Presiden Prabowo di EEF Rusia.(Dok. Antara)
PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin terseret ke dalam politik blok di tengah situasi dunia yang semakin terfragmentasi. Sebaliknya, Indonesia memilih untuk memperluas kerja sama dengan berbagai negara dan mengubah hubungan persahabatan menjadi proyek konkret yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan rakyat.
Pesan tersebut disampaikan Prabowo saat menjadi tamu kehormatan utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9). Dalam forum tersebut, ia menempatkan prinsip politik bebas dan aktif sebagai pijakan utama Indonesia dalam membangun hubungan, baik dengan Rusia maupun negara-negara lain di dunia.
"Kebijakan luar negeri Indonesia adalah bebas dan aktif. Kami menentukan kepentingan nasional kami sendiri dan kami ingin berkontribusi aktif bagi perdamaian," tegas Prabowo.
Menolak Aliansi Militer, Membuka Kerja Sama Ekonomi
Prabowo menyatakan dengan jelas bahwa Indonesia tidak berminat untuk bergabung dengan aliansi militer mana pun. Namun, Indonesia membuka pintu lebar bagi kerja sama ekonomi lintas kawasan, termasuk melalui Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).
Menurutnya, FTA tersebut tidak dirancang untuk menghadapi pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kemitraan ekonomi yang bertujuan menciptakan kemakmuran bersama. Indonesia berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan negara-negara di Timur, Barat, Utara, dan Selatan sebagai mitra yang berdaulat dan setara.
"Bagi kami, seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Kami datang ke St. Petersburg untuk mencari teman, dan sekarang kami datang ke Vladivostok untuk mengubah persahabatan menjadi hasil pragmatis," ujarnya.
Visi Global South dan Sejarah Indonesia-Rusia
Dalam pidatonya, Prabowo juga membawa gagasan mengenai konsep Global South. Ia menekankan bahwa Global South bukanlah sebuah blok baru, melainkan kelompok negara yang memperjuangkan keadilan, pembagian kemakmuran yang lebih merata, serta kesempatan yang lebih adil dalam menentukan aturan global.
Terkait hubungan bilateral dengan Rusia, Prabowo mengenang sejarah panjang dukungan Uni Soviet pada masa awal berdirinya Republik Indonesia. Namun, ia menilai hubungan tersebut tidak boleh hanya berhenti sebagai kenangan sejarah, melainkan harus diteruskan oleh generasi saat ini melalui babak baru kerja sama nyata.
Ia mendorong agar hubungan kedua negara dibangun berdasarkan kesetaraan, kemandirian, dan hubungan timbal balik yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Pembangunan sebagai Fondasi Perdamaian
Prabowo mengaitkan erat antara pembangunan dan perdamaian. Ia berpendapat bahwa masalah sosial seperti kelaparan, pengangguran, ketidakadilan, dan penghinaan sering kali menjadi bahan bakar konflik. Sebaliknya, kawasan yang mampu menyediakan peluang ekonomi dan memenuhi kebutuhan pangan rakyat akan berkontribusi nyata bagi perdamaian dunia.
"Kedaulatan memungkinkan perdamaian. Perdamaian memungkinkan pembangunan. Dan pembangunan untuk manfaat masyarakat membuat perdamaian itu bertahan lama," kata Prabowo.
Ia menilai tema EEF ke-11, yakni pembangunan untuk manfaat masyarakat, merupakan bagian dari doktrin keamanan karena kesejahteraan masyarakat adalah fondasi perdamaian yang berkelanjutan.
Gotong Royong dan Langkah Konkret ke Depan
Untuk menggambarkan pentingnya kolaborasi, Prabowo mengutip pepatah Rusia, Odin v pole ne voin, yang berarti seorang pejuang tidak akan menang sendirian di medan perang. Ia menyamakannya dengan nilai luhur Indonesia, yaitu "Gotong Royong".
Prabowo menyerukan sejumlah langkah konkret untuk memperkuat hubungan Indonesia-Rusia, di antaranya:
- Pembangunan rute pelayaran dan pembukaan penerbangan langsung.
- Memastikan FTA Indonesia-EAEU dapat dimanfaatkan secara maksimal sejak hari pertama berlaku.
- Menggandakan nilai perdagangan bilateral.
- Produksi bersama di sektor pangan, pupuk, energi, obat-obatan, dan teknologi.
- Kerja sama pembiayaan proyek strategis antara Danantara dan Russian Direct Investment Fund (RDIF).
Menutup pernyataannya, Prabowo menekankan bahwa di saat dunia sedang membangun sekat melalui konflik dan fragmentasi ekonomi, Indonesia dan Rusia harus mengambil arah berbeda dengan membangun jembatan penghubung.
"Biarlah dikatakan tentang forum ini bahwa di musim ketika beberapa pihak lain sedang membangun tembok, kita membangun jembatan. Dan biarlah dikatakan tentang generasi kita bahwa di masa-masa sulit, kita memilih kerja sama, pembangunan untuk manfaat rakyat kita," pungkasnya. (H-3)


















































