Ketua Satgas PRR Aceh Safrizal(Antara)
Pemerintah terus mendorong para penyintas bencana di Aceh untuk segera bangkit secara ekonomi sembari menunggu proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Dukungan tersebut diwujudkan melalui bantuan stimulan usaha mikro yang diharapkan mampu menjadi modal awal bagi masyarakat untuk memulai kembali aktivitas ekonomi.
Ketua Posko Wilayah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Safrizal ZA, mengatakan pemulihan pascabencana tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk kembali mandiri secara ekonomi.
Menurutnya, pemerintah telah menyalurkan bantuan stimulan kepada penyintas yang rumahnya mengalami kerusakan ringan, sedang, hingga rusak berat atau hilang. Setiap kepala keluarga yang memenuhi persyaratan menerima bantuan modal usaha sebesar Rp5 juta dalam bentuk uang tunai.
"Pemerintah memberikan dukungan melalui bantuan modal usaha bagi penyintas yang memenuhi syarat. Dana tersebut telah disalurkan sebagai stimulan ekonomi agar masyarakat dapat kembali menjalankan usaha," ujar Safrizal.
Ia juga mengapresiasi semangat para penyintas yang mulai membangun kembali sumber penghidupan, termasuk Mayasari, warga Aceh Tamiang yang memilih merintis usaha kecil di kawasan hunian sementara (huntara).
Safrizal berpesan agar pelaku usaha tetap memperhatikan kualitas produk yang dijual serta memberikan perlindungan kepada anak-anak sebagai konsumen. Ia mengingatkan agar tidak menjual produk yang tidak layak dikonsumsi anak, termasuk rokok.
"Jaga kualitas minuman yang dijual dan jangan menjual rokok kepada anak-anak. Dengan begitu usaha yang dijalankan akan terus membawa manfaat dan keberkahan," pesannya.
Bangkit dari Huntara Lewat Usaha Minuman
Mayasari (36), warga Perumahan BTN Satelit Graha, Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, menjadi salah satu penyintas yang memilih bangkit melalui usaha mikro. Setelah kehilangan tempat tinggal akibat bencana, ia memanfaatkan sisa uang yang dimiliki untuk berjualan teh hijau di lokasi pengungsian.
"Dengan sisa uang yang ada, saya mencoba membuka usaha teh hijau di pengungsian," tutur Mayasari.
Memasuki Ramadan 1447 Hijriah, Mayasari bersama 86 kepala keluarga lainnya dipindahkan ke Huntara Tamiang 2 yang berada di depan SMP Negeri 1 Karang Baru. Di lokasi tersebut, ia tetap melanjutkan usahanya dengan strategi promosi sederhana, yakni membeli dua minuman gratis satu selama Ramadan sebagai bentuk sedekah sekaligus menarik pembeli.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Pendapatan yang terkumpul perlahan digunakan untuk memperbaiki sebuah pos ronda yang tidak lagi terpakai di depan huntara. Setelah memperoleh izin, bangunan sederhana itu diubah menjadi kios tempat ia melanjutkan usahanya.
"Alhamdulillah, dari keuntungan sedikit demi sedikit akhirnya cukup membantu menambah kebutuhan belanja sehari-hari," ujarnya.
Mayasari mengaku tidak sendiri dalam berjuang. Banyak ibu rumah tangga di Huntara Tamiang 2 juga mulai membuka usaha kecil untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagian besar pembeli berasal dari sesama penghuni huntara, siswa SMP Negeri 1 Karang Baru, serta masyarakat yang melintas di sekitar lokasi.
Kini usaha yang dijalankannya tidak lagi hanya menjual teh hijau. Ia menambah berbagai pilihan minuman sachet, kopi instan, hingga bahan bakar minyak eceran untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Baginya, usaha sederhana tersebut menjadi simbol harapan bahwa kehidupan dapat kembali dibangun sedikit demi sedikit, meski dimulai dari tempat yang sangat sederhana. (E-3)

















































