Rebana Berbunyi, Tradisi Tak Pergi

9 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tabuhan rebana berdentum berirama di antara gema takbir dan lantunan shalawat, memecah senja Bulan Ramadhan di pelataran Masjid Raya Alfatah, Kota Ambon. Di bawah langit yang mulai temaram menjelang Magrib, puluhan pemuda berdiri dalam barisan rapi. Langkah kaki mereka bergerak serempak, tubuh bergoyang mengikuti irama rebana, sementara nyanyian samrah mengalir ritmis, seolah menjadi penanda waktu yang perlahan mendekati saat berbuka.

Di sekeliling pelataran, warga berkerumun membentuk lingkaran. Anak-anak, orang tua, hingga para remaja menyaksikan dengan mata berbinar. Sesekali sorakan kecil pecah dari kerumunan ketika gerakan para penari kian bersemangat. Beberapa penonton maju mendekat, menyelipkan uang kertas pecahan Rp50 ribu hingga Rp100 ribu ke tangan para penari yang tetap bergerak mengikuti irama. Saweran itu bukan sekadar pemberian, melainkan bentuk penghargaan bagi para pemuda yang menjaga tradisi ini tetap hidup.

Di tengah arus modernisasi yang kian deras dan perubahan gaya hidup generasi muda, sejumlah tradisi lokal di Maluku terus berusaha bertahan. Samrah, tarian bernuansa Islam yang diiringi rebana dan melodi Timur Tengah, menjadi salah satunya. Lebih dari sekadar hiburan, kesenian yang dimainkan secara berkelompok ini telah lama menjadi ruang ekspresi bagi pemuda sekaligus simbol kebersamaan masyarakat Muslim Maluku. Setiap Ramadhan, menjelang Idul Fitri, hingga berbagai perayaan keagamaan lainnya, samrah kembali hadir di pelataran masjid dan ruang-ruang publik. Di sanalah para pemuda menari, bernyanyi, dan menjaga denyut tradisi, membiarkan irama rebana terus menggema dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jejak samrah di Maluku dipercaya berakar dari tradisi Timur Tengah yang dibawa oleh para pedagang Arab dan ulama pada masa lalu. Seiring perjalanan waktu, kesenian tersebut berbaur dengan budaya lokal dan berkembang menjadi bentuk seni pertunjukan yang khas. Di Maluku, samrah biasanya dibawakan secara berkelompok oleh puluhan pemuda yang mengenakan baju koko putih, sarung, dan sepatu. Mereka menari mengikuti irama rebana dan nyanyian bernuansa religi, dengan gerakan yang kompak dan penuh semangat.

Bukan Sekadar Tarian

Bagi sebagian pemuda Maluku, samrah bukan sekadar tarian. Tradisi ini telah lama hidup dalam berbagai perayaan masyarakat dan menjadi bagian dari identitas budaya Islam di wilayah tersebut. Komunitas budaya asal Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, Wandan Kultur, misalnya, secara rutin menampilkan tari samrah untuk menghibur warga pada bulan Ramadhan.

Salah satu pegiat samrah Wandan Kultur, Muhammad Taher Salamun, menjelaskan bahwa samrah telah menjadi bagian dari kehidupan generasi muda, khususnya dari Kepulauan Kei. Tarian tersebut dimanfaatkan sebagai sarana mengasah kreativitas pemuda sekaligus membantu kegiatan sosial masyarakat. Dalam berbagai kesempatan, kelompok tersebut bahkan melibatkan puluhan hingga ratusan pemuda lintas iman untuk menari bersama. Para penari bergerak serempak, menciptakan harmoni yang memikat perhatian penonton.

Di sela-sela pertunjukan, beberapa warga biasanya maju memberikan saweran berupa uang kertas kepada para penari. Saweran itu bukan sekadar simbol apresiasi, tetapi juga sering dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sosial komunitas, seperti penggalangan dana pembangunan masjid atau kegiatan kepemudaan di kampung-kampung. Setiap pertunjukan samrah selalu dipadati warga, dan jalan-jalan utama di pusat Kota Ambon pun kerap berubah menjadi panggung terbuka ketika para pemuda menari bersama di tengah kerumunan masyarakat.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |