Fosil kotoran atau koprolit dengan beragam bentuk dan ukuran pada masa Kambrium.(Dok. Kimmig & Bicknell/Trends in Ecology & Evolution)
Dunia sains selama ini meyakini bahwa fenomena Ledakan Kambrium, yakni titik awal peningkatan kompleksitas hewan dan ekosistem laut yang dipicu oleh lonjakan kadar oksigen serta interaksi predator-mangsa. Namun, sebuah tinjauan ilmiah terbaru menawarkan perspektif berbeda yang mengejutkan: kotoran hewan adalah kontributor utama di balik revolusi evolusi tersebut.
Temuan ini dipublikasikan oleh dua ilmuwan, Julien Kimmig dan Russell Dean C.B., dalam jurnal Trends in Ecology and Evolution dengan tajuk “The Cambrian fecal revolution: Fueling the Cambrian Radiation”. Mereka berargumen bahwa kotoran bukan sekadar limbah biologis, melainkan mesin penggerak nutrisi yang mengubah wajah lautan sekitar 540 juta tahun yang lalu.
Revolusi Kotoran di Era Kambrium
Sekitar 540 juta tahun silam, Bumi mengalami Ledakan Kambrium. Dalam rentang waktu 13 juta hingga 25 juta tahun, sebagian besar kelompok hewan utama mulai bermunculan. Pada periode ini, jaring-jaring makanan laut mulai bertransformasi menjadi sangat kompleks, menyerupai kondisi lautan modern.
Berbeda dengan peneliti sebelumnya yang hanya menggunakan fosil kotoran (koprolit) untuk mempelajari pola makan individu, Kimmig dan Russell melihat dampak ekologis yang lebih luas. Seiring dengan evolusi sistem pencernaan hewan yang menjadi lebih canggih, volume kotoran yang dihasilkan meningkat drastis. Hal ini menyebabkan penyebaran materi organik dan nutrisi di lautan semakin masif, yang pada gilirannya mempercepat perkembangan ekosistem secara keseluruhan.
Perbandingan Evolusi Saluran Pencernaan & Ekosistem
| 60 Juta Tahun Pra-Kambrium | Sangat sederhana/tidak ada | Hampir tidak ditemukan |
| Masa Ledakan Kambrium | Kompleks (kelenjar khusus) | Melimpah, beragam bentuk & ukuran |
Dari Saluran Pencernaan ke Kompleksitas Global
Catatan fosil menunjukkan bahwa sebelum Ledakan Kambrium, hampir tidak ada bukti mengenai sistem pencernaan yang kompleks. Namun, saat memasuki masa Kambrium, terjadi lonjakan temuan fosil dengan saluran pencernaan yang telah berevolusi, terutama pada kelompok artropoda awal. Hewan-hewan ini memiliki bagian depan saluran pencernaan dan kelenjar khusus yang mampu mengolah berbagai jenis makanan.
Evolusi biologis ini berbanding lurus dengan temuan koprolit yang mengandung pecahan cangkang dan fragmen tubuh hewan lain. Munculnya kotoran dalam jumlah besar dan beragam jenis ini membuktikan adanya siklus energi baru di lautan. Dengan kata lain, "revolusi kotoran" ini merupakan indikator sekaligus pemicu lahirnya ekosistem laut modern yang kita kenal saat ini.
Melalui studi ini, Kimmig dan Russell menegaskan bahwa fosil kotoran merekam kemunculan proses ekologis mendasar yang selama ini diabaikan oleh dunia sains dalam menyusun narasi sejarah evolusi Bumi. (Sumber: The Conversation, State Museum of Natural History in Karlsruhe)


















































