REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) mengungkapkan sekitar 70 persen penyandang diabetes di Indonesia belum terdiagnosis oleh layanan kesehatan. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar karena keterlambatan diagnosis meningkatkan risiko komplikasi serius seperti gagal ginjal dan penyakit jantung.
Ketua Perkeni Em Yunir mengatakan, jumlah penyandang diabetes tipe 2 di Indonesia kini diperkirakan mencapai 20 juta orang dewasa dan terus meningkat setiap tahun.
"Sejak lama mengidentifikasi diabetes, kita itu makin lama makin naik. Sayangnya kalau kita mengacu kepada penelitian-penelitian kesehatan, 70 persen pasien diabetes itu tidak terdiagnosis," kata Yunir di sela Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkeni 2026 yang diikuti sekitar 500 tenaga kesehatan di Bandung, Ahad (28/6/2026).
Menurut Yunir, tantangan penanganan diabetes tidak hanya terkait jumlah pasien yang terus bertambah, tetapi juga keterbatasan tenaga medis serta akses terhadap layanan dan terapi.
Ia mengatakan pilihan obat untuk diabetes tipe 2 saat ini semakin beragam. Namun, terapi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, termasuk mempertimbangkan keamanan terhadap jantung dan ginjal.
Untuk meningkatkan penanganan diabetes, Perkeni bekerja sama dengan organisasi diabetes Korea melalui riset bersama, pertukaran data, serta berbagi pengalaman dalam pengelolaan penyakit tersebut.
Head Division of Endocrinology Universitas Padjadjaran Prof. Hikmat Permana mengatakan diabetes menjadi salah satu penyebab utama komplikasi gagal ginjal dan penyakit jantung. Padahal, menurutnya, komplikasi tersebut dapat dicegah apabila penyakit terdeteksi dan ditangani lebih dini.
Ia menyebut obat golongan Sodium-Glucose Cotransporter-2 (SGLT2) inhibitor, enavogliflozin 0,3 miligram, menjadi salah satu alternatif terapi baru bagi penyandang diabetes tipe 2. Menurutnya, pengembangan obat tersebut didasarkan pada penelitian yang melibatkan populasi Asia.
"Artinya gula darah tinggi bisa dikeluarkan. Selama ini kita berpikir gula darah diturunkan dalam tubuh dan untuk mencegah terjadi gagal ginjal dan kerusakan," ujar Hikmat.
Ia menambahkan komplikasi diabetes seperti cuci darah dan pemasangan ring jantung menjadi beban besar bagi sistem pembiayaan kesehatan karena biaya penanganannya jauh lebih tinggi dibandingkan upaya pencegahan.
Karena itu, Hikmat mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala agar diabetes dapat terdeteksi lebih awal sebelum menimbulkan komplikasi.
Sementara itu, perwakilan Daewoong Pharmaceutical Indonesia dr. Wicak Prasetiadi mengatakan perusahaan berencana membangun fasilitas produksi obat di Cikarang, Jawa Barat. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan obat sekaligus menekan harga di dalam negeri.
"Kita berupaya mengurangi harga dengan membangun pabrik di sini," kata Wicak.

10 hours ago
8










































