Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman bersama Ketua Aptisi Jawa Barar Prof Eddy Soeryanto Soegoto(ISTIMEWA)
PENGELOLAAN sampah di wilayah Bandung Raya mendapat dukungan kalangan perguruan tinggi swasta. Sebanyak 52 perguruan tinggi sepakat mendukung dan membantu Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan pengelolaan sampah.
Dukungan itu disampaikan puluhan rektor perguruan tinggi swasta di Bandung Raya saat mengunjungi Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman, Rabu (5/8). Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) yang diketuai Prof Eddy Soeryanto Soegoto sepakat mengerahkan para mahasiswa dalam program Pengabdian Masyarakat Tematik Pengelolaan sampah.
"Program ini sudah dilaksanakan di 6 kecamatan di Kota Bandung. Saat ini, sudah ada 52 perguruan tinggi swasta di Bandung Raya yang terlibat dan 40 lainnya akan menyusul," ungkap Prof Eddy.
Sekda Jabar menyatakan APTISI dan mahasiswa akan melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah. Mereka juga melakukan optimalissi pengelolaan sampah dri rumah tangga, mengurangi sampah, memanfaatkan sampah, daur ulang dan memilah sampah.
"Kami bersama APTISI sudah menerjunkan 2.500 mahasiswa dalam program Pengabdian Kepala Masyarakat Berdampak yang akan menangani persoalan sampah. Mereka diterjunkan ke 5 kecamatan di Kota Bandung," papar Herman.
Ke depan, program bersama ini juga akan dikembangkan ke 31 kecamatan lain di Kota Bandung. Selain itu, kegiatan yang sama segera dilaksanakan di ratusan kecamatan di Bandung Raya.
"Kami juga akan mereplikasi kegiatan ini untuk daerah lain di luar Bandung Raya. Ada 350 perguruan tinggi swasta di Jawa Barat yang akan terlibat," tandasnya.
DARURAT SAMPAH
Dalam program pengabdian masyarakat tematik, fokus utama yang dilakukan mahasiswa ialah edukasi, inovasi teknologi kampus, dan penerapan model socio-engineering untuk mengatasi masalah darurat sampah dari sumbernya.
Kerja sama ini mengerahkan dosen dan mahasiswa untuk turun langsung mengedukasi warga. Mereka mengenalkan pendampingan pola pikir agar masyarakat terbiasa memilah sampah rumah tangga.
Di sisi lain, inovasi teknologi juga dilakukan dengan mengintegrasikan alat pengolahan sampah dan sistem daur ulang dari hasil riset akademisi kampus untuk diterapkan di lingkungan masyarakat.
Di Jawa Barat, fokus penanganan sampah ialah memilah sampah dari sumbernya. Warga diajak memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
Dalam pengolahan organik dilakukan dengan memanfaatkan komposter, biopori, atau budi daya maggot untuk mereduksi volume sampah harian.

















































