Pertanyaan Terakhir Vidi Aldiano kepada Husein Ja'far dan 2 Hadiah Terbaik untuk Almarhum

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hujan turun ketika mereka mengusung jenazah itu. Bukan hujan yang memaksa orang berlari mencari atap, melainkan hujan yang pelan, seperti sedang berbisik. Di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Ahad pagi itu, langit seolah ikut berduka bersama ratusan orang yang berdiri dalam diam, meneteskan air mata, atau sekadar memandang tanah merah yang perlahan menutup sebuah nama.

Vidi Aldiano. Oxavia Aldiano. Usia 35 tahun. Pergi pada Sabtu (7/3) pukul 16.33 WIB, setelah tujuh tahun bergulat dengan kanker ginjal, tidak dengan kepahitan, tetapi dengan cara yang membuat banyak orang bertanya-tanya: dari mana ia mendapat kekuatan sebesar itu?

Prosesi pemakaman berlangsung sekitar dua jam. Wajah-wajah yang biasa hadir di layar dan panggung hari itu hadir tanpa kostum, tanpa peran, hanya sebagai manusia yang kehilangan. Afgan, Bunga Citra Lestari, Vincent Rompies, Enzy Storia, Nadin Amizah, Fadil Jaidi, Anya Geraldine, hingga Deddy Corbuzier yang datang bersama kedua anaknya, Azka dan Nada, tampak saling menguatkan dalam suasana yang tidak membutuhkan kata-kata.

Sheila Dara Aisha, sang istri, hadir dengan penjagaan ketat dari anggota keluarga. Pemeran utama film Sore itu terlihat sangat terpukul. Sekitar pukul 10.00 WIB, ia meninggalkan permakaman, membawa duka yang tidak akan selesai dalam satu hari.

Selain keluarga dan rekan-rekan dari industri hiburan, warga sekitar pun memadati area depan permakaman. Vidi bukan hanya milik panggung. Ia milik banyak orang yang bahkan mungkin belum pernah berjabat tangan dengannya, tetapi pernah merasa dekat melalui lagu-lagunya.

Di luar gerbang pemakaman, Habib Ja'far, pendakwah yang selama ini menjadi tempat Vidi bertanya tentang urusan agama, berdiri di hadapan awak media dengan mata yang menyimpan kesedihan sekaligus kedamaian.

Ia bercerita bahwa meski sudah lama tidak bertemu langsung dengan Vidi, keduanya masih kerap berkomunikasi melalui WhatsApp. Dan percakapan mereka, kata Habib Ja'far, tidak pernah tentang hal-hal sepele.

"Semua komunikasinya tentang bagaimana Beliau lebih memperbaiki diri, lebih meningkatkan ibadahnya. Selalu tentang itu yang ditanyakan oleh Beliau," ujarnya.

Pertanyaan terakhir yang diajukan Vidi, tutur Habib Ja'far, adalah tentang bagaimana cara berwudu dan salat dalam kondisi fisik yang semakin terbatas. Sebuah pertanyaan yang kecil dalam kata-kata, tetapi besar dalam maknanya, seorang manusia yang tubuhnya sedang menyerah, namun hatinya tidak ingin berhenti menjangkau Tuhan.

Habib Ja'far kemudian menyebut sesuatu yang membuat suasana menjadi hening sejenak: Vidi pergi bukan pada sembarang hari. Ia wafat di bulan Ramadan, tepat pada malam yang diyakini sebagai malam diturunkannya Alquran, 17 Ramadan, malam Nuzulul Quran.

"Insya Allah sahabat kita, keluarga kita, Vidi Aldiano, dalam keadaan yang terbaik, karena di hari dan bulan yang terbaik, yaitu bulan suci Ramadan, dan hari diturunkannya Al-Quran, yaitu Nuzulul Quran 17 Ramadan," katanya.

Dalam ajaran Islam, kesaksian orang-orang tentang kebaikan seseorang yang meninggal adalah doa. Dan hari itu, kesaksian mengalir deras dari mana-mana. Habib Ja'far pun mengingatkan bahwa penyakit yang diderita Vidi selama tujuh tahun, yang dihadapinya tanpa banyak mengeluh, bisa menjadi penggugur dosa, sebuah penghiburan teologis yang terasa sangat manusiawi di tengah duka.

sumber : Antara

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |