Riset Kaspersky: Generasi Z Paling Aktif Online Tapi Minim Perlindungan Siber

4 days ago 2
 Generasi Z Paling Aktif Online Tapi Minim Perlindungan Siber Ilustrasi(magnific)

GENERASI Z (Gen Z) dikenal sebagai generasi yang paling fasih dengan dunia digital. Namun, penelitian terbaru dari pusat riset pasar internal Kaspersky mengungkapkan fakta yang kontradiktif: meskipun menghabiskan lebih banyak waktu online dan merasa percaya diri, mereka justru paling abai terhadap keamanan perangkat seluler dibandingkan generasi lainnya.

Berdasarkan survei terhadap 7.200 responden di seluruh dunia pada Maret 2026, sebanyak 57% Gen Z mengaku menghabiskan lebih banyak waktu di dunia maya daripada offline.

Angka ini merupakan proporsi tertinggi di antara semua generasi. Ponsel pintar menjadi pusat kehidupan mereka, dengan 67% responden menjadikannya perangkat utama untuk mengakses internet.

Kesenjangan Kepercayaan Diri dan Keahlian

Konektivitas yang konstan ini memicu rasa percaya diri yang tinggi. Sekitar 59% responden Gen Z merasa nyaman di lingkungan digital. Namun, rasa nyaman ini tidak dibarengi dengan kompetensi teknis yang memadai. Hanya 28% dari mereka yang percaya bahwa keterampilan digital mereka sudah berada di level lanjut.

Kesenjangan ini berdampak pada minimnya tindakan perlindungan. Gen Z tercatat jarang mengganti kata sandi dan sangat sedikit yang membentengi ponsel mereka dengan perangkat lunak keamanan.

Indikator Perilaku & Dampak Siber Gen Z Persentase (%)
Menghabiskan waktu online lebih banyak dari offline 57%
Menggunakan ponsel pintar sebagai perangkat utama 67%
Menggunakan antivirus di perangkat seluler 27%
Rutin melakukan pencadangan (backup) data ponsel 28%
Pernah mengalami serangan siber (akun/data/perangkat) 52%

Data Berharga dalam Risiko Besar

Ironisnya, ponsel pintar milik Gen Z menyimpan data yang sangat mereka hargai. Sebanyak 38% responden menganggap foto dan dokumen pribadi sebagai aset digital paling penting, diikuti oleh kata sandi dan kredensial login (30%).

Kelalaian dalam melindungi perangkat ini telah memicu konsekuensi nyata. Lebih dari separuh Gen Z (52%) melaporkan pernah menjadi korban serangan siber. Secara spesifik, 17% mengalami peretasan akun media sosial dan 12% kehilangan akses ke akun game mereka.

Irina Ermilova, Wakil Presiden Manajemen Produk Konsumen di Kaspersky, menekankan bahwa keakraban dengan teknologi tidak sama dengan keahlian keamanan. "Mampu menavigasi aplikasi dengan percaya diri tidak berarti mampu mengidentifikasi penipuan atau mengelola kata sandi dengan aman. Kebiasaan keamanan siber harus menjadi bagian alami dari kehidupan sehari-hari seperti halnya berkirim pesan," ujarnya.

Langkah Mitigasi dan Edukasi Interaktif

Untuk menekan risiko ini, Kaspersky merekomendasikan tiga langkah utama bagi pengguna digital:

  • Solusi Keamanan Komprehensif: Menggunakan perlindungan seperti Kaspersky Premium yang mencakup perangkat seluler dan desktop dari ancaman phishing serta malware.
  • Manajemen Kata Sandi: Memanfaatkan alat seperti Kaspersky Password Manager untuk membuat dan menyimpan kata sandi unik guna mencegah efek domino saat terjadi kebocoran data.
  • Privasi Wi-Fi: Menggunakan VPN saat terhubung ke jaringan publik di kafe atau universitas untuk mengenkripsi lalu lintas data.

Sebagai upaya edukasi yang menyasar karakteristik Gen Z, Kaspersky juga meluncurkan game online interaktif bertajuk “Case 404”. Melalui petualangan detektif siber ini, pemain diajak mengenali taktik pengambilalihan akun dan penipuan digital dengan cara yang menyenangkan namun tetap edukatif.

Tentang Studi: Dilakukan pada Maret 2026 melibatkan 7.200 responden dari 18 negara, termasuk Indonesia, Brasil, Tiongkok, hingga Arab Saudi.

(Z-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |