Profesor Lee Gyu-tag menilai keputusan BTS absen dari Grammy Awards.(Dok. The Korea Times)
KEPUTUSAN BTS untuk tidak mendaftarkan karya mereka ke Grammy Awards ke-69 dinilai bukan sekadar penolakan terhadap sebuah penghargaan, melainkan bentuk tantangan terhadap sistem musik global yang masih memisahkan artis Barat dan non-Barat.
Lee Gyu-tag, profesor studi budaya di George Mason University Korea, menilai langkah BTS menunjukkan perubahan posisi grup tersebut dalam industri musik internasional. Menurutnya, BTS kini telah berada pada level sebagai musisi global yang tidak lagi bergantung pada pengakuan dari institusi penghargaan seperti Grammy.
“Bagi BTS yang sudah menempati posisi musisi global, tidak ada alasan lagi untuk terpaku pada pengakuan Grammy yang memisahkan mereka dari panggung utama,” ujar Lee.
Menurut Lee, keputusan BTS dapat dibaca sebagai kritik terhadap kecenderungan industri musik Barat yang masih mengelompokkan karya berdasarkan wilayah dan bahasa. Pemisahan tersebut, kata dia, berpotensi menciptakan batas antara musik arus utama dan musik dari luar pasar Barat.
Pernyataan Lee muncul setelah Recording Academy memperkenalkan kategori baru untuk Grammy Awards ke-69, yakni Best Asian Pop Music Performance. Kategori tersebut ditujukan bagi karya yang berakar dari pasar Asia dan menggunakan bahasa Asia secara signifikan.
Meski BTS tidak secara langsung menyebut kategori baru tersebut sebagai alasan keputusan mereka, langkah tidak mendaftarkan karya tahun ini dianggap berkaitan dengan kebijakan tersebut.
Melalui pernyataan bersama di akun Instagram pribadi mereka, ketujuh anggota BTS menyampaikan harapan agar musik dapat diterima tanpa batasan wilayah maupun bahasa. Mereka menekankan bahwa karya seni seharusnya tidak “disekat” berdasarkan identitas geografis.
Bagi Lee, sikap BTS memperlihatkan bahwa grup tersebut tidak lagi berada dalam posisi sebagai pendatang yang mengejar validasi dari industri musik Barat. Setelah meraih pengaruh global dan tampil di berbagai panggung internasional, BTS dianggap telah memiliki kekuatan untuk mempertanyakan sistem yang selama ini menjadi tolok ukur kesuksesan musisi.
Sebelumnya, BTS memang menjadikan Grammy sebagai salah satu target terbesar dalam karier mereka. Pada periode 2021 hingga 2023, grup asal Korea Selatan itu mengoleksi lima nominasi Grammy melalui lagu-lagu seperti “Dynamite” dan “Butter”, namun belum berhasil memenangkan penghargaan tersebut.
Kini, keputusan BTS justru memunculkan diskusi yang lebih luas mengenai posisi musik Asia di industri global. Bagi Lee, langkah tersebut menjadi simbol bahwa musisi non-Barat tidak lagi hanya mengejar pengakuan dari panggung internasional, tetapi juga mulai mempertanyakan aturan dan kategori yang membentuk panggung tersebut. (The Korea Times/Z-10)


















































