Presiden Prabowo Subianto.(Dok. Antara)
PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia akan terus mengedepankan upaya perdamaian di tengah meningkatnya berbagai konflik global. Komitmen ini dijalankan dengan berpegang teguh pada politik luar negeri nonblok serta prinsip menjadi tetangga yang baik (good neighbor policy) bagi semua negara.
"Kita terus berusaha mendukung upaya-upaya perdamaian, demikian pula terhadap berbagai ketegangan di tempat lain," ujar Presiden Prabowo dalam pertemuan dengan pengusaha Kamar Dagang dan Industri (KADIN) pusat dan daerah seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7).
Situasi Geopolitik yang Rawan
Presiden menyoroti situasi geopolitik dunia saat ini yang dinilai semakin rawan akibat peperangan di berbagai kawasan. Ia mencontohkan perang di Ukraina yang berlangsung sejak 2022 dan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, sehingga berdampak signifikan pada sektor pangan dan energi global.
Selain Ukraina, ketegangan juga terus memanas di kawasan Timur Tengah, meliputi Gaza, Lebanon, dan Iran. Di lingkup regional Asia Tenggara, konflik internal di Myanmar serta dinamika hubungan antara Thailand dan Kamboja turut menjadi perhatian pemerintah Indonesia.
Prinsip Nonblok dan Tetangga Baik
Di tengah polarisasi dunia, Prabowo menegaskan Indonesia tidak akan bergabung dengan blok atau pakta militer mana pun. Strategi diplomasi Indonesia saat ini difokuskan pada upaya memperbaiki hubungan dengan seluruh negara tetangga melalui rekonsiliasi, termasuk dalam menyelesaikan sengketa perbatasan warisan kolonial.
"Politik luar negeri Indonesia sekarang adalah ingin menjadi tetangga yang baik. Our policy is the policy of the good neighbor, we want to be a good neighbor," tegasnya.
Sebagai negara terbesar di kawasan, Presiden menilai Indonesia harus memiliki sikap arif, sabar, dan tidak mudah terpancing provokasi. Indonesia juga konsisten menjaga hubungan baik dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, Rusia, Jepang, India, hingga Australia tanpa memihak.
Peran Mediator di Semenanjung Korea
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mengungkapkan bahwa saat berkunjung ke Seoul, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung meminta kesediaannya untuk berkunjung ke Korea Utara guna membuka ruang dialog. Presiden menyatakan kesiapannya jika peran tersebut memang diperlukan untuk membangun perdamaian.
"Saya menjawab, dengan hormat, apabila diminta, saya bersedia berangkat. Indonesia dianggap tidak mempunyai kepentingan mencampuri urusan dalam negeri negara mana pun. Itulah prinsip yang kita pegang teguh," ucapnya.
Pesan Persatuan dan Kewaspadaan
Menutup arahannya, Presiden mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk tetap waspada dan menjaga persatuan di tengah ketidakpastian global. Ia meminta masyarakat untuk tidak larut dalam kepanikan, namun tetap bertindak dengan bijaksana.
"Situasi global sangat rawan. Namun tidak ada gunanya kita panik atau ketakutan. Yang penting, kita harus lebih sadar. Dalam bertindak, berkata, dan bertutur kata harus dengan kearifan dan kebaikan," pungkas Presiden. (Ant/H-3)


















































