REPUBLIKA.CO.ID, SINGKAWANG -- Awal Maret 2026 menghadirkan dua momentum besar yang berlangsung hampir bersamaan. Umat Islam menjalani ibadah Ramadhan, sementara warga keturunan Tionghoa merayakan Cap Go Meh sebagai penutup rangkaian Imlek.
Di Singkawang, Kalimantan Barat, dua perayaan itu berjalan berdampingan tanpa gesekan, justru menegaskan wajah toleransi yang telah lama mengakar di kota tersebut.
Pada 3 Maret lalu, ribuan warga dan wisatawan memadati pusat kota untuk menyaksikan kemeriahan Cap Go Meh. Atraksi barongsai, arak-arakan budaya, hingga ritual tatung kembali menjadi magnet utama. Kegiatan itu diramaikan dengan partisipasi Extrajoss yang kembali bersama Bobon Santoso untuk ketiga kalinya merayakan Festival Cap Go Meh.
Di sisi lain, umat Islam tetap menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk. Tidak ada dominasi, tidak ada gangguan. Kedua momentum berlangsung pada porsinya masing-masing.
Cap Go Meh di Singkawang memang bukan sekadar agenda budaya tahunan. Ia telah menjadi simbol kehidupan masyarakat yang majemuk, yakni Tionghoa, Melayu, Dayak, dan etnis lainnya, yang hidup berdampingan dalam keseharian. Tradisi dijaga, perbedaan dihormati.
Pengakuan atas iklim toleransi itu juga tercermin dalam laporan SETARA Institute melalui Indeks Kota Toleran 2024. Singkawang menempati peringkat kedua kota paling toleran di Indonesia, tepat di bawah Salatiga, dari 94 kota yang dinilai secara nasional.
Sebagai kreator kuliner yang telah menjadi mualaf, Bobon Santoso menilai Cap Go Meh bukan hanya perayaan budaya, melainkan juga simbol pertemuan budaya Tionghoa dan Nusantara dalam satu piring.
"Lontong Cap Go Meh misalnya, itu simbol akulturasi. Ada perpaduan budaya Tionghoa dan Nusantara di satu piring. Itu yang bikin Indonesia istimewa,” ujar Bobon dalam siaran pers yang diterima pada Kamis (5/4/2026).
Menurut Bobon, perayaan yang bertepatan dengan Ramadhan justru memperlihatkan praktik toleransi yang konkret. “Merayakan Cap Go Meh di tengah Ramadhan menurut saya indah sekali. Yang menjalankan ibadah tetap khusyuk, yang merayakan tetap penuh sukacita. Semua berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu. Ini contoh nyata bagaimana keberagaman bisa jadi kekuatan,” ucap Bobon.
Sementara, Head of Marketing PT Bintang Toedjoe Arwin Nugraha Hutasoit, yang hadir dalam perayaan tersebut, menilai Singkawang menunjukkan contoh konkret bagaimana keberagaman dirawat dalam kehidupan sehari-hari.
“Singkawang menunjukkan bagaimana keberagaman bisa dirawat dengan baik. Masyarakatnya tetap rukun, menjaga budaya, dan saling menghormati. Ini energi positif yang nyata,” ujar Arwin.
Ia menyebut keterlibatan perusahaannya dalam perayaan Cap Go Meh sebagai bentuk partisipasi dalam kegiatan budaya masyarakat. Menurutnya, momentum yang bertepatan dengan Ramadhan semakin menegaskan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi terciptanya ruang hidup bersama.
Namun, di luar unsur seremoni dan partisipasi berbagai pihak, perhatian publik tetap tertuju pada substansi perayaan itu sendiri, yak i harmoni sosial yang terjaga. Di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi nasional, Singkawang kembali menghadirkan contoh konkret bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan praktik hidup sehari-hari.
Dari kota pesisir Kalimantan Barat ini, pesan sederhana namun kuat kembali ditegaskan, yakni Indonesia memiliki ruang untuk perbedaan, dan ruang itu bisa dirawat bersama.

2 hours ago
2
















































