Rupiah Dibuka Stagnan, Dolar AS Bertahan di Rp17.190

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini, Senin (27/4/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengawali perdagangan tidak bergerak dari posisi penutupan sebelumnya, yakni di level Rp17.190/US$. Pergerakan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Jumat (24/4/2026), rupiah berhasil ditutup menguat tajam 0,52% ke level Rp17.190/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah tipis 0,04% ke level 98,492.

Pergerakan rupiah pada hari ini diperkirakan masih akan banyak dipengaruhi sentimen eksternal, terutama arah dolar AS di pasar global. Meski rupiah dibuka menguat, ruang volatilitas masih terbuka karena investor masih mencermati perkembangan perang di Timur Tengah.

Dolar AS sendiri memulai perdagangan awal pekan dengan kecenderungan lebih kuat setelah harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran kembali memudar.

Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana kunjungan utusannya ke Islamabad pada akhir pekan lalu. Trump menyatakan Iran dapat menghubungi AS jika ingin bernegosiasi untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung sekitar dua bulan. Sikap ini membuat pelaku pasar kembali berhati-hati, apalagi Selat Hormuz masih efektif tertutup.

Sebagai catatan, dolar AS sempat diuntungkan oleh aliran dana ke safe haven aset ketika perang AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari. Namun, sebagian penguatan itu memudar pada April setelah muncul harapan adanya kesepakatan damai. Dalam beberapa hari terakhir, dolar AS kembali cenderung stabil seiring mandeknya pembicaraan AS-Iran.

Meski gencatan senjata sempat meredam pertempuran, belum ada kesepakatan final untuk mengakhiri perang. Kondisi ini membuat pelaku pasar global masih berhati-hati dan berpotensi menjaga permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.

Dinamika dolar AS tersebut penting bagi rupiah. Ketika dolar kembali diburu investor global, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, biasanya akan lebih rentan tertekan. Sebaliknya, jika dolar melemah, ruang penguatan rupiah bisa terbuka lebih lebar.

Selain perang Timur Tengah, fokus pasar pekan ini juga tertuju pada agenda bank sentral utama dunia. Investor akan mencermati bagaimana para pembuat kebijakan melihat dampak perang terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan arah suku bunga.

Bank of Japan (BoJ) diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga pada Selasa pekan ini, tetapi pasar menunggu sinyal apakah kenaikan suku bunga dapat dilakukan secepatnya pada Juni.

Sementara itu, Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of England (BoE) juga diperkirakan akan menahan suku bunga. Namun, pelaku pasar tetap menanti pandangan terbaru mereka mengenai dampak perang terhadap ekonomi dan arah kebijakan moneter ke depan.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) telah lebih dulu mengambil keputusan pada pekan lalu. BI kembali menahan BI Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG). Keputusan tersebut menunjukkan BI masih berhati-hati di tengah tekanan rupiah, ketidakpastian global, dan risiko inflasi akibat gejolak harga energi.

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |