokasi, antara lain Tegal, Lampung, Sukabumi, dan Padang," ucap Artsanti.
Menurut Artsanti, pembinaan tidak berhenti pada kemampuan bermain catur. Aspek lain, termasuk nutrisi, etika, penampilan, serta kemampuan beradaptasi juga menjadi perhatian. Dia meyakini keberlanjutan menjadi kunci agar pembinaan tidak berhenti pada satu generasi.
"Kuncinya adalah keberlanjutan. Ibarat menyusun puzzle, semua kepingan harus digabungkan agar gambarnya utuh. Kami menyusun puzzle ini bersama para pemangku kepentingan," imbuhnya.
Sementara itu, WGM Medina Warda Aulia menekankan pentingnya konsistensi bagi pecatur muda yang ingin menekuni olahraga tersebut secara serius. Menurut dia, perkembangan seorang pecatur dibangun melalui siklus latihan, pertandingan, dan evaluasi yang konsisten dilakukan.
Medina sendiri pernah merasakan manfaat dari dukungan sistem pembinaan tersebut. Pada 2019, ia mendapat dukungan untuk mengikuti turnamen Asian Zone 3.3. Bersama Susanto Megaranto, Medina menjadi juara dan lolos ke Piala Dunia. Medina bahkan menembus 16 besar di Piala Dunia.
"Yang pertama tentu konsistensi. Catur itu siklusnya latihan, tanding, dan evaluasi. Kalau dilakukan secara konsisten, performa saya yakin akan semakin baik," kata Medina.
Duta Jaga Asa, Laysa Masih Tertekan
Perjuangan dua pecatur muda Indonesia pada duel internasional Japfa Chess Festival 2026 berjalan dinamis. Pada babak keenam, IM Satria Duta Cahaya menjaga asa lewat kemenangan krusial sedangkan WIM Laysa Latifah masih kesulitan membendung dominasi lawan.
Di kategori putra, IM Satria Duta Cahaya sempat mengalami masa sulit pada babak kelima saat dipaksa menyerah oleh wakil Vietnam, IM Khuong Duy Dau. Namun, Duta bisa menang pada babak keenam. Meski memegang buah hitam, dia berhasil bangkit dan memetik kemenangan atas Khuong Duy Dau. Hasil itu membuat Duta mengumpulkan total 2,5 poin sedangkan Khuong Duy Dau 3,5 poin.
Kondisi berbeda terjadi di kategori putri. WIM Laysa Latifah harus mengakui keunggulan WGM Xeniya Balabayeva dari Kazakhstan. Laysa menelan kekalahan pada babak kelima dan keenam yang membuatnya tertahan di perolehan 1 poin. Adapun Balabayeva melesat dengan 5 poin.
Dengan sisa babak yang akan dimainkan dua hari terakhir, Duta masih memiliki peluang untuk menyamakan kedudukan atau membalikkan keadaan. Sementara itu, Laysa diharapkan memperbaiki performa guna mengejar ketertinggalan.
Pada kategori open yang sudah memainkan babak ketujuh, IM Anjas Novita memimpin klasemen dengan poin 6. Tiga pecatur lainnya yakni IM Gilbert Elroy, FM Fabian Glen, dan IM Danny Juswanto menempel dengan torehan poin yang sama. (E-3)


















































