Rekor Baru Musim Badai Atlantik: Fenomena Super El Nino Redam Badai Tropis

1 week ago 27
 Fenomena Super El Nino Redam Badai Tropis Ilustrasi(NOAA)

REKOR baru dalam sejarah musim badai diperkirakan akan tercipta pekan ini. Fenomena El Nino yang historis dan terus menguat memicu penurunan drastis aktivitas badai tropis di wilayah Samudra Atlantik.

Hingga saat ini, belum ada satu pun badai (hurricane) yang terbentuk di cekungan Atlantik, meskipun pekan ini telah memasuki puncak rata-rata musim badai. Tanpa adanya tanda-tanda perkembangan badai dalam waktu dekat, periode ini berpotensi mencatatkan rekor waktu terlama tanpa kemunculan badai Atlantik di era satelit (sejak 1960-an).

Sebelumnya, rekor tanggal terlama tanpa pembentukan badai di Atlantik jatuh pada 11 September, yang dicatatkan pada tahun 2002 dan 2013.

Pada musim normal, wilayah Atlantik biasanya telah mencatatkan delapan badai tropis bernama dan tiga badai utama pada titik ini. Namun, sepanjang tahun ini baru tercatat lima badai tropis, yaitu Arthur, Bertha, Cristobal, Dolly, dan Edouard.

Kontras di Pasifik Timur dan Ancaman Badai Lowell

Kondisi sebaliknya terjadi di Samudra Pasifik Timur, di mana El Nino cenderung meningkatkan intensitas badai. Wilayah ini mencatatkan musim yang tergolong cukup aktif.

Sejauh ini telah terbentuk 13 badai bernama di Pasifik Timur, termasuk lima badai besar yang tiga di antaranya berkategori utama. Angka tersebut sudah mendekati jumlah rata-rata pembentukan badai sepanjang satu musim penuh. Badai utama terbaru, Badai Lowell, menghantam Hawaii pekan ini dengan membawa angin kencang yang merusak, hujan banjir, serta gelombang tinggi.

Dampak Super El Nino dan Debu Sahara

Para prakirawan cuaca sejak awal telah memprediksi musim badai Atlantik akan lebih tenang dari biasanya. Pada bulan Mei, National Hurricane Center memproyeksikan total delapan hingga 14 badai bernama, dengan tiga hingga enam di antaranya menjadi badai utama.

Penyebab utama dari penurunan aktivitas ini adalah El Nino, yakni fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik tropis yang mengganggu pola cuaca global.

Pada musim badai Atlantik yang dipengaruhi El Nino, angin lapisan atas di atas Atlantik meningkat dan memicu geser angin (wind shear) yang tinggi. Perubahan kecepatan angin secara mendadak terhadap ketinggian ini memecah kumpulan awan badai, sehingga mencegahnya berkembang menjadi badai tropis atau badai utama.

National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebut El Nino tahun ini berpotensi menjadi fenomena "historis" yang melampaui kekuatan El Nino sebelumnya sejak 1950, dengan puncak kekuatan diperkirakan terjadi pada November atau Desember.

Selain faktor El Nino, sebaran debu dari Gurun Sahara turut menekan pertumbuhan badai. Angin kencang membawa debu dan pasir Sahara sejauh ribuan mil melintasi Atlantik. Lapisan udara yang kering dan berdebu ini menghambat perkembangan badai tropis, dan kondisi tenang ini diproyeksikan masih akan bertahan setidaknya hingga pekan depan sebelum musim badai Atlantik berakhir pada 30 November. (AFP/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |