Pergeseran Investasi Picu PHK Massal di Jateng

4 days ago 18
Pergeseran Investasi Picu PHK Massal di Jateng Investasi industri padat karya diharapkan menjadi penyelesaian masalah PHK di Jawa Tengah.(MI/Akhmad Safuan)

PERGGESERAN investasi dari sektor padat karya ke padat modal menjadi salah satu penyebab meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di Jawa Tengah. Meski demikian, industri garmen masih menjadi tulang punggung ekspor dan penyerap tenaga kerja di provinsi tersebut.

Potensi PHK kembali muncul menyusul rencana penutupan dua perusahaan garmen, yakni PT Samwon Busana Indonesia di Jepara dan PT Victory Apparel di Semarang pada Agustus 2026. Penutupan kedua perusahaan itu diperkirakan berdampak pada sekitar 1.400 pekerja.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah Sakina Rosellasari mengatakan perubahan arah investasi menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi industri padat karya, terutama tekstil dan garmen. "Pergeseran investasi dari padat karya ke padat modal menjadi salah satu penyebab terjadinya PHK massal saat ini," kata Sakina Rosellasari.

Menurut Sakina, pergeseran tersebut menyebabkan investasi di sektor tekstil dan garmen mengalami penurunan. Jika sebelumnya sektor ini konsisten berada di peringkat ketiga tujuan investasi, kini turun ke peringkat kelima. Di sisi lain, nilai investasi secara keseluruhan di Jawa Tengah tetap meningkat, terutama di sejumlah kawasan industri.

Ia mencontohkan, investasi padat modal di Kabupaten Batang mencapai Rp6,11 triliun, namun hanya menyerap 6.584 tenaga kerja. Sebaliknya, Kabupaten Kendal dengan investasi Rp6,56 triliun mampu menyerap 19.386 pekerja.

INDUSTRI GARMEN
Meski menghadapi tekanan, industri garmen masih menjadi sektor strategis bagi perekonomian Jawa Tengah. Sakina menyebut ratusan industri garmen, rajut, dan nonrajut di provinsi itu masih memasok sekitar 47,5% produk ekspor ke pasar Amerika Serikat. "Kami berharap industri padat karya tetap menjadi salah satu solusi utama dalam penyerapan tenaga kerja," ujarnya.

Selain garmen, industri barang kulit dan alas kaki juga menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Hingga semester I 2026, sektor tersebut mencatat nilai investasi Rp5,85 triliun dengan penyerapan 51.288 pekerja.

Sementara itu, industri tekstil membukukan investasi Rp3,92 triliun dengan penyerapan 44.460 tenaga kerja. Industri karet dan plastik mencatat investasi Rp5,1 triliun yang menyerap 11.534 pekerja, sedangkan industri kayu memperoleh investasi Rp4,73 triliun dengan penyerapan 6.287 tenaga kerja.

Pada semester I 2026, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp48,54 triliun atau hampir separuh dari target tahunan sebesar Rp99,09 triliun. Investasi tersebut terdiri atas penanaman modal asing sebesar Rp25,92 triliun atau 53,4% dan penanaman modal dalam negeri Rp22,62 triliun atau 46,6.

"Realisasi investasi hingga semester pertama telah menyerap 213.217 tenaga kerja dan kami terus berupaya menjaga iklim investasi yang mampu menciptakan lapangan kerja," kata Sakina.

Adapun lima daerah dengan realisasi investasi terbesar di Jawa Tengah pada semester I 2026 ialah Kota Semarang sebesar Rp6,57 triliun, Kabupaten Kendal Rp6,56 triliun, Kabupaten Batang Rp6,11 triliun, Kabupaten Temanggung Rp4,58 triliun, dan Kabupaten Demak Rp4,34 triliun. (E-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |