Petani Desa Penggalaman Belajar Atasi Lahan Rawan Banjir dan Buat Pupuk dari Gulma

4 days ago 3
Petani Desa Penggalaman Belajar Atasi Lahan Rawan Banjir dan Buat Pupuk dari Gulma Kelompok Tani Bahagia dan warga Desa Penggalaman, Kecamatan Martapura Barat, sedang mempraktikkan pengolahan eceng gondok menjadi pupuk cair organik, Sabtu (15/8/2026).(MI/HO)

LAHAN pekarangan di Desa Penggalaman, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar, sering kali menjadi wilayah yang terdampak banjir saat musim penghujan tiba. Kondisi geografis yang rawan genangan ini kerap membuat aktivitas pertanian warga terhambat karena tanaman mati terendam air.

Merespons tantangan tersebut, tim pengabdian dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) hadir memberikan solusi melalui pelatihan pemanfaatan lahan rawan banjir dan pengolahan limbah gulma. Kegiatan ini difokuskan pada teknik budidaya vertikultur dan pemanfaatan eceng gondok yang melimpah di kawasan rawa setempat.

Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun Anggaran 2026.

Agenda Kegiatan Pelatihan:

Tanggal Agenda Kegiatan
30 Juli 2026 Pelatihan budidaya vertikultur dan pembuatan pupuk cair organik dari eceng gondok.
15 Agustus 2026 Panen pupuk cair organik hasil fermentasi dan pemantauan tanaman.

Solusi Vertikultur di Lahan Banjir

Ketua tim pengabdian, apt. Hayatun Izma, M.Pharm.Sci., menjelaskan bahwa pemilihan teknik vertikultur didasari oleh kondisi lahan desa yang rawan tergenang. Bersama anggota tim, apt. Nazhipah Isnani, S.Pharm., M.Sc. dan Gani Jawak, S.P., M.Si., mereka memperkenalkan sistem tanam bertingkat.

“Vertikultur dipilih karena tidak memerlukan lahan datar yang luas. Tanaman ditanam dalam wadah yang disusun ke atas, sehingga akar tidak terendam air meskipun tanah di bawahnya digenangi banjir,” jelas Izma pada Sabtu (15/8/2026).

Ia menambahkan bahwa Desa Penggalaman memiliki potensi lahan yang besar. Melalui pelatihan ini, warga diharapkan dapat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman produktif, khususnya Tanaman Obat Keluarga (TOGA).

Mengubah Gulma Menjadi Berkah

Selain kendala banjir, tim ULM menyoroti populasi eceng gondok yang tumbuh subur di permukiman dan persawahan warga. Selama ini, tanaman air tersebut hanya dianggap sebagai gulma pengganggu yang dibuang begitu saja.

Tim dosen mengedukasi warga bahwa eceng gondok kaya akan nutrisi yang dapat diolah menjadi pupuk cair organik. "Pupuk dari eceng gondok ini sangat bagus untuk tanaman obat karena kaya nutrisi dan ramah lingkungan. Pemanfaatannya sekaligus membantu membersihkan lingkungan dari gulma," kata Izma.

Manfaat ini dirasakan langsung oleh Anah, salah satu peserta pelatihan. Ia mengaku baru mengetahui bahwa menanam bisa dilakukan tanpa harus bersentuhan langsung dengan tanah yang rawan banjir. "Selama ini saya tanam langsung di pekarangan dan mati kalau kebanjiran. Eceng gondok juga biasanya saya buang, tidak kepikiran bisa buat pupuk," ungkapnya.

Harapan Produktivitas Desa

Ketua Kelompok Tani Bahagia, Mua’lim, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, pelatihan semacam ini adalah hal baru bagi anggotanya dan memberikan harapan agar lahan desa tidak lagi terbengkalai saat musim hujan.

“Semoga ke depannya desa kami bisa lebih produktif dan lahan tidak terbengkalai karena tergenang hujan,” harap Mua’lim.

Sebagai langkah keberlanjutan, tim dosen ULM berencana melakukan pendampingan lanjutan. Mereka akan memantau perkembangan tanaman obat yang telah ditanam di rak-rak vertikultur milik Kelompok Tani Bahagia guna memastikan program ini memberikan dampak ekonomi dan lingkungan yang permanen bagi warga Desa Penggalaman. (Z-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |